AMBON, Siwalima.id - Pemprov Maluku memastikan isu dugaan perundungan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 40 Ambon telah diselesaikan pihak Kementerian Sosial.
Penegasan ini disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Maluku, Djalaludin Salampessy merespon polemik adanya perundungan yang terjadi beberapa hari lalu.
Kepada wartawan di Kantor Gubernur, Rabu (19/11) Salampessy menjelaskan, sejak beredarnya isu perundungan tersebut langsung di respon oleh pihak Kementerian Sosial dengan meminta klarifikasi pihak sekolah, siswa terkait dan orang tua, termasuk meminta bukti pendukung.
Bahkan Mensos telah melakukan pertemuan secara terpadu dengan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan, terkait dengan adanya persoalan tersebut dan hasilnya telah diselesaikan.
"Pak Mensos sudah minta klarifikasi oleh kepala sekolah, siswa yang bersangkutan dan orang tua. Dari klarifikasi tersebut diambil kesimpulan ternyata itu kesalahpahaman dan anaknya sendiri juga sudah menyampaikan, orang tuanya juga sudah menyampaikan bahwa itu kesalahpahaman dan tidak ada masalah," ujar Salampessy.
Menurutnya, Sekolah Rakyat di bawah binaan Kementerian Sosial wajib mencegah segala bentuk kekerasan, baik fisik, seksual maupun tindakan intoleransi sehingga wajib dilakukan mitigasi oleh pihak sekolah.
Pihak sekolah kata Salampessy, harus memastikan suasana belajar mengajar di SRMA 40 berjalan dengan lancar tanpa ada persoalan apapun apalagi yang berkaitan dengan kekerasan dan sebagainya.
"Kemarin kami sudah melakukan kunjungan ke SRMA 40 Ambon dan terpantau kondisi di sekolah sangat harmonis jadi kami berharap polemik ini tidak perlu lagi diperbesar,” tandas Salampessy.
Sementara itu, Kepala SRMA 40 Ambon, Afia Fransina Joris dalam keterangan tertulisnya yang diperoleh redaksi Siwalima.id, Rabu (19/11) menegaskan, isu perundungan berupa penyetrikaan tidak benar alias hoaks.
Menurutnya isu penyetrikaan muncul ketika enam siswa yang membuat tanda di dada mereka sendiri, dimana para siswa tersebut menjepit kulit hingga membentuk huruf dan kemudian dibina oleh wali asrama.
"Infonya itu hoaks, tidak ada ancaman atau kekerasan dari guru maupun tenaga kependidikan. Semua pembinaan dilakukan secara baik dan tanpa kekerasan fisik," tegas Afia.(S-20)