AMBON, Siwalima.id - Dipastikan pada 18 Januari 2026 mendatang, peletakan batu pertama proyek pembangunan Blok Masela dilakukan.
Pasalnya, gubernur telah bertemu dengan Presiden Inpex Masela.LTD sebagai pengembang blok abadi Masela, dan menjelaskan terkait dengan progres pembangunan blok abadi Masela.
Rencana groundbreaking proyek yang akan memproduksi LNG 9,5 juta ton/tahun dengan investasi $20,9 miliar dan menyerap ribuan tenaga kerja ini diungkapkan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.
“Dari pertemuan dengan Presiden Inpex Masela itu disampaikan jika 18 Januari 2026 mendatang akan dilakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama proyek Blok Masela,” ungkap Gubernur saat menghadiri Kuliah Umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpatti, Senin (15/12).
Gubernur bilang, INPEX Masela, LTD pemerintah daerah membantui perizinan yang dibutuhkan, namun wajib hukumnya mengakomodir anak-anak Maluku untuk bekerja di Blok Masela dengan presentase yang banyak.
Pemerintah Provinsi Maluku, lanjut Gubernur tentu menyambut baik kepastian peletakan batu pertama pembangunan blok abadi Masela agar segera direalisasikan.
Menurut Gubernur jika pengembangan blok abadi Masela berjalan sesuai dengan rencana pengembangan atau plan of development maka dipastikan tahun 2009 akhir atau awal 2030 blok abadi Masela akan beroperasi secara komersial atau onstream.
Sikap tegas ini dilakukan sebagai bentuk upaya Pemerintah Daerah memastikan sumber daya alam migas di blok Masela harus memberikan dampak dan manfaat nyata kepada masyarakat di Maluku.
“Saya sudah tegaskan kepada Inpex Masela saya akan membantu anda memberi ijin-izin dalam batas-batas kewenangan, saya sebagai gubernur termasuk izin penggunaan kawasan hutan dan sebagainya, tapi dengan catatan anda harus punya rencana yang jelas untuk perekrutmen tenaga kerja lokal,” tegas gubernur
Gubernur mengatakan, sangat memahami kalau ada kualifikasi tenaga kerja yang ahli dibidang migas, maka itu dibolehkan dari luar, tetapi lulusan di Maluku wajib diakomidir.
“Saya bisa memahami dan realistis kalau kualifikasi tenaga kerja skill atau tenaga kerja yang ahli dibidang migas dan tidak tersedia di daerah maka bolehlah datangkan dari luar tapi kalau tenaga kerja bisa disuplai oleh lulusan di Maluku maka wajib diakomodir,” tegas Gubernur.
Gubernur menambahkan, dirinya tidak mau daerah ini menjadi daerah yang hanya dieksploitasi saja tapi tidak berdampak bagi masyarakat di Maluku
Apresiasi
Sebelumnya, Gubernur mengapresiasi progres realisasi Blok Masela yang akan memasuki fase Front-End Engineering Design (FEED).
Fase FEED merupakan tahap krusial dalam siklus proyek, terutama dalam proyek rekayasa besar seperti konstruksi, manufaktur dan pengembangan produk.
Hal ini dikatakan Gubernur merespon keterangan Executive Project Director INPEX Masela Ltd, Jarrad Blinco yang memastikan tengah mengejar realisasi pengembangan proyek blok abadi Masela.
Gubernur menjelaskan, Pemerintah Provinsi Maluku tentu mendukung setiap progres yang dilakukan INPEX Masela Ltd guna merealisasi Blok Masela.
“Tentu kami menyambut baik dan mendukung progres realisasi proyek blok masela yang dalam waktu dekat fase FEED sudah di dimulai,” ucap Gubernur kepada Siwalima melalui pesan WhatsApp, Kamis (10/7).
Diakui Gubernur sejak beberapa waktu lalu berdasarkan laporan Inpex maupun SKK Migas, memang pekerjaan di lapangan telah berjalan sehingga diharapkan pada 2029 akhir nanti, proyek ini sudah On stream atau mulai berproduksi secara komersial.
“Kita doakan supaya semua proses berjalan dengan lancar agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat Maluku karena kita punya PI 10 persen disitu juga makannya itu kepentingan kita,” ujar gubernur.
Seperti diketahui Executive Project Director INPEX Masela Ltd, Jarrad Blinco memastikan, dalam waktu dekat akan memulai fase Front-End Engineering Design (FEED) yang akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan proyek blok Masela.
Jarrad mengatakan Blok Abadi Masela merupakan proyek strategis yang sangat penting, baik bagi INPEX maupun Indonesia maka harus dipersiapkan secara magang apalagi lokasi proyek ini jauh dari pusat aktivitas utama sehingga proyek ini membutuhkan perencanaan logistik dan teknis yang presisi.
“Salah satunya adalah tantangan teknis dimana pipa harus melintasi Palung Tanimbar dengan kedalaman lebih dari 1.500 meter,” kata Jarrad sebagaimana dikutip dari situsenergi.com, Rabu (9/7).
Selain itu Fasilitas Floating Production Storage and Offloading (FPSO) yang akan dibangun juga merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia.
“Kami akan menggunakan sistem Christmas Tree terbesar yang pernah diproduksi di Indonesia, serta menjadikan proyek ini sebagai yang pertama menerapkan teknologi subsea Christmas Tree CCS melalui sumur bawah laut. Ini mencerminkan skala dan kompleksitas proyek yang luar biasa,” bebernya.
INPEX meyakini bahwa proyek ini akan menjadi salah satu kon-tributor utama dalam memperkuat ketahanan energi nasional sehi-ngga membutuhkan sinergi ber-sama semua stakeholder. (S-20)