SIWALIMA.id > Berita
Komunikasi yang Bias
Opini | Jumat, 23 Januari 2026 pukul 13:22 WIT

Menyimak fenomena media sosial akhir ini khusus di seputaran kepentingan Maluku, semakin liar dan meniadakan nilai-nilai sosial budaya yang beretika, justru digunakan untuk menyebar hoax fitnah,kriminalisasi seseorang dan kelompok, yang ujungnya adalah menciptakan instabilitas di masyarakat. 

Beberapa waktu berselang banyak teman yang mengirim beberapa konten dan ketika menyimak narasi berbagai konten itu ternyata makin membingungkan justru kalau dikaji dari berbagai dimensi keilmuan sulit menemukan konsep apa yang ada dalam berbagai konten itu oleh karena muatannya tidak terstruktur, kabur, memutar mutar, mengulang ulang dan lebih banyak berisi hoax, fitnah dan menyerang privarsi orang. Sehingga terkesan ada kepentingan Politik dibalik konten konten tersebut.

Jika menggunakan pendekatan epistemologi maka yang membuat konten ini kurang mempunyai sumber pengetahuan (rasio dan pengalaman empiris, dan intiusi) yang baik sehingga konten yang disampaikan kabur dan tidak valid malah tidak berstruktur. 

Selain itu kebenaran konten sama sekali tidak bisa dibuktikan karena yang bersangkutan tidak mampu membedakan mana pengetahuan yang benar dan mana pengetahuan yang salah atau keliru.

Dari pendekatan Ilmu Komunikasi, berbagai konten di media sosial ini dapat dikategorikan sebagai Komunikator GAGAL pada aspek  kejelasan dan tidak terstruktur sehingga melanggar etika komunikasi. Konten ini umumnya bias sehingga menguntungkan pihak tertentu dan merugikan pihak tertentu, dan ada preferensi tertentu. Hanya disayangkkan gaya komunikasi seperti ini menunjukkan bahwa pembuat konten tidak punya penegtahuan atau ada yang salah dalam pola pikir sehingga narasi yang disampaikan selalu bias.

Orang yang gemar berbicara tanpa dasar kajian atau sekedar mengulang narasi tanpa konsep secara verbal seperti orang yang gangguan psikologis, tapi bukan sakit jiwa. Dalam terminologi psikologi dan logika, fenomena lebih sering dikaitkan dengan beberapa kondisi sebagai berikut :

1. DUNNIMG-KRUGER EFFECT :

Kondisi dimana seseorang   yang memiliki pengeta­huan yang rendah  , namun dia merasa bahkan sangat percaya diri bahwa dia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sangat tinggi  meskipun yang dia narasikan tanpa dasar 

2. ARGUMENTUM ad NAUSEAM :

atau kesalahan logika (Logical fallacy ) seseorang merasa bahwa sebuah argumen diulang terus menerus dan ternyata memikat banyak folowers maka argumen yang salah itu yang disadari juga salah itu benar.

3. ECHO CHAMBER( RUANG GEMA)

Kecenderungan menyerap informasi yang sesuai keyakinan yang bersangkutan dan mengulangnya terus menerus tanpa melakukan verifikasi atau kajian kritis terhadap data.

Secara klinis biasanya perilaku ini dianggap sebagai  MASALAH PERILAKU ATAU POLA KOMUNIKASI, dan bukan gangguan jiwa berat namun perlu diwaspadai jangan sampai terjadi delusi atau kehilangan kontak dengan realita.

Kesimpulan sementara bahwa berbagai akun ini sengaja dibuat untuk tujuan tertentu misalnya untuk memproduksi konten untuk menyebar fitnah terhadapa pejabat atau ilembaga dan pejabat tertentu bahakan yang lebih ekstrim menyerang harkat dan martabat individu tertentu kemudian menarik folowers dan ujungnya keuntungan ekonomi. Namun sayangnya semua konten tidak berdasar bukti data valid sehingga kelihatan memfitnah, kemudian kontennya tidakk terstruktur kelihatan seperti orang yang terjangkit penyakit delusi dan kehilangan kontak pribadi. Untuk itu disarankan agar yang selalu memproduksi konten dengan pola narasi yang negatif untuk coba konsul ke psikolog agar tidak semakin parah dan kemudian bisa berujung pada masalah hukum.

Kepada yang suka nonton Akun ini, disarankan ja­ngan menonton sesuatu yang tidak berkualitas, karena akan merendah­kan kualitas kita dan meng­untungkan yang bersangkutan dari sisi ekonominya. Oleh: Nataniel Elake, Pengamat kebijakan Publik.(*)

BERITA TERKAIT