SIWALIMA.id > Berita
PSSI Jatuhkan Sanksi bagi Presiden Jong Ambon FC
Olahraga | Senin, 24 November 2025 pukul 14:49 WIT

AMBON, Siwalima.id - Presiden Jong Ambon Football Club Rhony Sa­pulette, mendapat sanksi berupa diskorsing dari aktivitas sepakbola lokal dan nasional selama bebe­rapa tahun ke depan.

Sanksi ini diberikan PSSI, dikarenakan Sapulette Cs dinilai melanggar regulasi statuta PSSI, Kode Disiplin PSSI dan Regulasi Liga 4 PSSI.

Bukan hanya Sapulette yang mendapatkan sanksi tersebut, namun clubnya juga yakni Jong Ambon FC mendapatkan sanksi yang sama.

Sanksi tersebut, tertuang dalam Keputusan Nomor 10/XI/2025 oleh peserta Kongres Biasa Asosiasi Provinsi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (ASPROV PSSI) Maluku, yang digelar di The Nat­sepa Hotel, Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (22/11).

Langkah tegas itu, terpaksa diambil Pengurus Asprov PSSI Maluku, menyusul sikap tidak patuh dan tidak beretika dari Jong Ambon FC serta presiden club tersebut terhadap regulasi PSSI, yang berujung pada dilayang­kannya gugatan perbuatan mela­wan hukum (oleh Rhony Sapulette Cs terhadap Asprov PSSI Maluku di Pengadilan Negeri Ambon. 

Seperti diketahui, Pada persida­ngan di PN Ambon Majelis Hakim memutuskan, Asprov PSSI Maluku dinyatakan melakukan perbuatan melawan hukum, sehingga dihu­kum membayar ganti kerugian material sebesar Rp.270 juta. 

Namun, Asprov PSSI Maluku melalui Kuasa Hukumnya Rony Samloy, mengajukan upaya hukum banding. Alhasil, dalam perkara Nomor: 62/PDT/2025/PT.Ambon tanggal 30 Oktober 2025, Majelis Hakim Banding PT Ambon meme­nangkan Asprov PSSI sebagai Pembanding, membatalkan Putu­san PN Ambon No.59/2025 serta menyatakan Pengadilan Negeri in casu PN Ambon tidak berwenang mengadili perkara a quo sebab menjadi kompetensi kewenangan Badan Arbitrase PSSI. 

“Apakah kita perlu menjatuhkan skor­sing kepada Jong Ambon FC dan saudara Rhony Sapulette kare­na telah melanggar Regulasi PSSI? Tanya Sufyan Lestaluhu, selaku pimpinan sidang Rapat Biasa Asprov PSSI Maluku 2025.  “Setuju!” teriak seluruh peserta sidang.  Sufyan menegaskan, Klub Jong Ambon dan Rhony Sapulette dibe­rikan sanksi pelanggaran etika sampai mereka sadar dan me­ngakui Statuta PSSI dan regulasi PSSI yang lain sebagai payung hu­kum utama menyelesaikan seng­keta di ranah persepakbolaan. 

Selain membahas dan menja­tuh­kan sanksi ke Jong Ambon FC, Rhony Sapulette dan Abdul Gafar Lestaluhu, kongres biasa Asprov PSSI Maluku juga membahas dan menetapkan laporan pelaksanaan kompetisi Piala Soeratin U-15 dan U-17 dan Liga 4 serta laporan keuangan setahun berjalan dan pencabutan statuta Asprov PSSI 2021, Pembentukan Komite Pemi­lihan dan Pembentukan Komite Banding Pemilihan. 

Dalam proses ini, ada 17 pemilik suara (voter) yang mengikuti Rapat Biasa Asprov PSSI Maluku 2025.

Benahi Sepakbola Maluku

Sebelumnya Wakil Ketua II KONI Maluku, Rooy J Mongie saat mem­buka kongres itu mewakili Ketua Maluku mengatakan, sepak bola di Maluku membutuhkan pembena­han yang signifikan. 

Fakta di lapangan, Maluku dikenal kaya akan potensi talenta pemain lokal, namun perkem­bangannya dinilai stagnan dan menghadapi berbagai tantangan serius. 

“KONI Maluku terus mendukung upaya Asprov PSSI melakukan pembenahan di semua lini untuk Maluku lebih baik,ujar Mongie.

Beberapa aspek utama yang membutuhkan pembenahan untuk kemajuan sepak bola Maluku kata Mongie, yakni minimnya sarana dan prasarana pendukung.

Memang faktor minimnya infra­struktur sejauh ini, menjadi kendala dan tidak hanya menjadi “PR” bagi PSSI Maluku, tapi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. 

“Kita butuh keterlibatan pihak swasta jika ingin nama Maluku melambung di sepak bola Indonesia,” ungkap Mongie. 

Kurangnya perhatian dari berbagai pihak tambahnya, sering menjadi sorotan, padahal duku­ngan ini krusial untuk menciptakan ekosistem sepak bola yang sehat. 

“Ini masalah kita semua bahwa  pembenahan di sepak bola  Maluku tidak hanya fokus pada penyediaan infrastruktur, tapi pengelolaan keuangan dan manajemen yang profesional, serta program pembi­naan yang terstruktur dan berke­lanjutan, didukung penuh oleh pe­merintah dan pemangku kepenti­ngan terkait saya kira sepak bola kita akan maju kedepannya,” ujar Mongie.

Menariknya, pada kesempatan tersebut, Ahmad Ruyadh selaku anggota Komite Eksekutif atau Exco PSSI dalam sambutannya mengaku, Maluku adalah provinsi yang namanya selalu ada dalam sejarah sepak bola Indonesia.

“Sepak bola nasional itu tidak pernah tidak ada Maluku. Cerita-cerita sejarah sepak bola nasional  ada nama Maluku. Jadi saya mau bilang sepak bola nasional tanpa Maluku tidak ada apa-apanya. Timnas itu pasti ada saja potensi-potensi pemain Maluku di dalam­nya. Maluku itu nadinya sepak bola nasional,” beber Ruyadh.

Ia berharap Kongres PSSI Ma­luku 2025 melahirkan keputusan-keputusan terbaik dan kedepannya sepak bola Maluku akan kembali berjaya di kancah nasional maupun internasional. (S-07)

BERITA TERKAIT