SIWALIMA.id > Berita
BI Sebut Pembayaran Non Tunai Capai 6,6 Triliun
Ekonomi | Senin, 8 Desember 2025 pukul 13:54 WIT

AMBON, Siwalima.id - Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Maluku mencatat, transaksi Real-Time Gross Settlement (RTGS) meningkat sejalan dengan naiknya aktivitas perdagangan.

“Nominal transaksi RTGS mencapai  6,67 triliun atau tumbuh 19,91 persen (yoy), sementara volumenya naik 7,08 persen (yoy),” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Mohamad Latif, dalam rilisnya, Jumat (5/12).

Ia menjelaskan perekonomian Maluku pada edisi November 2025 mencatat digitalisasi pembayaran semakin masif, didorong oleh pemanfaatan BI-FAST, QRIS, serta peningkatan infrastruktur pembayaran seperti BI-RTGS dan SKNBI.

Meski demikian, pertumbuhan RTGS mulai melambat karena masyarakat beralih ke BI-FAST yang menawarkan biaya transfer lebih rendah, yakni Rp2.500 per transaksi, dengan limit hingga Rp 250 juta.

Sementara untuk Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) juga mengalami peningkatan.

“Nominal transaksi meningkat 15,72 persen (yoy) menjadi 736 miliar, sementara volumenya melonjak 62,66 persen (yoy). SKNBI banyak dimanfaatkan untuk kliring warkat debet dan penagihan reguler,” jelasnya.

Menurutnya, BI-FAST tetap mencatat tren positif, meski mengalami perlambatan. Sepanjang triwulan III 2025, nominal transaksi tercatat Rp 6,89 triliun atau tumbuh 5,04 persen (yoy), sementara volume mencapai 3,76 juta transaksi, tumbuh 7,05 persen (yoy).

Kenaikan ini didorong perayaan-perayaan besar di Maluku seperti HUT Kota Ambon, perayaan HUT GPM, serta kegiatan wisuda beberapa universitas.

Lanjutnya QRIS menjadi kanal pembayaran paling cepat tumbuh di Maluku. Volume pada triwulan III 2025 mencapai 2,20 juta transaksi, melonjak 120,16 persen (yoy).

“Nominal transaksi ikut naik menjadi 302,66 miliar atau tumbuh 76,17 persen (yoy),” ujarnya.

Namun, transaksi QRIS masih terkonsentrasi di Kota Ambon, yang menguasai lebih dari 75 persen pangsa transaksi. Jumlah merchant juga didominasi Ambon dengan pangsa 50,24 persen dari total 101.783 merchant di Maluku.

“Pertumbuhan pengguna (user) QRIS mencapai 155.714 orang, tumbuh 8,81 persen (yoy), meski penambahan pengguna baru melambat hingga 64,69 persen (yoy),” jelasnya.

Sedangkan untuk transaksi kartu ATM dan debit (ATMD) menurun tajam. Nominal transaksi tercatat Rp 12,38 triliun, terkontraksi 57 persen (yoy). Volume transaksi juga turun 7,95 persen (yoy).

Sebaliknya, transaksi kartu kredit meningkat. Nominal transaksi tumbuh 10,48 persen (yoy) menjadi Rp63,51 miliar, sementara volumenya naik 15,25 persen (yoy).

Transaksi uang elektronik (UE) memperlihatkan tren positif. Nominal transaksi mencapai Rp 117,78 miliar dan volume 1,43 juta transaksi, masing-masing tumbuh 16,06 persen dan 31,34 persen (yoy).

“Ini menandakan penerimaan masyarakat terhadap pembayaran digital semakin kuat,” tegasnya.

Selain itu, BI Maluku menjalankan program edukasi Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah yang dibarengi layanan penukaran uang tidak layak edar (UTLE) langsung di pasar-pasar tradisional.

“Program ini akan diperluas ke sekolah, kampung, kelurahan hingga pesantren,” urainya. (S-25)

BERITA TERKAIT