Tiga wilayah di Provinsi Maluku bikin geger dengan ditemukan belasan siswa baik tingkat SD maupun SMP yang mengalami keracunan, setelah menyantap menu makanan bergizi gratis (MBG).
Tiga wilayah tersebut yaitu, Kota Ambon terjadi dua kali, di SD Kritsen Seri ditemukan Belatung dalam MBG, dan pada SDN 35 Passo, belasan siswa alami keracunan. Keracunan diduga berasal menuk mie yang disajikan bagi para siswa.
Di Kota Tual, tercatat 19 siswa pada SD Negeri 17 Kota Tual juga alami keracunan. Keracunan diduga berasal dari buah Melon dalam paket bergizi.
Sedangkan puluhan siswa di SMP Negeri 1 Tepa, Kecamatan Pulau-Pulau Babar, Kabupaten Maluku Barat Daya juga mengalami keracunan.
Dengan ditemukannya bukti-bukti keracunan tersebut, akhirnya tiga unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi resmi ditutup.
Tiga SPPG atau tiga dapur tersebut tersebar di Kota Ambon, Kota Tual dan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang sebelumnya mensuplai makan bergizi untuk dikonsumsi siswa, dan berujung keracunan.
Penutupan tiga dapur tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Pemenuhan Gizi Maluku, Rosita
Pasalnya, makan bergizi gratis merupakan salah satu program Presiden Prabowo Subianto yang harus disukseskan sebagai upaya untuk memastikan masa depan generasi bangsa, khususnya di Maluku dapat terjamin.
Untuk memastikan program MBG ini berjalan dengan baik, tentu Badan Gizi Nasional telah menetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam setiap tahapan penyiapan makanan.
Artinya mulai dari tahapan pemilihan bahan makan, penyimpangan hingga penyajian dan pengiriman ke sekolah-sekolah untuk dikonsumsi oleh siswa, harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Kita tentu saja memberikan apresiasi bagi Kantor Pemenuhan Gizi, karena pasca ditemukannya bukti-bukti siswa menjadi korban keracunan MBG, langsung mengambil tindakan dengan menutup sementara tiga SPPG atau dapur MBG yang menyuplai makan ke tiga sekolah.
Penutupan tersebut tentu saja merupakan langkah tepat yang dilakukan, tetapi juga diharapkan melakukan evaluasi terhadap seluruh kinerja dari SPPG-SPPG yang mengelola makan bergizi.
Selain itu, harus juga melakukan langkah-langkah mitigasi bagi SPPG lain di Maluku guna memastikan makanan yang disajikan tidak bermasalah. Artinya bahwa, bukti ditemukannya keracunana di MBG pada tiga wilayah di Maluku harus menjadi catatan pelajaran penting agar di wilayah-wilayah lainnya di Provinsi Maluku tidak lagi terjadi.
Selain tindakan mitigas, tetapi yang paling penting juga pengawasan secara ketat pada SPPG-SPPG yang lain, dan pendampingan sehingga memastikan penyiapan menu sesuai dengan SOP.
Jika seluruh SPPG di Maluku menerapkan SOP dalam menyajikan menu Makanan Gratis Bergizi maka dengan sendirinya kasus keracunan tidak ditemukan. Kita berharap dengan ditemukannya pada tiga wilayah di Maluku, menjadi pelajaran penting bagi SPPG-SPPG di wilayah lainnya di Provinsi Maluku agar tidak terjadi lagi.(*)