AMBON, Siwalima.id - Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah dipastikan akan digelar di Lapangan Merdeka Ambon seperti yang dilaksanakan di tahun 2025 lalu.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Al-Fatah, Abidin Wakano menjelaskan, pihaknya saat ini sementara memantau persiapan menjelang Sholat Idul Fitri, khususnya bagi umat Muslim di Kota Ambon dan sekitarnya.
Bahkan komunikasi dan koordinasi dengan Gubernur Maluku telah dilakukan, sebagai bentuk komitmen bersama memberikan pelayanan yang terbaik kepada umat Muslim saat merayakan Hari Raya Idul Fitri.
“Masjid Raya Al-Fatah ini adalah masjid provinsi, maka kita harus laporkan kepada gubernur sebagai bagian dari kolaborasi Yayasan Al-Fatah dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan dipastikan Sholat Idul Fitri akan berlangsung di Lapangan Merdeka,” ucap Abidin kepada wartawan di Kantor Gubernur, Senin (9/3).
Alasan utama dipilihnya Lapangan Merdeka sebagai tempat Sholat Idul Fitri kata Abidin, dilakukan dengan mempertimbangkan kapasitas masjid, dimana untuk Sholat Idul Fitri nanti, diprediksi akan diikuti lebih dari 50 ribu umat Muslim di Kota Ambon dan sekitarnya.
Selain itu, Lapangan Merdeka dipilih sebagai lokasi Sholat Idul Fitri, sebagai bagian dari upaya merekatkan kehidupan orang basudara lintas agama di Maluku, khususnya Kota Ambon dan sekitarnya.
“Sholat Idul Fitri nanti akan dipimpin oleh Imam Masjid Raya Al-Fatah Ustad Hadi Basalamah, sementara khotib akan disampaikan kemudian, tapi dalam perencanaan kami akan dipimpin oleh pa Kapolda Maluku,” jelas Abidin.
Terkait dengan waktu Sholat Idul Fitri 1447 Hijriyah, Abidin memastikan, akan mengikuti penentuan 1 Syawal oleh pemerintah pusat melalui sidang isbath yang akan digelar pada pekan depan.
Abidin menegaskan, Ramdhan harus menjadi bulan berkah dan semakin meningkatkan iman, taqwa serta harus membawa seruan damai untuk merekatkan kehidupan orang basudara serta memperkuat solidaritas sosial diantara sesama anak bangsa.
“Untuk perayaan malam takbiran nanti, harus menjadi malam yang syahdu dan khusyuk. Malam takbiran itu harus dimanfaatkan untuk membesarkan nama Allah SWT, maka jangan lagi ada raungan-raungan kendaraan, itu bukan syi’ar tapi itu menodai syi’ar. Malam takbiran itu harus tenang,” tegas Abidin.(S-20)