SIWALIMA.id > Berita
BPK - Pemkab Malteng Berhasil Gelar BHF
Online | Selasa, 2 Desember 2025 pukul 21:31 WIT

AMBON, Siwalima.id - Kolaborasi strategis antara Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Maluku dan Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, berhasil menggelar Banda Heritage Festival 2025, sebagai salah satu gelaran budaya terbesar di Kepulauan Banda.

Festival yang berlangsung 26-29 November 2025 itu, tidak hanya menampilkan pesona sejarah dan budaya Banda, tetapi turut memperkuat identitas masyarakat, melalui rangkaian kegiatan edukatif dan pertunjukan seni.

Pamong Budaya Ahli Muda BPK Wilayah XX Maluku, Mezak Wakim dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima.id, Selasa (2/12) mengaku, keberhasilan festival ini, menunjukkan komitmen negara dalam memajukan kebudayaan.

“Banda Heritage Festival, merupakan wujud nyata komitmen BPK Wilayah XX dalam mengawal pemajuan kebudayaan di Maluku,” tulis Wakim dalam rilisnya.

Ia mengaku, pihaknya tidak akan berhenti pada selebrasi, tetapi terus bekerja melalui pelindungan cagar budaya, fasilitasi komunitas, dan kajian akademis.

“Ini untuk memastikan ekosistem kebudayaan Maluku tetap hidup dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat,” jelas Wakim.

Festival ini harap Wakim, menjadi agenda tetap, yang tidak hanya memperkuat jati diri masyarakat Banda, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis budaya dan sejarah.

Sebelumnya Banda Heritage Festival dibuka oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Rabu (26/11). Pada kesempatan itu, Mendagri juga mencanangkan Kawasan Cagar Budaya Kota Neira Lama seluas 77 hektare, sebagai upaya memperkuat pelindungan aset sejarah Banda.

Penandatanganan prasasti bersama Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, menjadi tonggak penting pelestarian warisan budaya Banda di tengah tantangan modernisasi.

Selanjutnya, rangkaian festival dihadirkan tidak sekadar sebagai perayaan seremonial, tetapi dirancang dengan pendekatan edukasi budaya.

Dimana di Benteng Belgica, anak-anak diperkenalkan pada sejarah melalui lomba mewarnai sketsa penari Cakalele. Sementara di Istana Mini, digelar Talkshow Budaya yang menghadirkan narasumber dari BPK Wilayah XX, Bappenas, Universitas Gadjah Mada (UGM), hingga KPU RI.

“Forum diskusi tersebut menguatkan komitmen bahwa warisan sejarah Banda harus diposisikan sebagai fondasi kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar objek pariwisata,” tandas Wakim.

Pada hari ketiga, semangat pelestarian budaya semakin terasa melalui kegiatan berbasis kearifan lokal yang dipusatkan di Pulau Banda Besar.

Tokoh adat setempat menyampaikan Tutur Budaya dan sejarah Lonthoir, disusul atraksi Cakalele Selamon dan tradisi belah kenari di Negeri Selamon, kemudian dilanjutkan dengan berbagai sanggar seni dari negeri-negeri di Kepulauan Banda tampil di panggung Istana Mini menampilkan tari dan musik tradisional.

Identitas Banda sebagai poros maritim semakin ditonjolkan melalui Lomba Pacu Perahu Kole-Kole di perairan Pulau Banda Besar. Kemeriahan berlanjut dengan Lomba Belang Adat dan Belang Nasional dari Pulau Pisang menuju Istana Mini. Ratusan warga memadati garis finis untuk menyaksikan kemampuan para pedayung yang memacu perahu dalam tradisi bahari khas Banda.

“Festival juga mengajak peserta mengenal Banda melalui Jalan Sehat Budaya yang menelusuri sejumlah situs penting, mulai dari Rumah Bung Hatta hingga Benteng Nassau,” beber Wakim.

Pada malam penutupan festival di Benteng Nassau, Sabtu (29/11) juga berlangsung meriah. Ribuan masyarakat Banda memenuhi area panggung untuk menikmati penampilan dua musisi Maluku kebanggaan daerah, Willy Sopacua dan Yayu Wattiheluw. 

Penampilan keduanya disambut antusias dan menjadi penanda kuatnya dimensi hiburan dalam festival budaya ini.

Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat serta menyebut Banda Heritage Festival 2025 telah menjadikan Banda sebagai panggung dunia selama empat hari.

“Banda menampilkan dirinya sebagai tempat yang memikat siapa pun, melalui sejarah, alam, dan budayanya,” tutup Wakim.(S-25)

BERITA TERKAIT