SIWALIMA.id > Berita
Unpatti Kembali Kukuhkan 6 Guru Besar
Headline , Pendidikan | Rabu, 11 Februari 2026 pukul 11:36 WIT

AMBON, Siwalima.id - Universitas Patti­mura kembali mengu­kuhkan enam guru besar baru dalam ra­pat terbuka luar bia­sa senat yang digelar pada, Rabu (11/2) di Auditorium Unpatti, yang dipimpin Rektor Prof Fredy Leiwa­kabessy.

Keenam Guru Be­sar yang dikukuhkan yakni, Guru Besar Fa­kultas Sains dan Tek­nologi Prof. Dr. Ima­nuel Berly Delvis Kapelle, S.Si., M.Si, Guru Besar Kecerdasan Buatan Prof. Wilma Latuny, ST., M.Si., M.Phil., Ph.D., Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi bidang Statistika Spa­sial, Prof. Dr. Henry Junus Watti­manela.

Selanjutnya, Guru Besar Fakul­tas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura, Prof. Dr. Kalvin Karuna, M.Pd., Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura, Prof. Dr. Wilma Akihary, S.Pd., M.Hum dan Guru Besar Fakultas Teknik bidang Ilmu Pengelolaan Wilayah Pesisir, Prof. Dr. Ir. Pieter Th. Berhitu, ST., MT.

Prof. Dr. Imanuel Berly Delvis Ka­pelle dalam orasi Ilmiahnya ber­judul, Maluku sebagai Labora­to­rium Alam: Eksplorasi Kimia Bahan Alam Berbasis Kearifan Lokal untuk Inovasi Obat Berkelanjutan menegaskan, Maluku memiliki posisi strategis sebagai labora­torium alam bagi pengembangan kimia bahan alam berbasis ke­arifan lokal, untuk inovasi obat berkelanjutan.

Prof. Kapelle menyatakan, Maluku tidak hanya dikenal dalam sejarah perdagangan dunia sebagai Spice Islands, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai sumber pengetahuan ilmiah yang berbasis keanekaragaman hayati. 

Hal ini tercermin dari perbedaan komposisi kimia minyak atsiri cengkih Saparua, pala Banda, kayu putih, dan kayu lawang, yang masing-masing memiliki identitas kimia khas wilayah.

Orasi Prof Kepelle ini juga, menyoroti peran penting kearifan lokal masyarakat Maluku dalam pemanfaatan tumbuhan obat, jauh sebelum berkembangnya sains modern. Sejumlah pengetahuan tradisional, terbukti memiliki dasar ilmiah yang kuat antara lain, aktivitas anti bakteri daun pala, sifat antioksidan binahong, serta potensi anti diabetes daun Afrika.

Meski demikian, Prof Kapelle me­ngaku, pengembangan kimia bahan alam di Maluku masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan fasilitas riset, sumber daya manusia, je­jaring industri, dan standarisasi produk. 

Sebagai penutup, Prof. Kapelle menegaskan bahwa kimia bahan alam bukan sekadar disiplin aka­demik, melainkan sarana pengab­dian yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kearifan lokal, pe­lestarian alam, dan kesejahteraan manusia.

Sementara itu, Prof. Wilma La­tuny, ST., M.Si., M.Phil., Ph.D. dalam orasi ilmiahnya menjelaskan, kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) berperan strategis sebagai sistem pendukung kepu­tusan dalam pembangunan indus­tri di wilayah kepulauan seperti Maluku.

Dalam konteks tersebut, AI kata Prof Wilma, tidak diposisikan se­bagai teknologi pengganti manu­sia, melainkan sebagai penguat dalam proses pengambilan kepu­tusan. Integrasi AI, memiliki peran kunci dalam disiplin Teknik Industri yang merekayasa sistem terinte­grasi antara manusia, teknologi, data, dan lingkungan.

AI dikembangkan dalam bentuk sistem pendukung keputusan yang kontekstual, dapat diopera­sionalkan, dan sesuai dengan realitas keterbatasan wilayah kepulauan. Berbagai implementasi empiris menunjukkan, bahwa penerapan AI paling efektif ketika diarahkan pada persoalan nyata masyarakat dan industri lokal. 

Pemanfaatan AI juga berkem­bang di sektor pariwisata dan UM­KM, terutama dalam analisis data untuk memahami pola permintaan dan preferensi pasar. Bahkan, da­lam pelestarian pengetahuan dan budaya maritim, AI digunakan se­bagai sarana dokumentasi sekali­gus penguatan identitas lokal.

