SIWALIMA.id > Berita
Kaidel Akui Bahasa Menumbai Punah di Aru
Budaya | Kamis, 30 Oktober 2025 pukul 13:20 WIT

DOBO, Siwalima.id - Bupati Aru Timotius Kaidel mengakui ada sejumlah bahasa daerah yang hilang di Kabupaten Kepulauan Aru, salah satunya Bahasa Menumbai.

Hal ini disampaikan Kaidel ketika membuka festival tunas bahasa itu di tribun Lapangan Yos Soedarso, Kota Dobo, kemarin.

Dikatakan kalau saat ini penting untuk dilakukan revitalisasi bahasa daerah sehingga perlu kerjasama semua pihak baik Balai Bahasa Provinsi Maluku, Pemkab Aru juga masyarakat pada umumnya.

“Revitalisasi bahasa daerah tidak dapat berhasil tanpa dukungan dari berbagai pihak,” ungkapnya.

Dikatakan, sinergi antara peme­rintah pusat, pemerintah daerah, ko­munitas, dan sektor pendidikan sa­ngat diperlukan untuk memastikan program ini berkelanjutan. 

Lewat festival ini lanjutnya meru­pakan upaya pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota untuk menjaga, merawat, memelihara dan melestarikan bahasa daerah melalui kurikulum merdeka belajar episode ke-17.

Lanjutnya, pelestarian bahasa sangatlah penting di era perkem­bangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia yang menuntut harus menjunjung dan melestari­kan bahasa lokal dari negara lain.

Selain itu, penguasaan seseorang terhadap bahasa daerah pada saat ini merupakan suatu kebahagiaan, karena telah diakui oleh negara sebagai substansi pengembangan bakat dan minat dalam manajemen talenta nasional. 

Saat ini terindikasi pada setiap wilayah di Indonesia, penutur bahasa daerah sudah semakin berkurang termasuk di Kabupaten Kepulauan Aru. 

“Bahasa daerah hanya dapat ditutur oleh orang dewasa pada keturunan ketiga atau keempat, sementara untuk anak-anak sangat sedikit dapat mengatur bahasa daerahnya, Hal yang sama juga dirasakan di kabupaten Kepulauan Aru,” ujarnya.

Olehnya, dirinya berharap Dinas Pendidikan melakukan perencanaan yang strategis dalam pengembangan dan pelestarian bahasa daerah, selanjutnya dimuat dalam kurikulum muatan lokal.

“Kita harap dapat dipelajari setiap jenjang pendidikan dan disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuannya masing-masing sekolah, baik  SD maupun SMP,” tambahnya.

Kepada peserta festival ia berpesan agar dapat menampilkan keterampilan dan talenta yang terbaik yang sudah dipersiapkan oleh pengajar dan fasilitator bahasa daerah masing-masing. 

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan lomba kreatif, puisi, dongeng, stand up comedy, pidato, menulis cerpen dan menya­nyi dalam bahasa daerah. (S-11)

BERITA TERKAIT