Ibu Wa Messy (84) tak kuasa menahan air mata yang turun hingga membasahi pipinya. Suaranya tercekat. Hari itu ia melihat sebuah bangunan telah berdiri di atas tanahnya, rumah permanen yang kokoh, hasil sentuhan program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) ke-126 Tahun 2025 Kodim 1504 Ambon. “Saya hanya bisa bersyukur karena rumah kami sudah bisa dibangun dengan bagus,” ujar perempuan lansia itu dengan suara tercekat.
Hari itu, Senin 3 November 2025, kata-kata itulah yang diucapkan ibu delapan anak itu kepada Siwalima, saat menemuinya di rumahnya di Dusun Batu Tagepe, Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Provinsi Maluku.
Sehari-hari Ibu Wa Messy, hidup dari bertani. Hasil berkebun itu digunakan untuk membiayai anak-anak sekolah dan makan setiap hari, karena itulah Ia tak mampu untuk membangun rumah yang layak bagi keluarganya. Setelah ditinggalkan suaminya karena meninggal sejak 30 tahun lalu, ibu Messy, kerap sapaannya, harus berjuang sendiri menafkahi keluarganya.
Setiap musim hujan tiba, baskom pun digunakan untuk menampung air hujan yang menetes dari atap seng yang bocor. Angin yang meniup masuk dari belahan papan yang lapuk selalu menemani kehidupan Ibu Messy bersama anak dan cucu-cucunya.
“Kami tak bisa tidur karena air hujan yang menetes masuk ke dalam rumah, belum lagi kalau angin, kami rasa dingin,” katanya.
Mimpinya untuk memiliki rumah yang aman dan nyaman seolah terkubur oleh realitas ekonomi yang sulit. Sampai suatu ketika sebuah kabar yang tak ia duga datang, Kodim 1504 Ambon memberi bantuan kepada warga berupa pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Namanya masuk dalam daftar bantuan pembangunan rumah tersebut.
“Pak kadus datang dengan bapak-bapak tentara lihat rumah dan mengatakan kalau nanti dapat bantuan pembangunan rumah,” ujarnya lagi, dengan suara tercekat.
Merajut Kemanunggalan
Program TMMD, sebuah inisiatif lintas sektoral antara TNI, pemerintah daerah, Polri dan masyarakat setempat, hadir sebagai jawaban untuk mempercepat denyut pembangunan di daerah-daerah terpencil. Di Dusun Batu Tagepe, Desa Poka, salah satu fokus utamanya adalah mengubah wajah rumah-rumah tidak layak huni menjadi hunian yang lebih layak dan sehat.
Prosesnya jauh dari kata instan. Logistik menjadi tantangan awal. Anggota TNI dan warga bahu-membahu mengangkut material bangunan, pasir, semen, kayu, dan batu bata, melintasi medan yang sulit dijangkau. Keringat bercucuran, namun semangat tak surut.
Jalan rusak sepanjang dua kilometer bukanlah penghambat bagi prajurit dan masyarakat mengangkut material. Gotong royong menjadi denyut nadi utama kegiatan ini. “Ini bukan sekadar membangun fisik, tapi juga membangun jiwa kebersamaan,” ungkap La Midu, salah seorang warga yang turut serta dalam kegiatan tersebut.
Tidak ada sekat antara pangkat militer dengan masyarakat di lokasi pembangunan. Semua melebur dalam satu tujuan. Warga Dusun Batu Tagepe secara sukarela datang membantu, menyediakan tenaga, bahkan menyiapkan hidangan sederhana untuk dinikmati bersama saat istirahat. “TMMD bukan cuma bangun rumah, tapi juga bangun harapan dan impian masyarakat,” kata Kadus Batu Tagepe, La Amidin.
Demi mengejar target penyelesaian proyek yang dinantikan, 20 hari prajurit dan masyarakat bekerja ekstra. “Ini bukan sekadar bekerja, tapi kami saling bahu-membahu tanpa mengenal waktu dan tenaga,” ungkap Serka Ronald Uspessy, yang turut serta membangun rumah Ibu Messy.
Kisah tentang kemanunggalan TNI dan rakyat, yang terwujud dalam setiap adukan semen dan bilah kayu pembangunan RTLH mengubah dinding papan yang lapuk dan atap seng yang bocor menjadi rumah impian.
Perlahan, bangunan rapuh itu berubah wujud. Kini, rumah impian Ibu Messy berukuran 4,5x5 meter persegi itu berdiri kokoh, berbalut dinding beton putih yang rapi dan elegan, memberikan kesan bersih serta kuat. Sentuhan modernitas juga terasa di bagian dalam, dimana lantai keramik sumbangan pribadi Pangdam XV/Pattimura, Mayjen TNI Putranto Gatot Sri Handoyo, memantulkan cahaya, menambah indah suasana hunian baru itu.
Lebih dari sekadar material bangunan, dinding beton putih dan lantai keramik itu adalah simbol nyata dari kepedulian dan empati seorang pemimpin terhadap rakyatnya. Bagi Ibu Messy, rumah ini bukan hanya tempat berteduh, melainkan sebuah monumen hidup dari kebaikan hati yang tulus. “Alhamdulillah, terima kasih, kami sudah bisa memiliki rumah yang bagus seperti ini,” kata ibu Messy lagi.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di setiap sudut negeri, masih ada tangan-tangan yang siap membantu, mewujudkan mimpi-mimpi kecil menjadi kenyataan yang indah dan menyentuh hati. Inilah indahnya berbagi, yang mengubah dinding kusam dan lapuk menjadi rumah impian yang penuh makna.
