SIWALIMA.id > Berita
Hartini Ngaku Diperas, Hingga Terlilit Utang Miliaran
Hukum | Rabu, 8 April 2026 pukul 11:17 WIT

AMBON, Siwalima.id - Hj Hartini akhirnya secara terbuka dan keras menyikapi kasus dugaan peredaran sianida yang menyeret namanya. 

Ia mengaku menjadi korban tekanan, pemerasan, hingga harus menanggung utang miliaran rupiah yang kini menghancurkan kehidupannya.

Hartini menegaskan dirinya bukan pelaku, melainkan korban dari rangkaian peristiwa yang diduga melibatkan sejumlah pihak diantaranya Bripka Erik Risakotta yang diduga menjadi anak piaranya selama 17 tahun. 

“Saya ini hancur. Uang Rp 6,25 miliar itu saya keluarkan, sekarang jadi utang yang berlipat. Sampai hari ini uang saya tidak kembali,” tegas Hartini, kepada wartawan saat konferensi pers di Rumah Kopi Kayu Manis, Kota Ambon, Senin Malam (6/4). 

Hartini mengungkapkan, uang miliaran rupiah tersebut berasal dari kontrak emas saat harga masih sekitar Rp1,2 juta per gram. Namun karena belum mampu melunasi, utangnya kini melonjak mengikuti harga emas yang sudah menembus lebih dari Rp3 juta per gram.

“Utang saya sudah tiga kali lipat. Saya tidak bisa bayar karena uangnya ada di mereka,” ungkapnya.

Dampaknya, usaha yang ia jalankan ikut lumpuh total. Bahkan kehidupan keluarganya ikut terguncang.

“Saya sudah dua tahun tidak Lebaran dengan keluarga. Rumah tangga saya hancur karena masalah ini,” katanya dengan nada emosional.

Hartini juga mengaku, berulang kali diminta menyediakan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat.

Salah satunya, ia diminta menyediakan Rp 500 juta hanya dalam satu malam.

“Jam 10 malam saya diminta cari Rp 500 juta. Bagaimana caranya ? Saya harus pinjam sana sini dalam waktu satu jam,” ujarnya.

Ia bahkan harus mencari pinjaman ke beberapa bank demi memenuhi permintaan tersebut.

Saat tak lagi mampu memenuhi permintaan uang, Hartini mengaku mendapat tekanan.

Ia menyebut sempat diancam barang akan ditangkap kembali jika tidak memberikan uang tambahan.

“Saya bilang, silahkan tangkap, itu bukan barang saya. Saya cuma bantu,” tegasnya.

Dalam situasi tertentu, Hartini mengaku memilih diam karena takut.

Ia mengaku berada dalam posisi sendiri, sementara pihak lain lebih banyak dan memiliki kekuatan.

“Saya takut. Saya perempuan sendiri, mereka banyak,” ungkapnya.

Hartini juga melontarkan tudingan serius terkait barang bukti yang ditemukan di rukonya.

Ia menduga barang tersebut bukan miliknya, melainkan ditempatkan oleh pihak lain sebelum dilakukan penggerebekan.

“Barang itu bukan punya saya. Saya tidak tahu, tapi tiba-tiba ada dan dijadikan barang bukti,” katanya.

Dengan kondisi yang dialami­nya, Hartini menuntut keadilan dan meminta aparat penegak hukum bertindak objektif.

Ia berharap seluruh pihak yang terlibat diperiksa tanpa tebang pilih.

“Saya hanya mau keadilan. Uang saya kembali dan nama saya dibersihkan,” tegasnya (S-26)

BERITA TERKAIT