AMBON, Siwalima.id - Gereja Protestan Maluku terus menegaskan komitmennya dalam merawat perdamaian dan memperkuat rekonsiliasi lintas iman di Kota Ambon.
Komitmen itu diwujudkan melalui kegiatan remaja baku dapa, yang melibatkan anak dan remaja dari berbagai latar belakang agama.
Sekretaris Umum MPH Sinode GPM, Pendeta HR Tupan menjelaskan, kegiatan yang digagas oleh Klasis Pulau Ambon tersebut, telah berjalan selama lima tahun terakhir. Program ini pada awalnya dirancang untuk meredam ketegangan sosial di kawasan Air Salobar Pohon Mangga, namun dalam perkembangannya, justru menjadi ruang perjumpaan yang membangun relasi persaudaraan dan solidaritas antar umat beragama.
“Lima tahun lalu kegiatan ini dibangun untuk meredam ketegangan. Puji Tuhan, kegiatan ini berhasil dan melahirkan kehidupan bersama yang saling menjaga, saling menyayangi dan saling menghormati,” ucap Tupan kepada wartawan usai kegiatan tersebut, Senin (29/12).
Ia mengungkapkan, hingga kini tercatat sekitar 570 anak dan remaja telah menjadi lulusan dari berbagai kegiatan lintas iman tersebut. Kedepan, GPM berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program selama lima tahun, sekaligus memperluas jangkauannya ke wilayah lain di Kota Ambon.
“Tahun depan kita akan kumpulkan kembali untuk evaluasi. Kita ingin buat kegiatan ini lebih besar agar wilayah lain juga terimbas, seperti Ambon Utara, Ambon Timur, bahkan seluruh Kota Ambon,” janji Tupan.
Menurutnya, tidak menutup kemungkinan program ini akan dikembangkan ke komunitas lintas agama lainnya, termasuk Katolik, Hindu dan Buddha, sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan dan harmoni sosial di Maluku.
Anak-anak dan remaja, menjadi fokus utama kegiatan ini sebagai investasi perdamaian jangka panjang.
“Benih-benih perdamaian harus ditanam sejak dini. Lima hingga dua puluh tahun ke depan, mereka inilah yang akan menjadi pemuda dan orang dewasa yang telah dibentuk dengan nilai-nilai damai,” tandas Tupan.
Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat, Rustam Simanjuntak, menyampaikan apresiasi atas inisiatif GPM bersama komunitas lintas iman, yang konsisten menggelar kegiatan tersebut.
Pemerintah Kota Ambon, memberikan dukungan penuh terhadap program-program yang berorientasi pada perdamaian.
“Tidak mudah mengumpulkan anak-anak dan remaja lintas iman dalam satu ruang kebersamaan. Karena itu, Kota Ambon kami dorong jadi rujukan pengembangan komunitas cinta damai di Maluku,” ujar Rustam.
Rustam mengaku, meskipun kegiatan serupa juga berlangsung di daerah lain, Kota Ambon dinilai berhasil mengemasnya secara sistematis, simultan dan berkesinambungan, sehingga dampaknya dapat dievaluasi secara lebih terukur.
Hal senada disampaikan Ketua Majelis Pekerja Klasis Pulau Ambon Pendeta WA Beresaby, bahwa gereja menjalankan mandat rekonsiliasi dengan menjadikan anak-anak sebagai basis strategis pembangunan perdamaian pasca konflik.
“Anak-anak ini lahir setelah konflik 1999. Karena itu penting bagi mereka untuk berkumpul dan mendapatkan narasi yang benar dari orang-orang yang tepat,” ucap Beresaby.
Pada pelaksanaan tahun kelima, jumlah peserta mencapai sekitar 530 anak, dengan dukungan penuh dari orang tua serta aparat lingkungan RT dan RW. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan izin tertulis dari orang tua sebagai bagian dari pendekatan persuasif dan partisipatif.
“Kami berharap mereka menjadi agen dan pewaris damai di kota ini. Dampaknya mungkin belum sepenuhnya terukur secara kuantitatif, namun secara kualitatif sudah sangat terasa di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Beresaby juga mengungkapkan, bahwa refleksi anak-anak selama kegiatan telah dibukukan dalam “Cermin Harmoni”, yang memuat luapan perasaan dan pengalaman mereka selama mengikuti perjumpaan lintas iman.
“Mereka menulis dengan hati yang polos dan penuh sukacita karena bisa baku dapa dan berkegiatan bersama. Ini menjadi bukti, bahwa ruang damai memang perlu direkayasa dan terus dirawat,” cetus Beresaby.(S-26)