DOBO, Siwalima.id - Kebijakan Bupati Aru, Timotius Kaidel untuk menghentikan program tol laut, mulai disoroti baik oleh masyarakat maupun para pengguna jasa tol laut di kabupaten tersebut.
Agen jasa pengirim barang tol laut Broery Letwory melalui podcast laman Facebook Ige Selly mengungkapkan, pernyataan bupati yang menyebutkan, bahwa selama 10 tahun program tol laut di Aru tidak memberikan dampak, adalah pernyataan yang tidak berdasar kajian dan data yang akurat.
"Jika hanya disampaikan tanpa hal tersebut, itu hanyalah opini yang tidak berdasar," ketusnya.
Menurut Broery, fakta harga tol laut dan komersil punya perbedaan yang jauh, bahkan sang bupati pernah memakai jasa tol laut di tahun 2019 untuk mengangkut aspal.
"Dia pakai jasa tol laut itu karena harga murah dan sangat memberikan manfaat keuntungan perusahaannya saat itu," beber Broery.
Pernyataan bupati yang ingin mengantikan peran tol laut dengan lima kapal reguler komersil, seperti di Kota Tual dan Maluku Tenggara kata Broery, apakah dipikirkan harganya sama dengan tol laut, jika tidak akan tetap berdampak pada harga barang.
Pengguna tol laut lainya cosigne kepada wartawan mengungkapkan, dengan ditiadakannya tol laut tentu akan berdampak pada harga barang dikarenakan kenaikan harga distribusi akan dibebankan kepada konsumen.
Jika alasannya tol laut lama dalam pendistribusian barang, hal tersebut keliru, sebab ada dua pelayaran yang memuat tol laut, yaitu PT Temas dan PT Pelni, sehingga dalam sebulan dua kali distribusi jasa tol laut masuk Kota Dobo.
“Akibat penghentian jasa tol laut ini sudah terasa dampaknya, dengan naiknya harga ayam potong akibat ketersediaan tidak mencukupi kebutuhan di daerah,” bebernya.(S-11)