SIWALIMA.id > Berita
Saatnya Pulang ke Pancasila
Opini | Rabu, 3 September 2025 pukul 22:26 WIT

HARI-HARI ini kita sedang diuji oleh adanya krisis multidimensi: perubahan iklim, ketimpangan ekonomi nasional dan global, deindustrialisasi dan pelemahan daya beli, hingga krisis kepercayaan pada politik. Absennya keadilan sosial menyulut demonstrasi seantero negeri. Saatnya kembali ke Pancasila untuk refleksi sekaligus navigasi di masa kini dan nanti.

PAMALI MENGABAIKAN KEADILAN SOSIAL DAN KEMANUSIAAN

Kecerdasan buatan (AI) saat ini digadang-gadang sebagai mesin masa depan, tapi ada batas yang tidak bisa ditembus AI, yaitu kecerdasan spiritual (SQ) dalam Pancasila. AI tidak memiliki kesadaran moral ka­rena bukan penghubung ke Tuhan, sang sumber ke­berlimpahan. Karena itu, meninggalkan Pancasila se­perti meninggalkan Tuhan, lahirlah ketimpangan, ke­miskinan, dan ketidakadilan sosial.

SQ adalah kecerdasan yang menjanjikan keber­lim­pahan sebagaimana sifat-sifat Allah: kasih, rah­mat, keadilan, dan kebijaksanaan. SQ juga menjadi pin­tu ke UQ (<i>universal quotient), yaitu keter­hu­bungan dengan kecerdasan semesta yang Ilahiah. Dengan SQ, manusia dapat menjadi ‘proksi Allah’–wakil yang menjaga bumi, memerangi KKN, dan menebar rahmat bagi semesta sebagaimana ajaran semua agama.

Jika bangsa Indonesia berhasil menghidupkan kecerdasan emosi (emotional quotient/EQ) dan SQ, kita punya modal kuat melakukan lompatan jauh ke depan mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Dengan EQ dan SQ, kita bisa meningkatkan integritas, empati, dan keadilan sosial–nilai yang tidak bisa diprog­ramkan ke dalam mesin.

Pancasila adalah rumah besar bangsa sekaligus kepribadian manusia Indonesia paripurna. Karena itu, pulang ke Pancasila berarti kembali ke dalam diri, ke kepribadian yang ekosentris pro keadilan so­sial/kesejahteraan umum meninggalkan pribadi egosentris yang biasanya arogant dan memenang­kan kepentingan pribadi.

Ketika setiap warga negara mempraktikkan Pan­casila sebagai kecerdasan hidup, mereka akan menyebar cinta, welas asih, dan kepedulian kepada mas­yarakat serta lingkungan. Transformasi mikro­kosmos (jagat alit) yang demikian akan mendorong transformasi makrokosmos (jagat gede) yang se­laras sehingga terwujudlah Indonesia sebagai ne­gara sejahtera. Sebaliknya, jika makrokosmos berisi ketimpangan, korupsi, arogansi dan kemiskinan akan berdampak pada rusaknya kebahagiaan in­dividu sehingga timbul keresahan sosial bahkan amuk masa.

‘Pulang ke Pancasila’ harus dilakukan secara kul­tural dan struktural. Pulang tidak hanya secara ideo­logis, tetapi juga spiritual dan eksistensial. Pulang ke Pancasila adalah pulang ke pribadi sejati yang universal, pribadi yang tidak menindas dan tidak mau ditindas, rendah hati dan pribadi yang pro keadilan sosial baik di tingkat nasional maupun global.

MULTIKECERDASAN DALAM PANCASILA

Psikologi modern mengenal spektrum kecer­dasan: intelektual (IQ), emosional (EQ), adversitas/ketang­­guhan (AQ), dan spiritual (SQ). Bahkan, dalam kajian transpersonal dan teori kesadaran, berkem­bang pula gagasan tentang kecerdasan universal (UQ), yaitu kecerdasan semesta yang bersifat ilahiah (Hawkins, 1995).

Menariknya, jika kita menafsirkan ulang sila-sila Pan­casila, setiap sila dapat dipetakan pada spektrum kecer­dasan yang lengkap. Sila pertama Pancasila mendorong SQ dan AQ yang menumbuhkan kesa­daran spiritual, relijiusitas, moralitas sekaligus ketang­guhan.

Pada sila kedua mendorong EQ dan SQ dengan membentuk empati, cinta kasih, kesetaraan, dan solidaritas sosial. Sementara itu, sila ketiga memupuk EQ, AQ, bahkan SQ karena mengajarkan nasionalisme, rasa kebangsaan, dan cinta tanah air.

