AMBON, Siwalimanews – Gubernur Maluku Hendrik LeweÂriÂssa memastiÂkan, telah minta KeÂmenÂterian KeseÂhatan untuk memÂbantu fasiliÂtasi inÂsentif dokter spesialis di Maluku.
Langkah ini dilakuÂkan gubernur, sebagai bentuk respon terhaÂdap persoalan insentif dokter spesialis yang selama ini menÂjadi masalah di Maluku.
Pasalnya, saÂlah satu alasan dokter spesialis enggan melayani masÂ-yarakat di Maluku, ka-rena persoalan insentif dokter yang dinilai kecil.
âAda program Kemenkes untuk memfasilitasi dokter spesialis di wilayah 3T, dimana dokter akan dibeÂrikan insentif dan saya sudah minta ke Menteri Kesehatan untuk Maluku juga dapat jatah dari program itu,â tulis gubernur dalam rilisnya yang diterima redaksi SiwaÂlima, Senin (15/9).
Menurut gubernur, kondisi keÂuangan daerah di Maluku, meÂmang masih lemah, sehingga memÂbuÂtuhÂkan dukungan pemerintah puÂsat, terÂmasuk dalam memberikan layaÂnan kesehatan kepada masÂyarakat.
Untuk itu, jika Maluku mendaÂpatkan kesempatan untuk menikÂmati program ini, maka secara tidak langsung, dokter spesialis yang bertugas di wilayah terpencil akan diberikan insentif dan fasilitas penunjang, sehingga dokter akan betah tinggal di Maluku.
Disamping itu, pemprov juga seÂmentara berupaya, untuk memasÂtikan ketersediaan sumber daya manusia, khususnya dokter speÂsialis melalui Fakultas KedokÂteran Unpatti.
âSaya sudah minta kepada Menteri Kesehatan, agar Fakultas Kedokteran Unpatti membuka program studi dokter spesialis, paling kurang untuk sementara penyakit dalam dulu dan kita bersyukur suÂdah ada lampu hijau dari KemenÂkes,â jelas gubernur.
Jika Unpatti telah diberikan izin membuka program dokter spesiaÂlis, lanjut gubernur, maka Maluku bisa mandiri memproduksi dokter ahli, sebab bila bergantung dari luar juga, ini akan menjadi masalah.
âDengan rata-rata insentif yang diberikan sekarang tidak menarik bagi mereka, kecuali dokter speÂsiaÂlis yang mencintai gunung taÂnah ini, kalau tidak sampai kapanÂpun kita akan kesulitan dengan dokter spesialis,â tutur gubernur. (S-20)