AMBON, Siwalima.id - Harga besar belum kunjung turun dan diprediksi akan naik menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Naiknya harga beras juga berpengaruh pada naiknya sejumlah kebutuhan pokok masyarakat di sejumlah pasar di Kota Ambon maupun di kabupaten kota lainnya.
Harga beras Bulog saja menyentuh angka 16-17 ribu/kg sementara beras premium menyentuh angka 17-20 ribu/kg dijual pedagang.
Perum Bulog Maluku dan Maluku Utara tidak bisa berbuat banyak, mereka hanya mampu menekan agar pasokan pangan yang beredar stabil di pasar.
Badan Pusat Statistik mencatat pada Oktober 2025 terjadi inflasi year on year (y-on-y) di Provinsi Maluku sebesar 2,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,62.
Inflasi (y-on-y) tertinggi terjadi di Kota Ambon sebesar 3,03 persen dengan IHK sebesar 110,12 dan terendah terjadi di Kota Tual sebesar 1,26 persen dengan IHK sebesar 109,95.
“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 8 indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,04 persen kelompok kesehatan sebesar 4,45 persen,” kata Kepala BPS Maluku Maritje Pattiwaellapia beberapa waktu lalu.
Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: kelompok transportasi sebesar 1,20 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,85 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,33 persen.
Sementara itu Bank Indonesia Perwakilan Maluku dalam rilisnya kepada Siwalima, Rabu (5/11) menyebut IHK di Maluku menunjukkan hasil positif pada Oktober 2025, dengan deflasi sebesar 0,05 persen (mtm), yang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 0,29 persen (mtm).
“Dalam hal inflasi tahunan, Maluku tercatat mengalami inflasi sebesar 2,30 persen (yoy), berada dalam rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen yang ditargetkan oleh BI,” kata Kepala Perwakilan BI Maluku, Mohamad Latif, dalam rilisnya, Rabu (5/11).
Ia menjelaskan capaian deflasi pada Oktober 2025 terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, yang memberikan andil deflasi sebesar 0,20 persen (mtm).
Penurunan harga ini terutama terjadi pada komoditas hortikultura, seperti tomat, bawang merah, kangkung, dan cabai rawit, dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,24 persen, 0,15 persen, 0,08 persen, dan 0,05 persen.
“Periode panen komoditas hortikultura di berbagai daerah seperti Kabupaten Maluku Tengah, Kota Ambon, Kabupaten Buru dan Kabupaten Seram Bagian Barat, serta terjaganya pasokan dari luar daerah, menjadi faktor utama dalam penurunan harga komoditas tersebut,” ujarnya.
Ia menyebut Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Maluku terus berupaya mengoptimalkan berba-gai program pengendalian inflasi.
Salah satu langkah yang telah diambil adalah peningkatan frekuensi kegiatan gerakan pangan murah, serta fasilitas distribusi transportasi untuk penyaluran stabilisasi pangan harga pangan ke Pulau Haruku.
Selain itu, Perum Bulog Kanwil Maluku dan Maluku Utara juga tengah menjalin kerja sama dengan Kabupaten Kepulauan Aru dalam penyediaan gudang transit, yang diharapkan dapat memperlancar distribusi barang kebutuhan pokok.
Dan pada November nanti, BI Maluku bersama Pemprov lanjutnya akan melaksanakan kegiatan panen digital farming untuk komoditas bawang merah dan aneka cabai di Kabupaten Maluku Tengah.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan penerapan teknologi pertanian digital di Maluku,” jelasnya. (S-25)