SIWALIMA.id > Berita
Bodewin Bagikan Kisah Hidup di SPOTLIGHT 1.0, LIGHT UP Academy
Pemerintah Kota Ambon , Suplemen | Senin, 27 April 2026 pukul 13:13 WIT

WALIKOTA Ambon, Bodewin Wattimena, membagikan kisah perjalanan hidupnya di hadapan para peserta kegiatan SPOTLIGHT 1.0 LIGHT UP Academy sebagai bentuk motivasi dan inspirasi bagi generasi muda. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Vlissingen, Balai Kota Ambon, Sabtu (25/4).

Menurut Bodewin, pengalaman hidup yang penuh perjuangan dapat menjadi pelajaran berharga bagi anak-anak muda dalam menata masa depan. Ia menegaskan bahwa inspi­rasi sebaiknya dicari sejak usia muda, karena perjalanan generasi muda masih panjang dan penuh peluang.

“Kalau di usia kita baru mencari ins­pirasi, belum terlambat, tetapi sudah agak terlambat. Karena itu, adik-adik harus mulai dari seka­rang,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Wattimena juga berbicara mengenai kepemim­pinan. 

Menurutnya, kepemimpinan bu­kan hanya soal jabatan, tetapi ten­tang bagaimana seseorang menge­lola karakter diri. Teori kepemimpinan memang banyak, namun dasar utamanya adalah manajemen diri.

“Manajemen itu penting, bagai­mana kita mengatur dan menata diri dengan tahapan yang baik supaya tujuan yang ingin dicapai bisa diper­oleh,” katanya.

Ia kemudian menceritakan latar belakang kehidupannya yang seder­hana. Dirinya lahir dan besar di kawasan Siwang, ketika akses jalan menuju Ambon belum terbuka se­perti sekarang. Saat itu, perjalanan menuju kota harus ditempuh dengan berjalan kaki melalui medan sulit.

“Saya pergi sekolah berjalan dengan obor, karena berangkat dari subuh saat masih gelap. Sampai dekat sekolah baru obor dimatikan dan lanjut jalan lagi,” kenangnya.

Seragam sekolah bahkan harus dititipkan di dekat sekolah agar tetap rapi, sementara dari rumah ia berangkat dengan pakaian biasa. Setelah tiba di sekolah, ia mandi lalu berganti pakaian seragam.

Orang tuanya hanyalah petani dengan keterbatasan ekonomi. Bah­kan untuk membeli susu pun tidak mampu, sehingga air bubur dicam­pur gula menjadi pengganti.

Namun, menurut Bodewin, kehi­dupan sulit itulah yang membentuk karakternya menjadi pribadi kuat dan tidak mudah menyerah.

Setelah pindah ke Passo, ibunya membuka usaha dan sempat meng­alami kemajuan hingga memiliki tiga mobil pada tahun 1984. Namun, sebuah peristiwa membuat keluarga mereka bangkrut dan harus memulai lagi dari nol.

Dalam kondisi sulit itu, ia tetap berjuang untuk sekolah. Untuk mem­beli buku, ia harus mengum­pulkan uang sendiri. Sejak kecil, ia berjualan pisang goreng di kawasan Batu Gong, membuat es untuk dijual, lalu setelah itu pergi ke sekolah.

“Kadang orang melihat saya jadi Walikota dan berpikir hidup saya dulu enak. Mereka tidak tahu bahwa saya dulu susah, makan bubur karena tidak ada uang,” ungkapnya.

Ia mengakui pernah gagal, namun tidak menyerah. Dengan tekad kuat, ia terus berusaha hingga akhirnya menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), lalu dipercaya memimpin Kota Ambon sebagai Walikota.

Dari seluruh perjalanan hidupnya, ada satu pesan utama yang ingin ia sampaikan kepada generasi muda: latar belakang bukanlah penentu masa depan.

“Bukan soal dari mana kita ber­asal, tapi bagaimana kegigihan kita mem­perjuangkan masa depan. Ka­dang kita minder dengan latar bela­kang sendiri, padahal itu tidak me­nentukan kegagalan kita,” tegasnya.

Bodewin juga membagikan motto hidup yang selalu dipegangnya, yakni tetap rendah hati dan berserah kepada Tuhan.

“Rendahkanlah dirimu di bawah ta­ngan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan pada waktunya. Kita hanya bisa berusaha, tapi yang menentukan adalah Tuhan,” ujarnya.

Ia menutup pesannya dengan menekankan, karakter seseorang dibentuk oleh keluarga, lingkungan, serta ilmu pengetahuan yang dipelajari. Karena itu, generasi muda harus terus belajar dan menjaga kepribadian yang baik agar mampu menjadi pemimpin masa depan.

Sementara itu, CEO & Founder LIGHT UP Academy, Audra Pattia­sina, menegaskan komitmennya dalam membangun kualitas generasi muda melalui peningkatan keteram­pilan dan penguatan karakter lewat kegiatan SPOTLIGHT 1.0 LIGHT UP Academy.

Audra menjelaskan, LIGHT UP Academy merupakan pusat pembe­la­jaran (learning center) yang fokus mendidik generasi muda agar memiliki kecakapan yang relevan dengan kebutuhan zaman, baik dalam bentuk soft skill maupun hard skill.

“Kami hadir sebagai ruang belajar bagi anak muda agar siap menghadapi perkembangan dunia yang sangat cepat. Tidak cukup hanya kemampuan teknis, tetapi juga harus didampingi dengan karakter, kepemimpinan, dan kreativitas,” ujarnya.

Menurut Audra, kegiatan SPOTLIGHT 1.0 dirancang dengan tiga pi­lar utama, yakni leadership, entrepreneurship, dan artificial intelligence (AI).

Ia menilai perkembangan tekno­logi saat ini justru menuntut gene­rasi muda lebih kuat dalam aspek soft skill, sebab teknologi secanggih apa pun tidak dapat menggantikan sisi manusiawi seperti empati, intuisi, dan kemampuan observasi langsung.

“AI tidak bisa menggantikan manusia dari sisi feeling, komunikasi, dan kepemimpinan. Karena itu anak-anak harus didampingi agar berkembang seimbang antara hard skill dan soft skill,” katanya.

Audra juga mengapresiasi duku­ngan Pemerintah Kota Ambon terhadap pengembangan generasi muda. Menurutnya, Ambon saat ini menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian dalam pengem­bangan pemuda kreatif.

Ia menambahkan, materi entrepreneurship diberikan untuk memba­ngun pola pikir mandiri dan menciptakan lapangan kerja baru.

“Selama ini banyak anak muda berpikir pilihan kerja hanya menjadi pegawai. Padahal mereka juga harus punya CEO mindset, mampu melihat peluang, menciptakan usaha, dan membuka lapangan pekerjaan,” jelasnya.

Selain itu, LIGHT UP Academy juga ingin menjawab kesenjangan antara keterampilan lulusan pendidi­kan formal dengan kebutuhan dunia industri saat ini.

Berdasarkan data BPS, kata Audra, masih terdapat gap keteram­pilan yang cukup besar, sehingga banyak lulusan belum siap masuk ke dunia kerja. “Gap skill itulah yang ingin kami isi melalui pelatihan-pelatihan di LIGHT UP Academy,” ujarnya.(Mg-1)

BERITA TERKAIT