SIWALIMA.id > Berita
Kota Ambon Alami Inflasi Tertinggi di Maluku
Daerah | Rabu, 7 Januari 2026 pukul 14:00 WIT

AMBON, Siwalima.id - Sejumlah barang kebutuhan masyarakat naik tajam jelang akhir tahun 2025 atau memasuki hari Raya Natal dan Tahun Baru.

Badan pusat statistik mencatat naiknya harga barang menyebabkan inflasi yang cukup tinggi untuk Provinsi Maluku.

Pada Desember 2025 terjadi inflasi year on year (y-on-y) di Provinsi Maluku sebesar 3,58 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,82.

“Inflasi tertinggi terjadi di Kota Ambon sebesar 4,23 persen dengan IHK sebesar 111,73 dan terendah terjadi di Kabupaten Maluku Tengah sebesar 2,56 persen dengan IHK sebesar 109,46,” terang Kepala BPS Maluku, Maritje Pattiwaellapia dalam rilisnya kepada Siwalima, kemarin.

Ia menyebut Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 9 indeks kelompok pengeluaran yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 6,73 %, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 5,62 %.

Selanjutnya kelompok transportasi sebesar 3,90 %, kelompok kesehatan sebesar 3,38 %, kelompok pendidikan sebesar 2,49 %, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 2,16 % dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,34 persen.

Secara umum, perkembangan harga berbagai komoditas pada Desember 2025 dibandingkan Desember 2024 menunjukkan tren kenaikan.

Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Maluku di 3 kabupaten kota, pada Desember 2025 terjadi inflasi y-on-y sebesar 3,58 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,99 pada Desember 2024 menjadi 110,82 pada Desember 2025.

“Tingkat inflasi m-to-m sebesar 0,81 persen dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 3,58 persen,” ungkapnya.

Menurutnya, kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,39 % dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,09 %.

Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Desember 2025, antara lain emas perhiasan, ikan layang, ikan selar, tarif angkutan udara, cabai rawit, ikan tongkol, ikan tuna, sigaret kretek mesin (SKM).

Kemudian ada beras, bawang merah, wortel, minyak goreng, bensin, cabai merah, biaya akademi/perguruan tinggi, kopi bubuk, ikan cakalang, mobil, ketela pohon dan kue basah.

Sementara itu, komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi m-to-m pada Desember 2025, antara lain bawang merah, ikan selar, tarif angkutan udara, tomat, cabai rawit, cabai merah, bensin, labu siam, ikan tuna, emas perhiasan dan lainnya.

Ekspor Turun

Badan Pusat Statistik juga mencatat nilai ekspor Maluku pada Januari–November 2025 mencapai US$39,87 juta atau turun 31,94 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.

“Nilai ekspor nonmigas sebesar US$39,87 juta mengalami penurunan 10,13 persen,” kata Kepala BPS maluku Maritje Pattiwaellapia dalam rilisnya kepada Siwalima, kemarin.

Dijelaskan, ekspor Maluku November 2025 mencapai US$6,33 juta, turun 32,50 persen dibanding ekspor November 2024 senilai US$9,38 juta.

Ekspor nonmigas Januari–November 2025 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$36,47 juta, disusul Hongkong US$3,24 juta, dengan kontribusi keduanya mencapai 99,61 persen.

Sementara ekspor ke negara kawasan luar Asia yakni ke Amerika Serikat sebesar US$0,15 juta dengan kontribusi sebesar 0,39 persen.

Menurut pelabuhan muat, katanya, ekspor Maluku pada Januari–November 2025 dilakukan melalui Pelabuhan Yos Sudarso dengan nilai US$39,52 juta (99,14 %), diikuti Pelabuhan Tual senilai US$0,34 juta (0,86 %). “Nilai impor Maluku Januari-November 2025 mencapai US$306,03 juta atau turun 27,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun  sebelumnya,” tandasnya.

Kemudian untuk nilai impor Maluku November 2025 mencapai US$31,47 juta, naik 30,54 persen dibanding kondisi November 2024 senilai US$24,11 juta. Negara pemasok barang impor Maluku selama Januari-November 2025 adalah Singapura US$207,20 juta (67,71 %), Malaysia  US$94,26 juta (30,80 %) dan Tiongkok US$4,56 juta (1,49 %). “Impor dari ASEAN US$301,47 juta (98,51 persen) dan Asia  lainnya US$4,56 juta (1,49 %),” tandasnya. (S-09)

BERITA TERKAIT