AMBON, Siwalimanews – Kemelut pengelolaan Pasar Mardika yang masih amburadul tak kunjung tuntas, walaupun telah berganti pimpinan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Sejak diresmikan pada 18 April 2024 lalu, wajah pasar Mardika yang seharusnya dijadikan sebagai tempat yang layak dan nyaman bagi para pedagang, namun justru dijadikan sebagai tempat menindas para pedagang kecil.
Berbagai rentetan penindasan mulai dari tidak adanya los yang memadai bagi para pedagang, hingga tindakan kekerasan yang dialami pedagang mewarnai pengelolaan Pasar Mardika.
Terakhir, publik dikejutkan dengan beredarnya video intimidasi yang dilakukan segelintir orang mengatasnamakan petugas penertiban pasar yang melakukan aksi kekerasan kepada para pedagang.
Dalam video berdurasi 4 menit tersebut, terlihat jelas sejumlah pemuda berpakaian putih lengan panjang, sementara melakukan aksi penertiban terhadap pedagang di depan pintu masuk Pasar Mardika, namun dengan nada arogan.
Bahkan tak segan-segan para petugas melakukan tindakan seperti preman dengan melempar tempat jualan pedagang yang disertai dengan suara keras kepada para pedagang.
Kebijakan Plh Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Achamd Jais Ely yang menggunakan jasa sejumlah orang yang adalah pihak kediga untuk menertibkan Pasar Mardika tersebut, tentu tidak sesuai. Semestinya Disperindag menggunakan Satpol PP untuk melakukan penertiban.
Kendati begitu, Plh Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Achamd Jais Ely membantah tudingan terkait penggunaan preman dalam menata pasar Mardika.
Kepada Siwalimanews di Kantor Gubernur, Rabu (6/8) Jais mengaku, memang pihaknya melibatkan sejumlah pemuda untuk membantu proses penertiban Pasar Mardika. Namun, ia membantah adanya tudingan masyarakat, bahwa orang-orang yang ditugaskan sebagai petugas penertiban pasar adalah preman.
“Betul, jadi ada 6 orang yang saya rekrut menjadi tim dalam penertiban Pasar Mardika, tapi mereka bukan preman sebab mereka ditetapkan dengan SK,” ujarnya.
Jais membeberkan, enam orang yang direkrut tersebut merupakan orang-orang yang selama ini membantu dalam penataan pasar, sehingga Disperindag sangat terbantu dengan adanya para petugas tersebut.
Ditanya alasan tidak menggunakan Satpol PP, Jais justru enggan mengomentari, dan berkilah tidak ada preman di Pasar Mardika.
“Kita ini ingin Pasar Mardika lebih tertib, tapi makanya kita harus tegas, tapi tidak ada preman di Pasar Mardika ini,” tegas Jais.(S-20)