AMBON, Siwalima.id - Badan Pusat Statistik Kota Ambon menyebutkan, angka kemiskinan dan pengangguran di Kota Ambon menunjukkan trend penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Tingkat kemiskinan di Kota Ambon pada tahun 2025, sudah berada dibawah 5 persen, atau sekitar 4 hingga 4,3 persen dari total penduduk.
“Ini artinya, kurang dari 5 persen penduduk Kota Ambon berada di bawah garis kemiskinan,” jelas Kepala BPS Kota Ambon, Pauline Gaspersz kepada Siwalima.id melalui telepon selulernya, Sabtu( 28/3).
Menurutnya, pengukuran kemiskinan dilakukan berdasarkan garis kemiskinan yang dihitung dari kebutuhan konsumsi makanan dan non makanan, dimana untuk kebutuhan makanan, standar yang digunakan adalah 2.100 kalori per orang per hari, sesuai ketentuan gizi.
Sementara kebutuhan non makanan mencakup pengeluaran dasar seperti, perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Dari hasil survei, kedua komponen tersebut kemudian dijumlahkan menjadi garis kemiskinan.
“Untuk Kota Ambon, garis kemiskinan berada di atas Rp700 ribu per orang per bulan,” beber Gaspersz.
Penentuan status miskin kata Gaspersz, dilakukan dengan menghitung rata-rata pengeluaran rumah tangga per anggota keluarga. Jika angka tersebut berada di bawah garis kemiskinan, maka rumah tangga tersebut dikategorikan miskin.
Di sisi lain, kemiskinan tidak selalu berkaitan langsung dengan pengangguran. Hal ini karena dalam konsep ketenagakerjaan, seseorang tetap dikategorikan bekerja meskipun tidak memiliki penghasilan tetap atau bekerja di sektor informal.
“Orang yang membantu orang tua, menjaga kebun, atau bekerja harian meskipun tidak digaji tetap dihitung bekerja,” cetus Gaspersz.
Kondisi ini lanjut Gaspersz, membuat seseorang tetap tercatat sebagai pekerja, meskipun berpotensi masuk kategori miskin karena pendapatannya rendah.
“Jadi, kemiskinan dan pengangguran tidak selalu beriringan secara langsung,” papar Gaspersz.
Meski demikian ia menilai, penurunan angka kemiskinan dan pengangguran menjadi indikator awal, bahwa program penanggulangan yang dijalankan pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun daerah, berjalan efektif.
“Kalau angkanya turun, berarti program yang dilakukan cukup efektif, walaupun masih menjadi pekerjaan rumah karena angka kemiskinan dan pengangguran belum nol,” tandas Gaspersz.
Penilaian keberhasilan program tambah Gaspersz, tidak bisa dilihat secara hitam-putih, meski ada penurunan, namun tantangan tetap ada, karena dinamika penduduk di Kota Ambon yang cukup tinggi.
Pergerakan penduduk sangat dinamis, karena Ambon menjadi pintu masuk dan keluar di Maluku. Ini juga mempengaruhi kondisi kemiskinan dan ketenagakerjaan.
Selain itu, faktor pertumbuhan ekonomi juga turut berpengaruh. Pada tahun 2025, ekonomi Kota Ambon tercatat tumbuh sebesar 4,87 persen, meskipun lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 5,96 persen.
“Walaupun melambat, ekonomi tetap tumbuh dan ini berkontribusi dalam penurunan kemiskinan dan pengangguran,” ucap Gaspersz.
BPS berharap, trend positif ini dapat terus berlanjut, meskipun diakui bahwa mencapai angka nol untuk kemiskinan dan pengangguran, merupakan tantangan besar karena dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan ekonomi.(Mg-1)