AMBON, Siwalimanews – Gempa bumi tektonik deÂngan magnitudo 4.8 mengÂguncang Kota Ambon dan sekitarnya, Sabtu (20/9) sore.
Kepala Stasiun Geofisika Ambon Djati Cipto Kuncoro menjelaskan, gempa bumi yang terjadi pada pukul 15:54:15 WIT tersebut, berÂdasarkan hasil analisis meÂnunjukkan, episenter gemÂpa terletak pada koorÂdinat 3.73 Lintang Selatan; 127.85 Bujur Timur, atau tepatnya berlokasi di laut 37 km Barat Ambon pada kedalaman 10 km.
âDengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif,â tulis Kuncoro dalam rilisnya yang diteÂrima Siwalima, Sabtu (20/9).
Gempa bumi ini kata Cipto, berÂdampak dan dirasakan di daerah Kota Ambon dengan skala intenÂsitas III-IV MMI atau getaran diÂrasakan nyata dalam rumah dan dirasakan oleh hampir semua penduduk dan membuat banyak orang terbangun.
âHingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut. Hingga pukul 16:08 WIT, hasil monitoring BMKG belum menunjukan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock),â jelas Kuncoro.
Walaupun demikian ia mengÂhimÂbau masyarakat, agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat diperÂtanggungjawabkan kebenarannya serta hindari diri dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.
Selain itu, periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan keÂstaÂbilan bangunan sebelum kembali ke dalam rumah.
âPastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang diÂsebarkan melalui kanal komuniÂkasi resmi yang telah terverifikasi,â himbau Kuncoro.
Sebelumnya juga pada, Sabtu (20/9) pukul 11.16 WIT terjadi gempa bumi tektonik di wilayah Seram Bagian Barat dengan magnitudo 3,5 yang berpusat pada kedalamam 20 kilometer.
Pusat gempa berada di titik koordinat 3.04 Lintang Selatan, 128.37 Bujur Timur dimana lokasi pusat gempa berada di darat 19 kilometer laut SBB.
Untuk diketahui, Maluku termaÂsuk kawasan rawan gempa, kaÂrena berada pada pertemuan tiga lemÂpeng besar, yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik dan Lempeng Eurasia. Dalam bebeÂrapa tahun terakhir, wilayah Ambon dan sekitarnya kerap diguncang gempa dengan magnitudo meneÂngah hingga besar.
Bahkan, gempa yang terjadi paÂda, Sabtu (20/9), menurut pengaÂkuan sejumlah warga di Kota Ambon, mereka merasakan getaran cukup kuat selama beberapa detik, hingga banyak warga yang berada di bangunan bertingkat lari keluar gedung untuk menyelamatkan diri.
KarhutlaÂ
Sementara itu BMKG juga meÂngeÂluarkan himbauan adanya potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada sejumlah wilayah di Maluku
Kepala BMKG Stasiun Pattimura Ambon Kemari menjelaskan, himÂbauan ini dikeluarkan berdasarkan sistem analisis Karhutla.
âBerdasarkan fine fuel moisture code, menunjukkan tingkat potensi kemudahan terjadinya kebakaran ditinjau dari parameter cuaca pada bahan-bahan ringan mudah terbaÂkar di lapisan atas permukaan tanah. Mewakili tingkat kekeringan bahan-bahan ringan mudah terbaÂkar seperti humus, permukaan, sampah dedaunan kering, alang-alang, dan bahan ringan lain yang biasanya menutupi lantai hutan pada kedalaman 1-2 cm,â tulis KaÂmari dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima, Minggu. (21/9).
Menurutnya, secara umum tingÂkat kemudahan terbakar pada lapiÂsan atas permukaan tanah di wilaÂyah Maluku berada pada kategori aman (low) dan tidak mudah (moderate). Sedangkan kategori mudah (high) dan sangat mudah (very high) di sebagian wilayah KabuÂpaten SBB, KKT dan MBD.
Duff Moisture Code juga meÂnunjukkan tingkat potensi kemuÂdahan terjadinya kebakaran ditinÂjau dari parameter cuaca pada baÂhan organik di lapisan menengah permukaan tanah dan bahan-bahan kayu ringan (ranting-ranting kecil, semak belukar berkayu) di permukaan tanah.
Mewakili tingkat kekeringan lapisan tanah organik atau bahan kurang padat lain pada kedalaman 5-10 cm dan bahan-bahan kayu ringan (ranting-ranting kecil, seÂmak belukar berkayu) di permukaan tanah, secara umum tingkat keÂmudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah di wilayah Maluku berada pada kategori aman (low) dan tidak mudah (moderate). Namun, diwilayah KKT dan MBD berada pada kategori sangat mudah (very high).
âInitial Spread Index menunjukÂkan tingkat kemudahan penyeÂbaran api jika terjadi kebakaran hutan. Nilai ISI meningkat secara eksponensial terhadap kecepatan angin, dimana nilai ISI menjadi 2x lipat setiap kenaikan kecepatan angin 13km/jam (3.6 m/s) sangat baik menggambarkan kemudahan penyebaran di area padang rumput atau alang- alang, dimana penyeÂbaran api yang sangat cepat akibat kecepatan angin yang tinggi dapat membentuk pola kepala api (head fire),â jelas Kemari
âDisarankan untuk berkoodinasi dengan kementrian, dinas dan lembaga terkait setempat untuk pemanfaatan lebih lanjut dari data/informasi yang disediakan,â himbau Kamari.
Pihaknya berharap, untuk pengÂguna atau masyarakat disarankan melihat perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan terkini, untuk menentukan potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah pengÂguna. (S-25/S-27)