AMBON, Siwalima.id - Peringatan 480 tahun kedatangan Santo Fransiskus Xaverius di Pulau Ambon diperingati dalam suasana reflektif yang sarat pesan sosial.
Kegiatan yang digelar di Gedung Serba Guna Santo Fransiskus, Ambon, Sabtu (14/2) tidak hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga ruang evaluasi bersama dalam menghadapi tekanan ekonomi dan tantangan kerukunan.
Walikota Ambon, Bodewin Wattimena pada kesempatan itu mengatakan, jejak sejarah Francis Xavier di Ambon bukan sekadar catatan perjalanan gereja, melainkan tonggak lahirnya nilai persaudaraan di tanah ini.
Keberanian misionaris abad ke-16 yang melintasi laut dan pulau demi menyebarkan kabar keselamatan ini, harus dimaknai sebagai teladan membangun kebaikan lintas batas.
“Kalau Injil pertama berakar di Ambon, maka kota ini harus tetap menjadi contoh hidup bersama dalam perbedaan,” ucap walikota.
Pemkot Ambon kata walikota, berkomitmen mendukung setiap gerakan yang menghadirkan kebaikan sosial dan memperkuat kohesi masyarakat, termasuk agenda keagamaan lintas iman seperti Festival Imlek, Festival Ramadan, hingga atraksi Jalan Salib yang telah menjadi agenda tahunan pemersatu warga.
Peringatan ini juga, berlangsung ditengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Bahkan menjelang Ramadhan, harga kebutuhan pokok mulai mengalami kenaikan. Tekanan tersebut, menjadi ujian nyata bagi daya tahan sosial masyarakat.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Tantangan ekonomi dan sosial hanya bisa dihadapi dengan solidaritas,” Tandas walikota.
Walikota mengingatkan, sejarah besar Ambon dibangun diatas semangat persaudaraan, bukan persaingan, dan nilai itu harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Uskup Diosis Amboina, Mgr Seno Ngutra menegaskan, semangat satu hati, satu semangat harus diwujudkan dalam aksi nyata.
Mengutip teladan Yesus Kristus yang memberi makan orang banyak karena belas kasih, ia mengingatkan bahwa, iman tanpa tindakan hanyalah perasaan kosong.
Secara khusus, Uskup menyoroti dunia pendidikan dimana ia minta agar sekolah menjadi ruang yang benar-benar memanusiakan manusia dan menumbuhkan karakter.
Praktik perundungan (bullying) menurutnya, merupakan ancaman serius bagi pembentukan generasi muda.
“Kalau pendidikan gagal membentuk karakter, kepintaran bisa berubah menjadi ancaman bagi masyarakat,” tandas uskup.
Uskup juga mengingatkan, dua dekade mendatang, umat Kristen Indonesia akan memasuki 500 tahun baptisan pertama di Nusantara, sebuah tonggak sejarah besar yang akan kembali menempatkan Ambon dalam peta sejarah kekristenan nasional.
Mulai 2027, perayaan Santo Fransiskus Xaverius akan dipusatkan setiap 14 Februari sebagai momentum bersama seluruh kekristenan, bukan hanya internal Katolik.
Peringatan 480 tahun ini menjadi pengingat, bahwa warisan iman harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial, menjaga persaudaraan, memperkuat solidaritas dan membangun generasi berkarakter demi Ambon yang damai dan berdaya di tengah dinamika zaman.(Mg-1)