WAKIL Walikota Ambon, Ely Toisutta, mewakili Walikota Ambon dalam kegiatan pelatihan petugas Sensus Ekonomi 2026 di Amaris Hotel, Selasa (2/6), me-negaskan pentingnya kualitas data sebagai dasar utama penyusunan kebijakan pembangunan daerah maupun nasional.
Dalam sambutan Walikota yang dibacakannya, Ely menyampaikan, Sensus Ekonomi memiliki peran strategis karena memberikan gambaran kondisi dan struktur ekonomi Indonesia, termasuk Kota Ambon.
Menurutnya, data hasil sensus akan menjadi fondasi pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang digunakan sebagai indikator pertumbuhan ekonomi daerah.
“Data yang dihasilkan nantinya akan menjadi acuan dalam penyusunan berbagai kebijakan pembangunan, pengambilan keputusan strategis, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Ely.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil sensus ekonomi sebelumnya, struktur ekonomi Kota Ambon masih didominasi sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, sebagai sektor dengan jumlah usaha dan tenaga kerja terbanyak. Selain itu, sektor penyediaan akomodasi serta makan-minum juga memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah.
Berdasarkan distribusi PDRB Kota Ambon tahun 2025, sektor perdagangan masih menjadi penopang utama ekonomi daerah dengan kontribusi mencapai 21,98 persen.
Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, lanjut Ely, menghadirkan pembaruan data yang lebih rinci dan komprehensif melalui pene-rapan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) terbaru yang telah menyesuaikan perkembangan industri digital.
Profesi baru seperti content creator, influencer, hingga You Tuber yang sebelumnya belum terakomodasi secara spesifik kini menjadi bagian penting dalam pemetaan ekonomi daerah maupun nasional.
Selain memotret aktivitas ekonomi, sensus juga mendukung penyediaan data sosial ekonomi keluarga, meliputi kondisi perumahan hingga kepemilikan aset yang nantinya dimanfaatkan kementerian dan lembaga untuk klasifikasi penduduk serta perencanaan program pemerintah.
“Data yang dihasilkan akan sangat bermanfaat untuk mendukung penyusunan kebijakan pembangunan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta program penanganan kemiskinan yang tepat sasaran,” katanya.
Peserta pelatihan diingatkan bahwa tugas pendataan bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan tanggung jawab besar yang menentukan arah pembangunan bangsa dan daerah.
Peserta diminta memahami konsep, metodologi, tata cara pendataan, penggunaan aplikasi, hingga etika kerja lapangan agar mampu menjalankan tugas secara profesional.
Sementara itu, Kepala BPS Kota Ambon, Pauline Gaspersz, menjelaskan pelatihan dilaksanakan dalam dua gelombang dengan melibatkan 221 petugas lapangan, didukung 18 panitia dan lima instruktur daerah.
Menurut Pauline, kualitas data yang baik berawal dari pemahaman petugas terhadap konsep pendataan sejak masa pelatihan.
“Data berkualitas yang nantinya dipakai pemerintah untuk PDRB, perencanaan pembangunan hingga pengentasan kemiskinan itu dimulai dari pelatihan petugas. Karena setiap pertanyaan dalam sensus memiliki konsep dan batasan yang harus dipahami,” jelasnya.
Ia menekankan, kesalahan dalam memahami konsep maupun menginterpretasikan pertanyaan dapat memengaruhi jawaban responden dan berdampak pada kualitas data yang dikumpulkan.
Karena itu, seluruh peserta diminta mengikuti pelatihan secara serius agar mampu mengimplementasikan materi dengan baik saat bertugas di lapangan.
Pauline juga menegaskan pentingnya integritas petugas pendataan. Ia mengingatkan agar petugas tidak melakukan manipulasi data dalam bentuk apa pun. “Petugas harus jujur dan berintegritas. Jangan membuat-buat data, jangan mengubah data. Kalau ada yang belum jelas, tanyakan kepada responden atau pengawas. Manipulasi data itu haram hukumnya di BPS,” tegasnya. (S-30)