SIWALIMA.id > Berita
Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Maluku Memprihatinkan
Online | Senin, 17 November 2025 pukul 17:24 WIT

AMBON, Siwalima.id – Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kasus kekerasan terhadap anak di Maluku dilaporkan terus meningkat, bahkan sangat memprihatinkan, mulai dari kekerasan fisik, psikis, seksual, hingga penelantaran.

Melalui pesan yang kuat dan menyentuh, AKP Imelda Haurissa, menyuarakan kegelisahan mendalam atas meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di wilayah Maluku.

Suara anak-anak, yang dahulu mungkin hanya terdengar lirih, kini menjadi jeritan yang menggugah nurani.

“Tolong kami… selamatkan masa depan kami,” demikian pesan yang menjadi sorotan, menggambarkan situasi yang menurutnya semakin mengkhawatirkan,” tulis Kaur Penmas Bidang Humas Polda Maluku, AKP Imelda Haurissa dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima.id, Senin (17/11). 

Menurut AKP Haurissa, banyak anak tumbuh dalam lingkungan yang seharusnya menjadi ruang aman, namun justru menyisakan luka yang tak selalu tampak.

Trauma, ketakutan, hingga hilangnya keceriaan mewarnai masa kecil yang seharusnya dipenuhi kasih sayang.

“Ketika seorang anak Maluku berkata, ‘Beta takut pulang atau ‘Jangan kase tinggal beta’, itu bukan sekadar keluhan. Itu adalah teriakan yang seharusnya menggugah kita semua,” jelas Akp Haurissa.

Melindungi anak lanjut APK Haurissa, bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua, namun juga kewajiban negara, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga sosial, tokoh agama, tokoh adat, hingga masyarakat umum.

Ketika kekerasan terhadap anak terjadi, yang tercoreng bukan hanya keluarga, melainkan juga wajah Maluku. Meski pemerintah dan aparat kepolisian terus memperkuat sistem perlindungan anak dan menindak tegas pelaku kekerasan, namun upaya tersebut tidak akan maksimal tanpa dukungan masyarakat.

“Sikap diam atau pembiaran digambarkannya sebagai bentuk kekerasan baru,” tandas AKP Haurissa.

Ia juga membayangkan, jika anak-anak diberi ruang untuk berbicara terbuka tentang apa yang mereka rasakan, pesan mereka mungkin sederhana, tetapi sangat dalam.

“Kami cuma mau rasa aman, kami mau sekolah, bukan dipukul. Kami mau bermain, bukan dieksploitasi, kami mau orang dewasa lindungi kami. Pesan-pesan ini seharusnya mampu menggerakkan kebijakan, mengubah perilaku, dan mengetuk hati seluruh masyarakat Maluku untuk bertindak,” jelas AKP Hauriisa,.

Jika Maluku, ingin tumbuh sebagai daerah yang damai, maju, dan penuh harapan menurut AKP Haurissa, fpondasinya harus dimulai dari anak-anak hari ini.

Ia juga mengingatkan, bahwa setiap kasus kekerasan yang terjadi, adalah tanda bahwa ada yang gagal dalam sistem perlindungan. Sebaliknya, setiap anak yang terselamatkan menjadi bukti, bahwa masa depan Maluku masih memiliki harapan.

“Dengarkan mereka, lindungi mereka. Berdirilah bersama mereka. Masa depan Maluku bukan milik kita, masa depan itu milik mereka dan mereka memohon kepada kita hari ini,” tulis AKP Haurissa.(S-25)

BERITA TERKAIT