AMBON, Siwalimanews â Universitas Pattimura Ambon melalui Fakultas Kedokteran menggelar konferensi internasional kesehatan bertajuk Pendekatan Kolaboratif untuk Memajukan Kesehatan di Nusantara: Solusi Inovatif dan Terintegras, Kamis (8/5)
Kegiatan yang dipusatkan di Ballroom Hotel Santika, Ambon ini, menjadi forum penting untuk merumuskan solusi atas tantangan kesehatan di Indonesia, khususnya di wilayah kepulauan seperti Maluku.
Rektor Unpatti Prof Fredy Leiwakabessy dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalimanews, Jumat (16/5) menyoroti kompleksitas permasalahan kesehatan yang tidak hanya mencakup aspek medis, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi geografis, keterbatasan infrastruktur, serta faktor sosial dan budaya.
âSebagai wilayah kepulauan dengan lebih dari seribu pulau, pendekatan kolaboratif, inovatif, dan integratif antara akademisi, praktisi, pemerintah, masyarakat, serta mitra lokal dan internasional, sangat diperlukan,â tulis rektor dalam rilis tersebut.
Unpatti, akan terus mendorong agar hasil riset dan inovasi kampus berdampak langsung ke masyarakat. Salah satu bentuk komitmen tersebut adalah, konsep dokter kepulauan yang menempatkan lulusan bukan hanya sebagai tenaga medis profesional, tetapi juga sebagai sosok yang memahami konteks budaya dan kebutuhan lokal.
Masih dalam rilis itu, Dekan Fakultas Kedokteran Bertha J Que menjelaskan, konferensi ini merupakan penyelenggaraan yang kedua dan tetap konsisten mengangkat tema kesehatan yang relevan dengan kondisi daerah kepulauan.
âMasalah kesehatan di Maluku tidak bisa dilepaskan dari tantangan geografis. Karena itu, solusi dan kolaborasi lintas sektor menjadi sangat penting, agar pemerintah hadir melalui kebijakan yang menghadirkan dokter dan layanan kesehatan di wilayah-wilayah terpencil,â jelas Bertha.
Fakultas Kedokteran Unpatti, siap diberdayakan di setiap kabupaten/kota di Maluku dengan dukungan infrastruktur yang memadai untuk menunjang pelayanan kesehatan, termasuk pengadaan obat-obatan.
Konferensi ini menghadirkan keynote speaker Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, serta Wakil Menteri Kesehatan  Budi Gunadi Sadikin serta sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri, turut berpartisipasi, Dr Richard Colbran dari Australia-Rural Doctors Network Prof Budi Santoso dari Universitas Airlangga, Prof Yudi Mulyana Hidayat dari Universitas Padjadjaran, Dr Karthik Adapa perwakilan WHO SEARO â India, Amanda Hunter dari Western NSW Local Health District â Australia,  Prof Jan Nouwen dari Erasmus Medical Center â Belanda, Elisabeth Farah Novita Coutrier dari BRIN â Indonesia dan Prof Mohd Fadli Mohd Asmani  dari Management and Science University â Malaysia.
Melalui diskusi lintas disiplin ini, diharapkan lahir strategi dan kebijakan yang dapat diimplementasikan secara nyata demi peningkatan layanan kesehatan yang merata di wilayah kepulauan.(S-25)