AMBON, Siwalima.id - Penyakit jantung koroner masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Kota Ambon dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan analisis periode 2023-2025, penyakit ini masih berkontribusi besar terhadap angka kematian di Kota Ambon. Secara tren, tidak terjadi penurunan signifikan jumlah kasus, bahkan terdapat pergeseran penderita ke kelompok usia lanjut (≥60 tahun).
“Penyakit jantung koroner masih menjadi penyebab utama kematian, dan bebannya semakin terasa pada kelompok lansia,” ungkap Kadis Kesehatan Kota Ambon, Johan Norimarna, kepada Siwalima.id melalui telepon Selulernya, Jumat (3/4).
Selain itu kata dia, meskipun perempuan masih mendominasi jumlah kasus, proporsi penderita laki-laki menunjukkan peningkatan hingga sekitar 40 persen pada tahun 2025.
Dari sisi faktor risiko, penyakit ini di Ambon sangat dipengaruhi oleh pola hidup masyarakat, rendahnya aktivitas fisik, kurangnya konsumsi sayur dan buah, serta tingginya paparan asap rokok menjadi faktor utama.
“Sekitar 70 persen faktor risiko masih didominasi perilaku masyarakat, sehingga pendekatan promotif dan preventif menjadi sangat penting,” jelas Norimarna.
Menurutnya, berbagai program kesehatan seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), edukasi kesehatan, serta skrining faktor risiko, dinilai mulai menunjukkan dampak positif, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Namun demikian, dampaknya terhadap penurunan kasus belum signifikan.
Di sisi layanan kesehatan, fasilitas tingkat pertama seperti puskesmas dinilai sudah cukup memadai dari segi alat dan sumber daya. Dukungan program Cek Kesehatan Gratis juga memperkuat upaya deteksi dini, meskipun implementasinya belum optimal akibat rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan rutin.
“Masih ada kendala seperti faktor psikologis dan keterbatasan waktu masyarakat, sehingga perlu strategi inovatif seperti skrining berbasis tempat kerja,” tandas Norimarna.
Dalam penanganan kegawatdaruratan, Kota Ambon telah memiliki layanan call center 112 dan Public Safety Center 119 yang berfungsi menangani kasus darurat, termasuk serangan jantung. Namun, respons layanan tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan, baik dari segi kecepatan maupun koordinasi antar fasilitas kesehatan.
Kedepan, Dinas Kesehatan menargetkan sejumlah langkah strategis, antara lain peningkatan cakupan skrining hingga diatas 70 persen, peningkatan aktivitas fisik masyarakat hingga lebih dari 60 persen, serta penurunan prevalensi perokok di bawah 5 persen melalui penerapan kawasan tanpa rokok.
Selain itu, penguatan sistem rujukan dengan target waktu penanganan kurang dari dua jam juga menjadi prioritas untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien.
“Dengan langkah yang terarah dan terintegrasi, kita harapkan dalam beberapa tahun ke depan terjadi penurunan kasus penyakit ini sekitar 10 hingga 15 persen,” harap Norimarna.(Mg-1)