AMBON, Siwalima.id - Kasus kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan seorang pelajar perempuan (14) berinisial SKP mengalami luka berat setelah terlindas truk militer di Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Batu Merah, Kota Ambon, Jumat (6/3) sekitar pukul 18.30 WIT, justru terkesan dipaksakan diselesaikan secara kekeluargaan.
Kesepakatan tersebut tertuang dalam surat pernyataan yang ditandatangani pada Maret 2026 antara Wayber Pagaya selaku ayah korban, dan Sulaiman Laitupa, sopir truk yang melindas korban.
Dalam dokumen yang diterima Siwalima, Kamis (16/4) hanya dijelaskan, kecelakaan itu mengakibatkan korban mengalami luka di bagian pangkal paha sebelah kiri. Faktanya, selain mengalami patah tulang pada pangkal paha kiri, korban juga mengalami pendarahan hebat pada organ hati dan pembengkakan pada otak diduga akibat dilindas mobil truk.
Namun, ditengah proses penanganan medis, pihak Kodam XV Pattimura justru mendatangi orang tua korban, dan meminta agar mencabut laporan dan tidak melanjutkan ke proses hukum.
“Mereka menyampaikan permohonan maaf dan meminta suami untuk tanda tangan surat itu. Dengan kondisi yang anak masih kritis, kita tidak pikir apa-apa lagi, cuma kita berpegang bahwa pihak Kodam akan bertanggungjawab sampai pulih total,”ujar orang tua korban, Mariska Muskita, kepada Siwalima, di Ambon.
Namun kenyataannya, mereka hanya memberikan santunan awal, dan sampai perawatan 40 hari lebih, tidak ada perhatian ataupun bantuan pengobatan lanjutan dari pihak Kodam.
Justru pernyataan pihak Kodam dalam rilis mereka, berbeda dengan fakta jika dilihat dari CCTV yang diterima pihak keluarga.
“Dari rekaman CCTV yang kami peroleh menunjukkan bahwa kendaraan truk itu yang menyenggol sepeda motor yang ditumpangi anak kami. Dan itu bukan dari arah belakang, melainkan depan truk. Dan setelah menyenggol dan melindas anak kami, truk tersebut tidak berhenti. Sopir truk justru tetap melanjutkan perjalanan bersama rombongan,” ujar Mariska sebelumnya.
Keluarga berharap adanya pengobatan lanjutan hingga pulih total, rehabilitasi medis jangka panjang, pendampingan psikologis, jaminan pendidikan, dukungan masa depan korban.
Selain itu, keluarga juga meminta perhatian dari pihak penyedia layanan transportasi Maxim untuk meningkatkan perlindungan keselamatan penumpang serta memberikan dukungan tambahan bagi korban.
Peristiwa ini tidak hanya menjadi persoalan kecelakaan lalu lintas, tetapi juga menyangkut masa depan seorang anak yang kini tengah berjuang untuk pulih.
Keluarga berharap seluruh pihak dapat menunjukkan tanggung jawab bersama secara berkelanjutan agar masa depan korban tetap terjamin.
Menanggapi dinamika pemberitaan dan beredarnya rekaman CCTV di masyarakat, Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XV/Pattimura, Kolonel Inf Heri Krisdianto, memberikan klarifikasi resmi terkait insiden kecelakaan yang melibatkan kendaraan dinas TNI AD di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Ambon.
Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (6/3) sekitar pukul 18.30 WIT. Saat itu, konvoi truk TNI AD yang mengangkut calon siswa (casis) tengah melintas dengan pengawalan resmi Polisi Militer. Di depan kantor Jasa Raharja, sebuah sepeda motor ojek daring yang dikendarai JS (49) diduga mencoba masuk ke jalur konvoi dan bersenggolan dengan truk terakhir.
Akibat insiden tersebut, penumpang motor, Shakira Kerenpukh Pagaya (14), mengalami cedera serius di bagian panggul dan harus menjalani perawatan intensif.
Kapendam XV/Pattimura menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang timbul akibat beredarnya video CCTV. Ia menegaskan bahwa sejak awal, pihak Kodam berkomitmen untuk menangani peristiwa ini secara bertanggung jawab dengan mengedepankan pendekatan kemanusiaan.
“Kami memohon maaf atas kegaduhan yang terjadi. Empati masyarakat menjadi perhatian serius kami, dan setiap langkah yang diambil sejak hari pertama dilandasi niat tulus untuk membantu korban,” ujar Kolonel Heri.
Sebagai bentuk tanggung jawab, Kodam XV/Pattimura telah menyerahkan santunan sebesar Rp 25 juta kepada keluarga korban untuk meringankan beban awal. Selain itu, hingga hari ke-41 perawatan, pihak Kodam terus memantau perkembangan kondisi korban secara intensif.
Saat ini, kondisi Shakira dilaporkan mulai membaik pasca menjalani operasi di RSUP Leimena. Korban telah sadar penuh, mampu berkomunikasi, dan mulai menjalani latihan berjalan dalam proses pemulihan.
Dalam proses medis tersebut, dukungan juga datang dari prajurit TNI yang secara sukarela menyumbangkan puluhan kantong darah guna menunjang kelancaran operasi. Koordinasi intensif pun terus dilakukan antara Kakesdam XV/Pattimura dan tim dokter yang menangani korban.
Meski insiden ini dikategorikan sebagai musibah, sopir truk yang terlibat tetap menunjukkan itikad baik dengan membantu keluarga korban selama masa perawatan. Namun demikian, proses hukum tetap berjalan sesuai ketentuan. Sopir saat ini tengah diproses, sementara kendaraan truk masih diamankan di Pomdam XV/Pattimura sebagai barang bukti.
Kapendam menegaskan, pihaknya terbuka untuk terus berkoordinasi dengan keluarga korban guna memastikan seluruh proses pengobatan berjalan optimal.
“Kehadiran TNI AD dalam mengawal pemulihan ini adalah bentuk tanggung jawab kami. Kami tidak lepas tangan dan tetap mengedepankan sisi kemanusiaan,” tegasnya.
Di akhir keterangannya, Kapendam mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan objektif dalam menyikapi informasi yang beredar. Ia juga mengingatkan pentingnya mematuhi aturan lalu lintas, khususnya memberikan prioritas kepada kendaraan yang mendapat pengawalan resmi, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, demi keselamatan bersama.
Kendati demikian, pihak Kodam XV/Pattimura tidak memberikan keterangan resmi terkait dengan tudingan keluarga terhadap pencabutan laporan untuk tak diproses hukum. (S-10/S-25)