PROVINSI Maluku secara rutin menghadapi ancaman banjir rob (banjir pesisir), yang disebabkan oleh pasang surut air laut yang tinggi, sering kali diperburuk oleh fenomena bulan purnama atau super new moon.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Ambon secara berkala mengeluarkan peringatan dini untuk wilayah-wilayah pesisir yang berisiko.
Adanya fenomena Fase Perigee atau jarak terdekat bulan ke bumi dan Bulan Purnama.
Pada Rabu (5/11) berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum.
Berdasarkan pantauan data water level dan prediksi pasang surut, banjir pesisir (rob) berpotensi terjadi di beberapa wilayah pesisir Indonesia diantaranya, Pesisir Kota Ambon, Pesisir Maluku Tengah, Pesisir, Seram Bagian Timur, Pesisir, Kep Kei, Pesisir Kep Aru, dan Pesisir Kep Tanimbar
Potensi gelombang pasang dan banjir pesisir (rob) ini berbeda waktu (hari dan jam) di tiap wilayah. Menurutnya, secara umum wilayah Maluku berpotensi mengalami banjir rob pada periode 02 hingga 13 Oktober 2025.
Potensi gelombang pasang dan banjir pesisir (rob) ini secara umum berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti aktivitas bongkar muat di pelabuhan dan aktivitas di pemukiman pesisir.
Bongkar muat di pelabuhan dan aktivitas di pemukiman pesisir. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar tidak panik.
Dan selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari Pasang Maksimum Air Laut serta memperhatikan update informasi cuaca maritim dari BMKG.
Beberapa daerah di Maluku yang diidentifikasi rawan mengalami banjir rob antara lain, Kota Ambon Daerah seperti Hative Kecil, Galala, dan Waiheru sering dilaporkan terdampak.
Kabupaten Kepulauan Aru,Kabupaten Maluku Tengah,Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra): Beberapa kecamatan dilanda banjir rob dan longsor.
Penyebab utama banjir rob di Maluku dan wilayah pesisir lainnya meliputi:
Pasang surut air laut yang tinggi: Ini merupakan pemicu langsung terjadinya genangan di daratan.
Perubahan iklim (kenaikan muka air laut global): Krisis iklim menyebabkan naiknya permukaan air laut secara bertahap, memperparah dampak banjir rob.
Faktor lokal: Penurunan muka tanah (land subsidence) di beberapa daerah akibat pengambilan air tanah berlebihan atau beban infrastruktur juga dapat memperburuk kondisi.
Banjir rob menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain, gangguan aktivitas masyarakat: Aktivitas di sekitar pelabuhan dan kawasan permukiman terganggu.
Kerusakan infrastruktur: Permukiman, jalan, dan fasilitas umum lainnya terendam dan rusak.
Kerusakan ekosistem pesisir: Hutan mangrove dan ekosistem lainnya dapat rusak.
Gangguan kesehatan dan akses air bersih: Banjir dapat memicu masalah kesehatan dan mengganggu pasokan air bersih.
Kerugian ekonomi: Sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata mengalami kerugian.
Olehnya, BMKG dan pemerintah daerah mengimbau masyarakat di wilayah pesisir untuk tetap waspada dan siap siaga. Upaya mitigasi yang dapat dilakukan meliputi:
Sistem peringatan dini, Membangun dan mengaktifkan sistem peringatan dini banjir;
Adaptasi infrastruktur, Masyarakat secara mandiri dapat meninggikan lantai rumah atau membuat tanggul darurat;
Penanaman mangrove, Restorasi ekosistem pesisir seperti penanaman pohon bakau dapat membantu mengurangi dampak rob dan abrasi.
Kemudian perencanaan tata ruang, Memperketat izin bangunan di area resapan air dan memindahkan tempat hunian ke daerah yang lebih aman dari banjir serta
Pembersihan saluran air, Menjaga kebersihan saluran air secara berkala untuk memastikan kelancaran aliran air.(*)