AMBON, Siwalima.id - Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menyoroti berbagai disrupsi global yang memengaruhi kehidupan manusia, mulai dari revolusi industri hingga konflik geopolitik terkini, dalam kuliah umum pada wisuda periode April 2026 di Universitas Pattimura.
Dalam pemaparannya, Eddy menjelaskan, peradaban manusia selalu diwarnai oleh perubahan besar yang bersifat sistemik atau disrupsi, yang mampu mengubah pola kehidupan masyarakat secara fundamental.
Ia mencontohkan sejumlah peristiwa penting, seperti revolusi industri, perang dunia, hingga revolusi digital yang menghadirkan internet dan berbagai kemudahan dalam kehidupan modern.
“Disrupsi bisa membawa kemajuan, tetapi juga menghadirkan tantangan besar bagi kehidupan manusia,” ujarnya.
Eddy juga menyinggung pandemi Covid-19 sebagai salah satu disrupsi global yang mengubah cara hidup masyarakat secara drastis, mulai dari pola interaksi hingga aktivitas ekonomi.
Selain itu, ia menyoroti dampak konflik di Timur Tengah yang memengaruhi pasokan energi global, termasuk kenaikan harga bahan bakar dan bahan baku industri.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia dan berdampak pada berbagai sektor, termasuk pangan dan transportasi.
“Gangguan pasokan energi akan berdampak langsung pada harga barang dan stabilitas ekonomi,” katanya.
Ia menambahkan, Indonesia juga tidak terlepas dari dampak tersebut, terutama karena masih bergantung pada impor minyak mentah dan bahan bakar minyak.
Ia menekankan, pentingnya penguatan ketahanan energi nasional.
Eddy mengusulkan sejumlah langkah strategis, antara lain peningkatan produksi minyak dan gas, percepatan transisi ke energi terbarukan, serta pengembangan energi berbasis nabati.
Selain itu, ia mendorong elektrifikasi di sektor transportasi dan rumah tangga sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Dalam kuliah umum tersebut, Eddy juga mengangkat isu perubahan iklim yang dinilainya sebagai ancaman serius bagi masa depan.
Ia mencontohkan, peningkatan suhu global dan mencairnya salju abadi di Papua sebagai bukti nyata dampak perubahan iklim.
“Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, tetapi sudah terjadi saat ini,” ujarnya.
Di hadapan para wisudawan, Eddy turut menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan dunia kerja. Ia menyebutkan bahwa peluang kerja saat ini semakin beragam, termasuk di sektor informal dan ekonomi digital.
“Kalian harus meningkatkan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang sangat cepat,” katanya.
Ia juga mendorong adanya keselarasan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri agar lulusan perguruan tinggi lebih siap memasuki dunia kerja.
Menutup kuliah umumnya, Eddy menegaskan komitmen lembaga legislatif untuk terus memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat serta mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. “Tidak boleh ada yang tertinggal dalam pembangunan. Semua harus mendapat kesempatan yang adil,” ujarnya.(S-25)