AMBON, Siwalima.id - Setelah selesai memeriksa 29 penerima bansos, di Kecamatan Salahutu, giliran jaksa sasar Kecamatan Leihutu, Kabupaten Maluku Tengah.
Tim auditor Kejati Maluku telah agendakan pemeriksaan penerima bansos di Kecamatan Leihitu pada Kamis (25/6) ini.
Pemeriksaan terhadap para penerima bansos di Kecamatan Leihitu berkaitan dengan mempertegas data-data penyidik di dalam berita acara pemeriksaan (BAP) dalam penyidikan kasus dugaan korupsi bansos pada Dinas Koperasi dan UKM, Kabupaten Maluku Tengah tahun anggaran 2023.
“Terkait agenda lanjutan klarifikasi terhadap para saksi-saksi yang merupakan penerima bansos itu akan berlangsung hari Kamis (25/6) di Kecamatan Leihitu, “ kata Ardy kepada Siwalima di Kantor Kejati, Senin (22/6).
Ardy menyebutkan, total seluruh penerima bantuan sosial ada 500 saksi yang tercatat di dalam BAP. Sehingga tim auditor harus berupaya melakukan klarifikasi terhadap para penerima bantuan yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Maluku Tengah.
“Ada 500 saksi yang tercantum dalam BAP, jadi harus diupayakan semuanya diklarifikasi. Kalaupun tidak semua yang hadir untuk di klarifikasi, bisa saja digunakan sampel yang penting datanya akurat, “tambah Ardy.
Ia berharap, proses klarifikasi dapat berlangsung lancar hingga selesai. Mengingat ada beberapa kecamatan yang belum diklarifikasi yakni di Haruku, Saparua dan Banda.
“Kami berharap segera selesai meskipun masih ada beberapa kecamatan yang penerima bansosnya belum diklarifikasi. Semoga secepatnya bisa selesai agar supaya proses perhitungan kerugian negara bisa dilaksanakan,” ujarnya.
Selangkah Lagi
Tinggal selangkah lagi kasus dugaan korupsi bantuan sosial pada Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Maluku Tengah Tahun Anggaran 2023 senilai Rp9,7 miliar tuntas dengan penetapan tersangka.
Pasalnya, tim auditor Kejaksaan Tinggi Maluku sementara memalukan pemeriksaan ratusan penerima bansos pada sejumlah kecamatan di kabupaten berjulukan Pamahanunusa itu.
Kasi Penkum dan Humas Kejati Maluku, Ardy menjelaskan untuk menggali bukti-bukti untuk memperkuat audit kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi bansos Kabupaten Maluku Tengah.
Ardy menjelaskan, tim auditor bakal mengklarifikasi sejumlah penerima bantuan di Kecamatan Leihitu, sebelumnya di Kecamatan Salahutu dengan memeriksa 29 penerima bantuan dari 59 orang yang telag dipanggil.
“Selanjutnya tim auditor masih melakukan klarifikasi BAP terhadap penerima bantuan sosial di Kecamatan Leihitu, “ kata Ardy kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Sabtu (20/6).
Dijelaskan, agenda klarifikasi terhadap penerima bansos di Leihitu direncanakan berlangsung dalam pekan ini.
“Agendanya pekan depan. Semua penerima bansos akan dipanggil dan untuk lokasinya nanti tim auditor yang tentukan,” ujarnya.
Nantinya, setelah melakukan klarifikasi terhadap penerima bansos di kecamatan Leihitu, maka auditor akan beralih lokasi lain yakni di Pulau Haruku, Saparua dan Banda. Sehingga ia berharap proses klarifikasi tersebut bisa berjalan lancar.
“Nanti masih ada di Haruku kemudian Saparua dan Banda juga. Klarifikasi berdasarkan BAP yang ada sehingga semuanya harus diklarifikasi yang tujuannya yaitu untuk mempertegas data yang telah diserahkan penyidik, “tambah juru bicara Kejati Maluku itu.
Segera Tuntas
Sementara itu informasi dari sumber di kejaksaan menyebutkan, selangkah lagi kasus bansos akan tuntas.
Awalnya terdapat 393 kelompok penerima hibah yang bersumber dari pokok-pokok pikiran (pokir) anggota DPRD Maluku Tengah. Namun dalam pelaksanaannya jumlah penerima membengkak menjadi 557 kelompok.
Perubahan jumlah penerima tersebut kemudian menjadi salah satu temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), lantaran ratusan kelompok penerima belum menyampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana yang telah diterima.
Tak hanya itu, dari informasi yang berhasil dihimpun, dalam proses realisasi bantuan diduga terjadi praktik cashback dengan nilai yang mencapai ratusan juta rupiah.
Sumber Siwalima juga mengungkapkan, adanya perubahan Surat Keputusan (SK) penerima bantuan hingga tiga kali. Perubahan tersebut diduga dilakukan setelah terjadinya penambahan jumlah kelompok penerima dari usulan awal yang berasal dari pokir DPRD.
“Perubahan data penerima itu kabarnya menyebabkan SK harus direvisi hingga tiga kali,” ungkap sumber yang enggan namanya dikorankan kepada Siwalima di Masohi, Minggu (21/6).
Sejauh ini, penyidik telah memeriksa ratusan kelompok penerima bantuan. Bahkan tim penyidik juga telah melakukan penggeledahan di dua instansi lingkup Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, yakni Dinas Koperasi dan UKM serta Badan Pendapatan Daerah.
Sumber Siwalima di Kejaksaan Negeri Maluku Tengah mengungkapkan, proses klarifikasi terhadap kelompok penerima masih terus berlangsung di sejumlah kecamatan.
“Klarifikasi masih terus berjalan. Tim masih bekerja dan turun langsung ke kecamatan untuk meminta keterangan dari kelompok penerima. Karena itu kami berharap pihak-pihak yang dipanggil bersikap kooperatif dan memenuhi panggilan penyidik,” kata sumber.
Menurutnya, metode pemeriksaan lapangan atau on the spot dilakukan untuk mempercepat proses penyidikan sekaligus memastikan penggunaan bantuan yang telah disalurkan.
Terkait kemungkinan adanya tersangka dari kelompok penerima bantuan, sumber tersebut tidak menampiknya. Namun ia menegaskan seluruh keputusan akan ditentukan melalui gelar perkara setelah seluruh rangkaian penyidikan rampung.(S-29)