Sila keempat terkait dengan IQ, EQ, dan SQ yang rasional, mencari hikmat musyawarah, dan kepemimpinan yang bijak. Sementara itu, sila kelima mendorong peningkatan IQ, EQ, AQ sekaligus SQ yang menuntut keseimbangan hidup, distribusi adil, dan harmoni sosial-ekologis.

Dengan demikian, Pancasila bukan sekadar kumpulan prinsip normatif, melainkan juga suatu arsitektur kecerdasan manusia Indonesia yang utuh. Ia menyatukan rasio, rasa, daya juang, dan kesadaran spiritual dalam satu kesatuan.

Kita prihatin IQ rata-rata rakyat yang menurut World Population Review (2024) berada di angka 93,2. Skor tes PISA (2022), dasar mengukur literasi dan kemampuan kognitif siswa Indonesia, menempatkan Indonesia di urutan 69 dari 80 negara. Namun, membangun bangsa tidak hanya ditentukan oleh IQ, tetapi juga AQ dan SQ yang justru menjadi modal besar Indonesia.

Sejarah mencatat, Indonesia mampu meraih kemerdekaan bukan karena teknologi canggih, melainkan karena keberanian dan ketangguhan (AQ), kesetaraan (EQ) dan spiritualitas kebangsaan (SQ). Para pendiri bangsa mempraktikkan kecer­dasan transenden: mengorbankan kepentingan diri demi kemaslahatan umum, berpikir ekosentris, bukan egosentris. Inilah Pancasila, yang menjadikan Indonesia bertahan karena keberagaman dan ketuhanan merupakan kekuatan.

Kekuatan spiritualitas (SQ) yang terkandung dalam Pancasila memberi fondasi bagi ketangguhan mental, ketangguhan sosial, dan orientasi hidup yang bermakna. Semakin tinggi SQ, semakin besar kita terkoneksi pada kecerdasan ilahiah atau universal quotient (UQ) yang merupakan sumber keberlimpahan, termasuk intelektual, emosional, finansial, dll.

Menurut The Global Flourishing Study (2025), Indonesia terpilih sebagai bangsa paling flourishing (tangguh) karena Pancasila dengan sila ketuhanan yang menjiwai seluruh sila dalam Pancasila. AQ tinggi itu merupakan modal luar biasa untuk dikembangkan demi mewujudkan kemanusiaan dan keadilan sosial.

AGENDA KE DEPAN

AQ tinggi saja terbukti tidak cukup membawa kita ke cita-cita keadilan sosial/kesejahteraan. AQ harus dinaikkan ke EQ dan SQ, sayangnya hal itu tidak cukup dengan menghafal sila-sila Pancasila. Kita perlu menginternalisasi multi kecerdasan Pancasila dalam pendidikan, politik, dan pembangunan. Artinya, di pendidikan kurikulumnya tidak boleh didesain semata untuk meningkatkan IQ, tetapi juga melatih EQ, AQ, dan SQ.

Politik juga tidak boleh sekadar mengejar kekuasaan, tetapi harus menumbuhkan integritas dan pelayanan. Pembangunan ekonomi tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan ekologis dan keadilan sosial. Demikian juga APBN, tidak boleh semata demi pertumbuhan, tetapi demi keadilan sosial.

Kita semua membutuhkan bukti ber-Pancasila bukan hanya jargon semata. Komitmen moral saja tidak cukup, Pancasila hanya bisa diwujudkan dengan adanya komitmen politik dari semua elemen masyarakat, terutama pemerintah. Salah satunya kata dan perbuatan.

Indonesia akan bisa hadir di dunia bukan sekadar sebagai negara berkembang, melainkan sebagai teladan bangsa yang hidup dalam kecerdasan komplet. Kita sudah tunjukkan bisa mengelola keberagaman dengan welas asih, tetapi belum bisa membuktikan membangun kemajuan tanpa merusak bumi dan kemanusiaan.

Pancasila ialah wajah manusia Indonesia yang paripurna dan sejati: rasional sekaligus penuh welas asih, tangguh sekaligus spiritual. Bung Karno dan Hatta menyebut Pancasila sebagai jalan tengah, nasionalisme religius yang harusnya menjadi arah baru peradaban, yaitu peradaban yang berbasis multikecerdasan, dengan SQ sebagai inti yang menghubungkan manusia pada Tuhan dan semesta.

Pulang ke Pancasila berarti pulang ke rumah yang menghidupkan semua potensi manusia agar mampu mewujudkan kemanusiaan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat serta menjadi rahmat bagi semesta. Jika Pancasila dipraktikkan dengan sungguh-sungguh, Pancasila menjadi rumah kebahagiaan bangsa dan dunia.Oleh: Eva K Sundari Institut Sarinah.(*)

BERITA TERKAIT