SIWALIMA.id > Berita
Pentingnya Jaga Toleransi
Visi | Selasa, 20 Januari 2026 pukul 11:35 WIT

DALAM masyarakat yang semakin beragam, toleransi menjadi kunci untuk menjaga harmoni. Perbedaan suku, agama, budaya, maupun cara pandang adalah realitas yang tak bisa dihindari. Justru disitulah letak keindahan kehidupan, keberagaman yang dapat memperkaya pengalaman kita. Namun, tanpa sikap toleran, perbedaan bisa berubah menjadi sumber konflik.

Makna toleransi dalam kehidupan sehari-hari, Menghargai perbedaan pendapat: Tidak semua orang harus berpikir sama, dan itu wajar; Saling menghormati keyakinan, memberi ruang bagi orang lain untuk menjalankan tradisi atau ibadahnya dan Kesediaan mendengar, toleransi bukan hanya soal menerima, tetapi juga memahami perspektif orang lain.

Mengapa Toleransi Penting ? yakni untuk mencegah konflik sosial, dimana dengan sikap saling menghargai, gesekan kecil tidak berkembang menjadi perpecahan; membangun solidaritas, karena toleransi menumbuhkan rasa kebersamaan meski berbeda latar belakang serta menciptakan lingkungan damai, dimana kehidupan sehari-hari menjadi lebih nyaman ketika setiap orang merasa dihargai.

Menteri Agama, Nasaruddin Umar meminta semua tokoh agama dan masyarakat di Maluku terus menjaga toleransi ditengah keberagaman.

Permintaan Menag ini disampaikan saat memberikan arahan pada temu Tokoh Lintas Agama Provinsi Maluku yang mengusung tema “Ekoteologi dan Kurikulum Cinta" yang berlangsung di Kantor Kanwil Kemenag Maluku, Jumat (16/1).

Menag mengungkapkan keha¬di¬ran tokoh agama, tokoh masya¬rakat, perwakilan berbagai orga¬ni¬sasi keagamaan serta masya¬ra¬kat lintas agama, merupakan wu¬jud komitmen bersama dalam men¬jaga persatuan dan harmoni sosial di tengah keberagaman di Maluku.

Untuk menjaga dan menghor¬mati toleransi ditengah keberaga¬man, Menang menekankan pen¬ting¬nya implementasi kurikulum cinta sebagai pendekatan pendi¬di-kan nilai yang mampu menum¬buhkan sikap saling menghargai, toleransi dan kepedulian sosial sejak dini. 

Kurikulum cinta harus dihadirkan tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga dipraktik¬kan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah masyarakat yang majemuk seperti Maluku.

Seharusnya lebih mudah bagi kita menemukan persamaan dan titik temu dari keragaman agama kita, daripada perbedaannya. Karena pada dasarnya semua agama itu mengajarkan tentang cinta. 

Menag mengumpamakan agama seperti energi nuklir yang memiliki potensi kekuatan luar biasa. Artinya jika dikelola dengan bijak, agama akan menjadi sumber kedamaian dan kesejahteraan namun sebaliknya, jika disalahpahami, agama juga dapat memicu konflik yang merugikan banyak pihak.

Karena itu, seluruh elemen masyarakat di Maluku harus terus memupuk rasa persaudaraan lintas iman sebab nilai persaudaraan tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan agama semata, melainkan harus dibangun atas dasar kema¬nusiaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Toleransi bukan sekadar konsep, melainkan sikap hidup yang harus dipraktikkan setiap hari. 

Dengan menjaga harmoni melalui toleransi, kita tidak hanya memperkuat ikatan sosial, tetapi juga menumbuhkan rasa ke­ma­nusiaan yang universal. Pada akhirnya, dunia yang damai berawal dari langkah kecil: menghargai perbedaan di sekitar kita. (*)

BERITA TERKAIT