AMBON, Siwalimanews –Â Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat mengambil kebijakan menutup sementara dapur Makan Bergizi Gratis.
Kebijakan tersebut dilaÂkukan buntut dari ratusan siswa tingkat TK, SD dan SMA di Kecamatan KaiÂratu mengalami keracunan usai menyantap MBG.
âKami pastikan semua dapur MBG yang di wilaÂyah SBB untuk tidak berÂoperasi dulu, alias semenÂtara bukan permanen, unÂtuk menganÂtisipasi terjadiÂnya kasus serupa,â ungÂkap Sekretaris Daerah (SekÂda) Leverne Alvin Tuasuun kepada warÂtawan di Kantor Bupati, Kamis (24/10).
Dijelaskan, penutupan dapur MBG di wilayah SBB sementara diÂhentikan, karena pemerintah daerah akan melakukan evaluasi, dan dapur MBG harus memiliki sertifikasi layak higenis.
Ia mengakui, ketika dilakukan evaÂluÂasi ternyata sekian dapur MBG di SÂBB tidak memiliki sertifikast higieÂnis. âKarena itu pemerintah daerah meÂnuÂtup sementara dapur-dapur MBG agar mereka bisa sesegara mungkin memÂproses sertifikat layak higenis,â ujarnya.
Ditegaskan, pihaknya akan memÂperketat dan mengantisipasi terjadiÂnya kasus serupa sehingga dapur MBG di SBB untuk sementara diÂhentikan. âKita akan perketat lagi untuk meÂngantisipasi terjadinya kaÂsus seÂrupa seperti di Kairatu, dimana ratuÂsan siswa keracunan usai mengÂkonÂsumsi MBG, â tegas Tuasuun.
Ia menegaskan, terjadinya siswa keracunan ini karena adanya tingkat koordinasi sangat lemah. Sehingga pemda akan memperkuat lagi koorÂdinasi agar kedepan tidak lagi terjadi hal serupa. Sebab persyaratan utaÂma dari Dinas Kesehatan untuk seÂmua dapur MBG salah salanya harus memiliki serifikat higenis.
Menurutnya, penutupan semua dapur MBG di SBB sampai menuÂnggu hasil uji laboratorium.
Sekda menambahkan, atas kejaÂdian tersebut pemeintah daerah saÂngat bersyukur karena tidak terjadi kirab jiwa, dan pemda sudah berÂupaya semaksimal mungkin untuk penanganan korban keracunan, seÂhingga kesehatan para korban sudah pulih semuanya.
âAtas kejadian ini, selaku pemeÂrinÂtah daerah kita akan memperkuat koÂordinasi semoga kita harapkan semua bisa berjalan dengan maksiÂmal tanpa ada risiko keracunan,â terang Sekda.
Polisi Investigasi
Seperti diberitakan sebelumnya, polisi mulai melakukan investigasi kasus keracunan massal Makan Bergizi Gratis, di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Tercatat dalam sehari bertambah korban keracunan 100 persen. Pada Senin (20/10) jumlah korban tingkat TK dan SD sebanyak 100 siswa, sedangkan pada Selasa (21/10) bertambah menjadi 129 siswa pada tingkat SMA dan pada Rabu (22/10) 2 siswa, total 231 siswa
Kasat Reskrim Polres SBB AKP Indrus Mukadar mengungkapkan, investigasi sudah dilakukan dan akan segera melakukan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait.
âInvestasi yang kami lakukan ini untuk mengetahui pasti atas perisÂtiwa keracunan yang mengakibatkan ratusan aiswa di Kecamatan Kairatu yang mengalami keracunan usai mengkonsumi MBG,â ungkap Kasat Reskrim kepada Siwalima di ruang kerjanya, Rabu (22/10).
Dijelaskan, atas keracunan terseÂbut pihaknya langsung turun ke daÂpur MBG Kairatu untuk meng¬ambil keterangan beberapa pekerja terÂmaÂsuk SPPG. Namun itu tidak berakhir sampai disitu saja, tetapi akan meÂlakukan serangkaian penyelidikan atas peristiwa tersebut.
