AMBON, Siwalima.id - Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Sumber Hidup memprihatinkan, pasca 95 persen dokter spesialis mogok kerja, kondisi rumah sakit milik Sinode GPM ini semakin terancam.
Betapa tidak, pelayanan kesehatan di rumah sakit yang biasanya penuh, saat ini semakin minim pasien.
Pasien yang perlu penanganan operasi harus ditolak dan diminta untuk ke rumah sakit lain, dengan alasan dokter spesialis tidak ada di tempat.
Menyikapi hal itu, secara diam-diam pihak Sinode GPM menyusun strategi dengan melakukan rapat, Kamis (16/4) bersama pengurus Yayasan Kesehatan dan Plt Direktur RS Sumber Hidup, dr Thrifindana Abednego.
Pantauan Siwalima, rapat tersebut dipimpin Ketua MPH Sinode GPM, Pendeta Sacharias Izack Sapulette dihadiri pihak Yayasan Kesehatan, anggota MPH, dan Plt Direktur RS Sumber Hidup dr Thrifindana Abednego.
Terlihat rapat para penguasa RS Sumber Hidup ini sangat serius membahas persoalan yang diduga menyangkut kondisi rumah sakit milik lembaga GPM ini.
Kendati begitu, baik Ketua MPH Sinode maupun Plt Direktur RS Sumber Hidup memilih diam dan tidak mau memberikan keterangan apapun kepada media.
Salah satu staf dari Ketua MPH Sinode GPM kepada Siwalima mengaku, sang pimpinan GPM tersebut tidak dapat memberikan keterangan dengan alasan belum ada janji dengan media.
“Pak ketua seng bisa kasih keterangan, kalau bisa kasih nomor kontak saja nanti dihubungi,” ucap staf tersebut
Dari informasi yang diperoleh Siwalima, pihak Sinode bersama yayasan kesehatan menyusun strategi untuk melibatkan pihak ketiga dan bakal bekerja sama dengan Primaya Hospital
“Primaya Hospital Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Cikini, juga dikenal sebagai Rumah Sakit PGI Cikini atau Rumah Sakit Cikini, dan pihak sinode bersama yayasan akan kerja sama dan infonya tanggal 18, hari Sabtu besok ini,” ujar sumber yang meminta namanya tak dikorankan kepada Siwalima.
Sumber ini memastikan kerja sama itu bakal dilakukan untuk menyikapi kondisi rumah sakit saat ini.
Bahkan sumber lain juga menyebutkan, pihak Sinode dan yayasan sementara lobi-lobi dengan dokter spesialis lainnya.
Desak Copot
Menyikapi kondisi memprihatinkan di RS Sumber Hidup, Pengamat Kebijakan Publik Nataniel Elake mendesak, MPH Sinode mencopot dr Thrifindana Abednego dari jabatannya sebagai pelaksana tugas Direktur RS Sumber Hidup.
Abednego dinilai tak mampu mengelola manajemen rumah sakit. Itu terbukti dengan terdapat banyak hutang yang melilit rumah sakit tersebut, termasuk tunggakan pembayaran jasa para dokter sepesialis, sehingga membuat 95 persen dokter spesialis yang ada di rumah sakit ini memilih mogok kerja.
“MPH Sinode GPM harus ambil tindakan tegas dengan mencopot Plt direktur, karena terjadi kejadian ini membuktikan kalau dia tidak mampu mengelola manajemen rumah sakit,” tandas Elake saat diwawancarai Siwalima melalui telepon selulernya, Kamis (16/4).
Elake yang juga warga GPM ini menyayangkan sikap para pimpinan GPM yang memilih berdiam diri, melihat kondisi Rumah Sakit Sumber Hidup seperti ini.
Dia bilang, RS Sumber Hidup merupakan salah satu aset dan fasilitas kesehatan milik warga GPM yang dititipkan ke MPH Sinode dan dikelola oleh Yayasan Kesehatan GPM, maka pertangung jawabannya harus kepada warga GPM.
