SIWALIMA.id > Berita
Simatauw: Perikanan Jadi Penopang Ekonomi Daerah
Online | Rabu, 4 Februari 2026 pukul 20:22 WIT

AMBON, Siwalima.id – Sektor perikanan sampai saat ini, masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah, khususnya pada sub sektor perikanan tangkap, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan struktural maupun kondisi alam.

Hal itu terlihat dimana, sepanjang tahun 2025, produksi perikanan tangkap yang tercatat di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Rumah Lelang Arumbae mencapai 1.191.409 kilogram atau sekitar 1.191 ton.

“Produksi tersebut, bersumber dari sentra-sentra nelayan yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kota Ambon,” ungkap Kadis Perikanan Kota Ambon, Henly Simatauw kepada Siwalima.id di ruang kerjannya, Rabu (4/2).

Wilayah-wilayah sentra nelayan tersebut rinci Simatauw, meliputi, Kecamatan Teluk Ambon, yakni Negeri Laha dan Negeri Hative Besar, Kecamatan Teluk Ambon Baguala di Desa Passo, Kecamatan Nusaniwe yang mencakup Negeri Latuhalat, Urimessing dan Seilale, serta Kecamatan Leitimur Selatan yang meliputi Negeri Naku, Kilang, Hukurila, Leahari, Rutong dan Hutumuri.

Ia mengaku, aktivitas penangkapan ikan masih sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang berdampak langsung pada keselamatan nelayan. Selain faktor alam, kepastian akses bahan bakar minyak juga menjadi persoalan krusial dalam mendukung keberlanjutan usaha nelayan.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Dinas Perikanan Kota Ambon saat ini, tengah menyiapkan berbagai dokumen pendukung, seperti perizinan usaha, surat kepemilikan kapal, serta elektronik buku kapal perikanan (EBKP) sebagai syarat penerbitan rekomendasi BBM bagi nelayan.

“Dokumen-dokumen ini penting, agar nelayan memperoleh kepastian dan kemudahan akses BBM secara legal dan berkelanjutan,” ucap Simatauw.

Saat ini menurut Simatauw, jumlah nelayan Kota Ambon yang terdata dalam sistem Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (KUSUKA) mencapai 2.374 orang yang tergabung dalam 78 Kelompok Usaha Bersama (KUB). 

Mereka didukung oleh armada perikanan tangkap berupa 86 unit kapal purse seine berukuran 5-9 GT, 712 unit kapal pancing tonda berukuran 1,5 GT, serta 1.200 unit kapal gill net berukuran hingga 1 GT.

Selain itu, kebutuhan alat bantu tangkap berupa rumpon juga masih cukup tinggi. Namun demikian, pengaturannya memerlukan izin dari Dinas Perikanan Provinsi Maluku. 

“Sebagai ibu kota Provinsi Maluku, Kota Ambon memiliki posisi strategis sebagai pusat perdagangan ikan, baik untuk konsumsi lokal maupun perdagangan antar pulau, dengan dukungan suplai ikan dari wilayah Seram, Banda, Buru, hingga Mahmuah Belakang,” beber Simatauw.

Meski memiliki potensi besar, Simatauw mengaku, sektor perikanan tangkap masih menghadapi tantangan serius, terutama fluktuasi harga ikan yang mengikuti dinamika pasar luar daerah serta mutu ikan yang belum tertangani secara optimal. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya nilai jual hasil tangkapan nelayan. 

Selain perikanan tangkap, sektor perikanan budidaya di Kota Ambon juga menunjukkan perkembangan yang cukup baik dan memiliki potensi besar untuk mendukung perekonomian daerah.

Pasalnya di tahun 2025, produksi perikanan budidaya tercatat mencapai 139.008 kilogram untuk budidaya air laut dan 61.132 kilogram untuk budidaya air tawar. Kegiatan budidaya ini tersebar di berbagai wilayah, antara lain Kecamatan Sirimau, Teluk Ambon, Teluk Ambon Baguala, Nusaniwe, hingga Kecamatan Leitimur Selatan.

“Saat ini terdapat 74 kelompok pembudidaya air laut dengan total luasan mencapai 10.228 meter persegi, serta 46 kelompok pembudidaya air tawar dengan total luasan 3.873,9 meter persegi,” urai Simatauw.

Namun demikian lanjut Simatauw, sebagian besar pembudidaya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan modal usaha, ketersediaan pakan dan benih berkualitas, serta akses pasar untuk mendistribusikan hasil produksi. 

Persoalan ini menjadi fokus perhatian pemerintah daerah dalam pengembangan perikanan budidaya ke depan. 

Untuk subsektor perikanan tangkap, komoditas unggulan Kota Ambon meliputi ikan Tongkol, Cakalang, Tuna, serta ikan pelagis kecil yang dipasarkan untuk kebutuhan lokal maupun perdagangan antar pulau. Kontribusi langsung sektor ini terhadap daerah berasal dari retribusi TPI yang menjadi bagian dari PAD.

“Komoditas unggulan perikanan budidaya air laut meliputi, ikan Bubara/Kuwe, Kerapu dan Kakap, sedangkan budidaya air tawar didominasi oleh ikan Lele, Nila, dan Mas. Selain menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan baru, perikanan budidaya juga berperan dalam menjaga stabilitas pasokan ikan, memperkuat ketahanan pangan, serta mengurangi ketergantungan suplai ikan dari luar daerah,” jelas Simatauw.

Ia menambahkan, potensi laut Kota Ambon telah dimanfaatkan oleh nelayan lokal melalui penggunaan alat tangkap seperti pancing tonda, gill net, serta perahu tanpa motor. Penempatan rumpon turut memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil tangkapan.

Selain di perairan Ambon, nelayan juga melakukan aktivitas penangkapan ikan hingga ke Laut Seram dan Laut Banda, dengan wilayah tangkap yang menyesuaikan musim serta jenis ikan yang menjadi target.

“Dengan pengelolaan yang tepat dan dukungan kebijakan yang berpihak kepada nelayan, sektor perikanan dapat terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Kota Ambon,” harap Simatauw.(Mg-1)

BERITA TERKAIT