âAtas investigasi tersebut, kami akan memanggil pihak-pihak terkait terutama Kepala SPPG, dan beberapa pekerja. Semua ini kita lakukan berkaitan dengan kejadian yang luar biasa terjadi, ratusan siswa di SBB keracunan MBG,â ucapnya.
Kasat tegaskan, dalam investigasi berupa penyelidikan ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan SBB, terakhir dengan sampel makanan yang telah diambil untuk diperiksa Lab.
Kasat mengungkapkan, pihaknya belum bisa mengungkapkan penyeÂbab keracunan karena masih menuÂnggu hasil uji lab. âBesok (Kamis-red) kami jadwalkan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait, mulai dari SPPG,â ujarnya.
Jumlah Bertambah
Sementara itu kepala Dinas KeÂsehatan, Gariman Kurniawan menjeÂlaskan, kasus keracunan siswa di SBB dari hari pertama dan kedua sebanyak 229 orang kemudian ada penambahan dua orang sehingga total keseluruhan 231 orang terdiri dari siswa TK, SD, dan SMA.
Ditegaskan, ratusan siswa yang keracunan hingga dilarikan ke PusÂkesmas Kairatu dan Wamital untuk mendapatkan perawatan media, karena ratusan siswa ini mengalami muntah-muntah, hingga mengeÂluarkan busa dari mulut.
Menurutnya, hingga saat ini dari ratusan siswa yang mendapatkan perawatan hingga tersisa tiga paÂsien saja yang dirawat, yang lainnya telah kembali ke rumahnya masing-masing usai pemulihan. âDari data riel sebanyak 231 orang siswa yang keÂracunan, tinggal 3 yang masih diÂrawat di Pukesmas Kairatu, sedangÂkan Puskesmas WaiÂmital semuanya sudah dipulangÂkan,â terangnya.
Kadis menambahkan, atas perisÂtiwa keracunan tersebut Dinas KeseÂhatan sudah menginstruksikan peÂngÂhentian sementara pengoperaÂsian dapur MBG sampai dengan hasil pengujian Lab keluar. âNamun, kita harus tunggu instruksi dari pimÂpinan tertinggi dalam hal ini Bupati, kita sementara berkoordinasi,â tegasnya.
Uji Sampel 7 Hari
Sementara itu, Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Ambon tengah melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan dari MakaÂnan Bergizi Gratis (MBG) di KabuÂpaten Seram Bagian Barat, yang sebelumnya diduga menjadi penyebab keracunan massal ratusan siswa.
Kepala Balai POM Ambon, TamÂran Ismail menjelaskan, proses peÂngujian sampel tersebut membutuhÂkan waktu antara 7 hingga 10 hari kerja, sebelum hasilnya dapat diÂumumkan secara resmi.
âWaktu pengujian sekitar tujuh sampai sepuluh hari,â ujar Ismail kepada Siwalima saat dikonfirmasi via pesan whatsapp, Rabu (22/10).
Setelah hasilnya keluar, sambungÂnya, pihaknya akan menyerahkan kepada dinas terkait. âSetelah hasilÂnya keluar, kami akan menyerahkan secara resmi kepada Dinas KeseÂhatan Kabupaten SBB,âujarnya.
Diketahui, uji laboratorium dilakuÂkan untuk memastikan kandungan zat yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi para siswa, sekaliÂgus mengidentifikasi penyebab utaÂma kejadian luar biasa (KLB) keracunan tersebut.
Sampel makanan yang diuji menÂcakup beberapa jenis menu yang dikonsumsi secara bersamaan oleh siswa pada saat kejadian.
Sebelumnya, ratusan siswa di KaÂbuÂpaten SBB dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, dan pusing usai menyantap hidangan dari program MBG. Sejumlah korban bahkan harus mendapat perawatan medis. (S-18)