“Rumah sakit ini ada kan dengan tujuan kemanusiaan menyangkut dengan pelayanan kepada masyarakat bukan saja warga GPM, artinya dengan tidak tersedianya dokter spesialis di rumah sakit GPM itu, maka akan menghambat akses masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan,” tandas Elake.
Dalam kondisi seperti ini, menurut Elake, pihak MPH Sinode semestinya tidak boleh lamban, namun harus segera mengambil langkah-langkah terukur untuk menyelesaikan masalah ini, sebab jika tidak maka akan berdampak pada citra pelayanan rumah sakit.
Untuk itu, MPH Sinode tidak boleh berdiam diri dengan kondisi rumah sakit seperti ini, termasuk jika ada kebijakan yang ditempuh harus menyampaikan kepada publik sebagai bentuk transparansi pengelolaan rumah sakit.
“MPH Sinode dalam waktu sesingkat-singkatnya harus mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan masalah ini. Jangan cuma tinggal diam,” kecam Elake.
Elake menegaskan, jika permasalahannya menyangkut pembayaran jasa dokter dan anggaran yang dialokasikan untuk pembayaran jasa itu telah dibayarkan BPJS Kesehatan, dan pihak manajemen tidak membayarnya sesuai yang harus dibayarkan kepada para dokter spesialis ini, maka tindakan evaluatif harus dilakukan MPH Sinode terhadap direktur.
“Kalau memang uangnya ada karena BPJS sudah bayar dan tidak dibayar ke dokter spesialis, maka wajib hukumnya MPH Sinode mencopot direktur, karena dia tidak mampu kelola manajemen rumah sakit,” tegas Elake.
Elake menambahkan, jika MPH Sinode tidak berani mencopot Plt Direktur, maka secara perlahan-lahan MPH sementara mematikan rumah sakit kebanggaan warga GPM tersebut.
Apa yang disampaikan Elake ini juga sudah diutarakan warga GPM lainnya, namun pihak Sinode GPM lebih melindungi Plt Direktur sehingga tak mengubrisnya, namun memilih berdiam diri ditengah kondisi Rumah Sakit Sumber Hidup yang terancam.
Hal itu terbukti, dimana sejak mencuatnya persoalan aksi mogok dokter spesiilis di RS itu, sampai saat ini belum terlihat adanya kebijakan dari MPH Sinode GPM sebagai pemilik rumah sakit Sumber Hidup untuk menyelesaikan tuntutan dari para dokter spesialis tersebut.
Kedua tuntutan para dokter spesialis ini hanya berisi dua poin yakni pertama, Pembayaran jasa harus sampai dengan bulan Febuari 2026, sebab pihak BPJS Kesehatan sudah membayar ke RS Sumber Hidup sampai dengan bulan Febuari 2026.
Kedua, para dokter spesialis tetap pada pendirian minta Direktur RS Sumber Hidup dr Thrifindana Abednego, harus diturunkan dan kembali bekerja serta fokus sebagai ASN di puskesmas sesuai bidang tugasnya.
Sepi
Pantauan Siwalima di RS Sumber Hidup, Kamis (15/4) terlihat kondisi rumah sakit milik Sinode GPM ini sepi, lantaran jumlah pasien yang masuk di rumah sakit ini tidak sebanyak sebelum aksi mogok yang dilakukan para dokter spesialis.
“Pasien memang mengalami penurunan dan tidak sama beberapa bulan lalu,” ucap salah satu perawat RS Sumber Hidup yang minta namanya tidak dipublikasikan saat ditemui Siwalima.
Para perawat di rumah sakit ini juga kuatir, berkurangnya pasien pada rumah sakit ini akan berimbas pada gaji mereka, sebab beberapa bulan belakangan ini saja sebalum para dokter menyatakan sikap, gaji pegawai juga sudah dibayarkan tersendat-sendat.
“Kita ini kuatir jika para dokter spesialis ini tak berikan pelayanan pasti pasien tambah berkurang, yang ada saat ini hanya pasien penyakit dalam itupun sangat minim, ditambah lagi tak ada kegiatan operasi. Apalagi yang kami dengar itu hutang pihak ketiga seperti obata-obatan dan lainnya belum dibayar, ini yang buat kita kuatir,” ucapnya.(S-20/S-06)