AMBON, Siwalima.id - Pelayanan gizi kepada para pasien di RSUD dr M Haulussy Ambon, sampai dengan saat ini tetap berjalan dengan normal dan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Penegasan ini disampaikan Plt Direktur RSUD dr M Haulussy, Novita Nikijuluw kepada wartawan di ruang kerjanya, merespon informasi yang beredar di media sosial yang menyatakan, pelayanan gizi di RSUD lumpuh.
Nikijuluw mengaku, pasca persoalan yang terjadi di RSUD Haulussy beberapa tahun lalu, manajemen rumah sakit dan jajaran saat ini terus berbenah diri untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.
Upaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat ini, dilakukan dalam berbagai aspek, termasuk pelayanan instalasi gizi dengan menyiapkan sumber daya manusia yang mumpuni.
“Kalau dibilang pelayanan gizi itu buruk tidak benar, apalagi sampai dibilang tidak memiliki tenaga dorong makanan, tidak ada tenaga pencuci peralatan, pramusaji, tenaga masak, hingga petugas pendukung lainnya, itu sangat tidak benar,” tandas Nikijuluw.
Nikijuluw menjelaskan, untuk instalasi gizi terdapat sebanyak 39 petugas dengan rincian ahli gizi 21 orang, 9 orang ahli gizi di ruangan untuk memastikan pemberian makanan sesuai arahan dokter, tenaga dorong makanan 3 orang, tenaga cuci peralatan, pramusaji dan tenaga masak sebanyak 8 orang yang dibagi menjadi dua sift setiap hari.
Para petugas tersebut, bertugas untuk memastikan pelayanan gizi pada RSUD Haulussy berjalan maksimal, sebagai bentuk pelayanan maksimal kepada para pasien.
Walaupun demikian, dirinya mengaku, pelayanan di RSUD Haulussy belum sepenuhnya sempurna dan pasti memiliki kekurangan-kekurangan, namun tidak juga seperti yang dikatakan orang buruk.
“Di RSUD Haulussy ini setiap pagi dilakukan morning report untuk mengevaluasi semua hal, mulai dari keterangan obat-obatan hingga gizi, artinya morning report ini bertujuan untuk memperkecil potensi kesalahan saat pelayanan,” jelas Nikijuluw.
Disisi lain menurut Nikijuluw, upaya memberikan pelayanan terbaik telah membuahkan hasil, dimana dari jumlah pasien sebelum yang berkisar hanya 20 pesien, saat ini jumlah pasien rawat inap di RSUD Haulussy mencapai 105 orang, artinya jika pelayanan gizi di RSUD Haulussy tidak berjalan maksimal, maka pasti akan berdampak terhadap pasien.
Apalagi, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa menaruh perhatian serius terhadap upaya perbaikan RSUD Haulussy sebagai pusat rujukan dan icon di Provinsi Maluku.
"Misi kami jelas sesuai arahan pak gubernur, yakni pelayanan bagi masyarakat jadi prioritas utama. Bahkan ada pasien dari keluarga yang kurang mampu saja kita berikan potongan biaya karena memang fokus kami memberikan pelayanan, artinya disaat yang lain mengutamakan administrasi tapi RSUD Haulussy mengutamakan pelayanan,” tandas Nikijuluw.
Nikijuluw pun mengajak semua elemen masyarakat, untuk bergandengan tangan bersama gubernur dan manajemen RSUD Haulussy untuk memajukan RSUD Haulussy tanpa harus menebarkan isu yang tidak sesuai fakta di lapangan.
“Kalau yang diberitakan itu memang faktanya tidak masalah, kami terima dan akan diperbaiki, tapi kalau tidak sesuai fakta ini yang tidak boleh terjadi. Prinsipnya pelayanan gizi maupun instalasi lainnya di RSUD Haulussy berjalan normal,” tegas Nikijuluw.(S-20