“Kami berharap rumah ini bisa membuat ibu merasa senang dan nyaman tinggal bersama anak dan cucu-cucu,” kata Pangdam, saat meninjau rumah ibu Messy, Kamis (6/11/2025). “Harus dirawat dengan baik, karena ini bantuan dari pemerintah yang bekerja sama dengan TNI,” kata Pangdam lagi.
Tak pelak menahan air mata, Ibu Messy pun berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Pangdam. “Terima kasih pak, alhamdulillah, semoga panjang umur, sehat selalu,” ujar Ibu Messy sembari mencium tangan Pangdam sebagai tanda ucapan terima kasihnya.
Wajah Baru
Perasaan aman dan nyaman, bukan saja menyelimuti keluarga ibu Messy, yang memberikan fondasi kuat untuk pertumbuhan dan kesejahteraan keluarga. Namun hal yang sama dirasakan La Hendry, warga Dusun Batu Tagepe bersama La Udin, La Nasrul dan Nal Ode, warga Dusun Karang karang, Desa Poka.
Mereka adalah penerima bantuan pembangunan RTLH program TMMD Tahun 2025 Kodim 1504 Ambon.
Lebih dari sekadar proyek fisik, TMMD adalah manifestasi nyata dari kemanunggalan TNI dan rakyat. Di lokasi-lokasi terisolir, di mana akses jalan masih sulit dan fasilitas umum minim, prajurit TNI dan Polri hadir bukan hanya dengan seragam lengkap, tetapi juga dengan sekop, cangkul, dan semangat gotong royong. Mereka bahu-membahu bersama warga setempat, meratakan jalan, membangun drainasse dan MCK, membangun reservoir hingga melakukan penyuluhan dan penanaman pohon. Sinergi yang tercipta di lapangan menjadi bukti hidup filosofi “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Suasana kebersamaan yang terjalin erat antara aparat keamanan dan masyarakat sipil seolah menghapus sekat-sekat formalitas. Tawa dan keringat bercampur baur, menciptakan ikatan emosional yang kuat, melampaui tugas negara semata.
Sentuhan Pembangunan
Wakil Walikota Ambon, Ely Toisutta, mengaku betapa berharganya kolaborasi ini. Dalam berbagai kesempatan, terutama terkait pelaksanaan program TMMD, Ely menyampaikan rasa terima kasih atas sinergi luar biasa tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kemitraan luar biasa ini. Berbagai sarana dan prasarana yang dibangun telah membawa manfaat besar bagi masyarakat,” ujar Ely.
Manfaat tersebut, menurut Ely, bukan sekadar retorika, melainkan terlihat dari infrastruktur nyata yang kini mempermudah akses dan meningkatkan kualitas hidup warga. Program TMMD, yang menjadi salah satu wujud konkret kerja sama ini, dinilai efektif menjembatani kebutuhan dasar masyarakat di wilayah-wilayah yang membutuhkan sentuhan pembangunan.
Melihat dampak positif yang signifikan, Pemkot Ambon tidak hanya berhenti pada apresiasi. Harapan besar dilontarkan agar kemitraan strategis ini terus berlanjut dan meluas. “Ke depan, kami berharap kerja sama ini terus berlanjut, tidak hanya di Desa Poka, tapi juga menyebar ke desa-desa lain,” harap Ely.
Komitmen Pemkot Ambon terhadap keberlanjutan program ini pun diperkuat dengan rencana konkret pengalokasian anggaran. Ely menegaskan, Pemkot Ambon akan berupaya meningkatkan alokasi anggaran untuk mendukung program TMMD pada tahun-tahun berikutnya. Langkah ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat secara merata, memastikan bahwa setiap jengkal wilayah di Ambon turut merasakan denyut pembangunan yang berkelanjutan.
Namun, semangat “manunggal” tidak berhenti pada selesainya proyek. Peran masyarakat sebagai subjek utama pembangunan menjadi krusial dalam fase pemeliharaan. Partisipasi aktif dalam menjaga dan merawat hasil TMMD memastikan bahwa investasi waktu, tenaga, dan anggaran yang telah dikeluarkan dapat memberikan dividen sosial dan ekonomi dalam jangka panjang.
“Saya berharap masyarakat di wilayah Batu Tagepe dan Karang-Karang, Desa Poka ini dapat memelihara hasil pembangunan yang sudah ada. Semua ini adalah aset untuk kepentingan bersama, yang akan memperlancar mobilitas dan meningkatkan perekonomian warga,” pinta Pangdam, Mayjen TNI Putranto Gatot Sri Handoyo, saat menutup TMMD ke-126 Tahun 2025, Kamis (6/11/2025).
Pesan Pangdam XV/Pattimura, adalah pengingat bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa megah infrastruktur yang dibangun, tetapi juga oleh seberapa kuat komitmen warganya untuk merawat dan mengoptimalkan manfaatnya. Di sanalah letak kunci kemandirian dan kesejahteraan masyarakat di wilayah timur Indonesia.
Sebulan sudah program TMMD ke-126 Tahun 2025 Kodim 1504 Ambon telah dilaksanakan, meninggalkan jejak nyata berupa program fisik dan non fisik termasuk deretan RTLH yang telah menjelma menjadi hunian layak dan sehat.
Di mata warga seperti Ibu Messy, selesainya program ini bukan sekadar penyerahan kunci, melainkan awal dari harapan baru, kehidupan yang lebih baik, dan martabat yang pulih.
(Fabiola Jolanda Koenoe-Harian Pagi Siwalima)