AMBON, Siwalimanews – Sejumlah Kepala Daerah tidak hadir dalam pembahasan kebutuÂhan infrastruktur dan perhubungan di Maluku bersama pimpinan dan anggota Komisi V DPR RI.
Rapat koordinasi yang berlangÂsung di Lantai 6 Kantor Gubernur MaÂluku ini dipimpin langsung SekÂretaris Daerah Provinsi Maluku, Sadli Le dan dihadiri langsung WaÂkil Ketua Komisi V DPR RI, Roberth Rouw serta para pimpinan lembaga vertikal yang bermitra dengan Komisi V, Senin (19/12) malam.
Pantauan Siwalima, para kepala yang hadir dan menyampaikan langÂsung usulan kebutuhan infraÂstruktur daerah diantaranya, Walikota Ambon Bodewin WattiÂmena, Bupati Maluku Tenggara TaÂher Hanubun, Bupati Buru Selatan, Safitri Malik Solisa, Penjabat Seram Bagian Barat, Andi Candra Sa’aduÂddin dan wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Aru Muin Sogalrey.
Sedangkan untuk kabupaten dan kota lainnya tidak nampak batang hidungnya tetapi diwakili oleh sekretaris daerah dan Kepala Dinas yang berhubungan langsung dengan infrastruktur dan perhuÂbungan.
Merespon hal ini, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Sadli Ie mengatakan, mestinya dalam agenda yang penting seperti ini harus dihadiri langsung oleh kepala daerah agar kebutuhan masyarakat dapat disampaikan langsung kepada Komisi V agar diintervensi dengan APBN.
“Sebenarnya atensinya harus hadir dan atensi pak Robert untuk kita saling menghargai cuma kita memang memahami kondisi konektivitas mungkin tidak hadir karena full set,” ujar Sadli.
Sadli pun berharap kepada seÂluruh bupati dan walikota agar ketika ada agenda perjuangan kebutuhan masyarakat di masing-masing daerah dapat hadir guna memaksimalkan perjuangan pemÂbangunan di Maluku.
Apresiasi
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku, SaoÂdah Tethool memberikan apreÂsiasi kepada pimpinan dan angÂgota Komisi V DPR RI yang berkeÂsempatan melihat langsung konÂdisi terkini persoalan infrastruktur dan perhubungan di Maluku.
Kata Saodah, dalam rangkaian kunjungan Komisi V DPR telah mengunjungi sejumlah tempat di Pulau Ambon dan mendengar keÂluhan masyarakat serta pemeÂrintah kabupaten dan kota dianÂtaranya masalah rumah tidak layak huni di Tulehu akibat bencana gempa tahun 2019.
Selain itu, pelabuhan Tulehu juga tidak luput dari pantauan Komisi V DPR dimana berdaÂsarÂkan pantauan ternyata pelayanan di pelabuhan Tulehu telah berjalan maksimal, namun untuk pelaÂyanan di pelabuhan Yos Sudarso membutuhkan pembenahan.
“Kita memberikan apresiasi kepada komisi V yang sudah melihat persoalan di Maluku dan untuk pelabuhan Tulehu cukup baik, tetapi yang harus ada perÂbaikan itu pelabuhan Yos Sudarso sebab pelayanan khususnya kapal putih kepada masyatetap, kasihan tidak manusiawi sesuai paparan walikota,” ujar Saodah kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (20/12).
Menurutnya, infrastruktur dan perhubungan di setiap kabupaten dan kota masih menjadi skala prioritas dalam perjuangan, walaupun anggaran tahun 2203 sudah diketok oleh DPR tetapi semua persolaan yang dikeluhkan akan diperjuangkan pada 2024, lagipula perencaan anggaran tahun 2024 dimulai sejak Januari 2023.
Selain itu, dengan kondisi APBD Provinsi Maluku sebesar Rp3,2 triliun tidak akan mampu untuk menuntaskan seluruh persoalan di Maluku makanya Pemerintah Daerah membutuhkan bantuan Pemerintah Pusat.
“Kondisi Maluku dengan APBD Rp3,2 triliun tidak mampu untuk bangun Maluku apalagi letak geografis yang merupakan daerah kepulauan, tidak mampu dengan APBD kalau tidak dibarengi dengan bantuan Pemerintah Pusat, jadi kita optimis Komisi V akan berjuang untuk Maluku,” cetusnya. (S-20)