SIWALIMA.id > Berita
Dari Blokade ke Perang Terbuka
Opini | Kamis, 16 April 2026 pukul 12:59 WIT

 

KALIMAT itu singkat, tetapi dampaknya bisa panjang: Amerika Serikat akan memblokade kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran. Pernyataan Donald Trump itu bukan sekadar retorika. Ia peringatan, bahkan ancaman, bahwa dunia sedang melangkah ke fase konflik yang jauh lebih berbahaya.

Blokade bukan kebijakan biasa. Dalam sejarah hubungan internasional, blokade hampir selalu dipandang sebagai tindakan perang. Ia bukan lagi tekanan diplomatik, bukan pula sekadar sanksi ekonomi. Ia upaya fisik untuk menghentikan pergerakan negara lain, dengan kekuatan militer. Sejarah mencatat bagaimana blokade Kuba pada 1962 hampir menyeret dunia ke perang nuklir. Kali ini, konteksnya berbeda, tetapi logika eskalasi bekerja dengan cara yang sama.

Jika blokade benar-benar dijalankan, ketegangan berpotensi meningkat menuju konfrontasi langsung. Namun, eskalasi tidak selalu berjalan lurus menuju perang. Dalam banyak krisis, ruang manuver dan kalkulasi tetap memainkan peran penting.

STRATEGI EKONOMI DAN 

GEOPOLITIK IRAN

Di lapangan, dinamika sudah bergerak cepat. Amerika mengonfirmasi rencana blokade, sebuah operasi militer besar yang berpotensi memicu respons keras. Namun, Iran bukan aktor yang mudah ditekan. Sejak awal konflik, Teheran menunjukkan kapasitas asimetris yang signifikan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan sempat mengontrol Selat Hormuz dalam periode krusial meskipun berada di bawah tekanan militer yang intens.

Lebih dari itu, Iran tidak hanya bertahan, tetapi juga memainkan strategi ekonomi dan geopolitik. Kapal-kapal tertentu tetap diizinkan melintas, termasuk yang menuju Tiongkok dan India, sebagian menggunakan yuan. Itu menunjukkan Iran masih memiliki leverage nyata dalam sistem energi global, sekaligus mengirim pesan bahwa tekanan tidak serta-merta menghilangkan kapasitas mereka untuk mengatur ritme konflik.

Teheran juga memberikan sinyal tegas bahwa setiap ancaman akan dibalas. Namun, respons Iran cenderung terukur, tidak selalu frontal, tetapi cukup untuk menunjukkan kapasitas dan menjaga posisi tawar. Pola itu menunjukkan Iran tidak hanya bereaksi, tetapi juga menghitung setiap langkah dalam kerangka strategi jangka panjang.

Konflik itu se­makin kompleks karena melibatkan aktor be­sar lain. Rusia dan Tiongkok secara ter­buka menolak tekanan sepihak terhadap Iran. Veto mereka di Dewan Keamanan PBB menegaskan dunia tidak lagi bergerak dalam kerangka unipolar. Rusia melihat dinamika itu sebagai bagian dari kompetisi strategis yang lebih luas, sementara Tiongkok berkepentingan menjaga stabilitas jalur energi yang menopang ekonomi mereka.

Keterlibatan kedua negara itu tidak hanya memperumit situasi, tetapi juga menciptakan keseimbangan baru. Dalam banyak kasus, kehadiran beberapa kekuatan besar justru menahan konflik agar tidak berkembang tanpa kendali karena setiap pihak menyadari bahwa eskalasi penuh akan membawa biaya yang sangat besar.

Namun, risiko tetap nyata, terutama di Selat Hormuz, jalur vital bagi energi global. Ketika aktivitas militer meningkat di wilayah itu, kesalahan kecil dapat berdampak besar. Harga energi mulai berfluktuasi dan ketidakpastian meningkat.

Bagi Indonesia, dampaknya tidak bersifat abstrak. Ketergantungan pada impor energi membuat gejolak global cepat terasa di dalam negeri, dari harga BBM hingga biaya logistik. Selain itu, keberadaan warga negara Indonesia di kawasan Teluk menambah dimensi kemanusiaan yang tidak bisa diabaikan.

Meskipun demikian, tidak semua pintu tertutup. Gencatan senjata dua minggu yang sebelumnya disepakati melalui mediasi Pakistan menunjukkan saluran diplomasi, meski sempit dan rapuh, masih ada. Faktanya, Trump sendiri telah beberapa kali menetapkan tenggat lalu menundanya, sebuah pola yang bisa dibaca sebagai ruang manuver yang masih dijaga.

Pertanyaannya bukan hanya apakah perang akan pecah, melainkan apakah ada aktor yang cukup berpengaruh untuk mengisi ruang kosong itu sebelum sebuah insiden kecil mengunci semua pihak pada eskalasi yang tidak diinginkan siapa pun. Karena itu, yang dibutuhkan saat ini bukan hanya kekuatan, melainkan juga pengelolaan krisis yang hati-hati.

MENDORONG JALUR 

DIPLOMASI MULTILATERAL 

Ada tiga langkah yang patut dipertimbangkan. Pertama, mendorong jalur diplomasi multilateral melalui aktor-aktor penyeimbang seperti Tiongkok dan negara-negara nonblok untuk menjaga komunikasi tetap terbuka.

Kedua, memastikan keamanan jalur maritim melalui mekanisme internasional yang tidak bersifat konfrontatif sehingga tidak semua interaksi di laut langsung diterjemahkan sebagai ancaman militer.

Ketiga, bagi Indonesia, memperkuat ketahanan energi domestik sekaligus menyiapkan skenario mitigasi agar dampak global tidak langsung membebani masyarakat.

Pada akhirnya, blokade mungkin membuka jalan eskalasi, tetapi tidak otomatis menutup jalan menuju stabilitas. Sejarah menunjukkan krisis besar tidak selalu berakhir dengan perang, tetapi sering kali ditentukan kemampuan para aktor untuk menahan diri dan memberikan ruang bagi solusi. Yang paling menentukan bukan hanya seberapa dekat dunia dengan konflik, melainkan juga seberapa jauh para pemimpin bersedia mencegahnya.Oleh:  Mohammad Ayub Mirdad Dosen hubungan internasional Universitas Airlangga Koordinator Lab Centre for Strategic and Global Studies (CSGS).(*)

BERITA TERKAIT