Prof Wilma juga menekankan, kecerdasan buatan akan membe­rikan manfaat nyata bagi pemba­ngunan industri wilayah kepulau­an, apabila diintegrasikan secara utuh dalam kerangka rekayasa sistem Teknik Industri. 

Ke depan, ia mendorong peng­embangan AI yang berangkat dari persoalan lokal, diperkuat melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, industri, dan masyarakat, serta diarahkan sebagai instrumen pemerataan pembangunan.

Selanjutnya, Prof. Dr. Henry Junus Wattimanela, S.Si., M.Si., dalam pidato pengukuhannya berjudul Penerapan Proses Poisson dan Maximum Likelihood Estimation (MLE) untuk Waktu Tunggu Gempa di Wilayah Maluku dan Sekitarnya.

Pro Henry mengatakan, wilayah Maluku dan sekitarnya merupakan salah satu kawasan dengan tingkat aktivitas gempa tektonik tertinggi di Indonesia.

Menurut Prof Henry, statistika spasial tidak hanya menganalisis nilai data, tetapi juga memper­hitungkan lokasi kejadian dan keterkaitan antar wilayah. Melalui penerapan proses poisson dan metode MLE terhadap katalog gempa Maluku periode 1970–2024, penelitian ini mampu memo­delkan waktu tunggu antar gempa, laju kejadian tahunan, serta peluang terjadinya gempa dalam interval waktu tertentu.

Menurut Prof Henry, konsisten dengan model Gutenberg–Richter yang menunjukkan penurunan frekuensi seiring meningkatnya magnitudo.

Hasil penelitian ini, dapat men­jadi masukan kuantitatif bagi pe­merintah daerah dalam revisi Ren­cana Tata Ruang Wilayah (RTRW), penentuan zona prioritas mitigasi, serta pembaruan peta bahaya gempa di Maluku. 

Sedangkan  Prof Dr Kalvin Ka­runa, M.Pd menegaskan, penting­nya pendekatan metakognitif da­lam pembelajaran membaca baha­sa asing, khususnya bahasa Jerman, sebagai kunci penguatan lite­rasi membaca dan pengembangan cara berpikir peserta didik.

Dari perspektif didaktik, Prof. Kalvin menekankan peran guru dan dosen sebagai fasilitator proses berpikir, model pembaca strategis, dan pendamping refleksi belajar. Pembelajaran membaca, menurutnya, tidak semata ber­orientasi pada jawaban benar atau salah, tetapi pada proses bagai­mana pemahaman dibangun.

Pendekatan tersebut sejalan dengan paradigma Outcome-Based Education (OBE) dan kebijakan Merdeka Belajar, yang menekankan kemandirian belajar, keterampilan berpikir tingkat tinggi, serta pengembangan potensi peserta didik secara holistik.

Sebagai penutup, Prof. Kalvin menegaskan bahwa literasi mem­baca bukan tujuan akhir, melainkan jalan menuju pembelajar yang reflektif, kritis, dan mandiri. Ia men­dorong pengembangan pembela­jaran membaca berbasis metako­gnisi yang kontekstual, didukung asesmen yang tepat, serta peman­faatan teknologi, termasuk kecer­dasan buatan, sebagai sarana refleksi belajar.

Prof Dr Wilma Akihary dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar bidang Ilmu Pendidikan Bahasa–Linguistik menegaskan, pentingnya integrasi kajian linguistik, pendekatan multikultural, dan inovasi pedagogik dalam pembelajaran bahasa Jerman untuk membangun kompetensi kognitif, berpikir kritis, dan kreatif peserta didik.

Ia menekankan bahwa linguistik merupakan landasan teoretis fundamental dalam pembelajaran bahasa asing, karena membantu peserta didik memahami bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sebagai sistem yang terstruktur, bermakna, dan memiliki fungsi sosial serta budaya.

Prof Wilma mengaku, perbedaan sistem linguistik bahasa Jerman dan bahasa Indonesia menjadi tan­tangan utama dalam pembe­lajaran. Kompleksitas fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik bahasa Jerman menuntut pende­katan linguistik yang komprehen­sif, khususnya melalui kajian linguistik kontrastif dan analisis kesalahan untuk meningkatkan kesadaran berbahasa (language awareness) peserta didik.

Kajian mikrolinguistik kata Prof Wil­ma, perlu dilengkapi dengan per­spektif makrolinguistik yang men­cakup pragmatik, sosiolin­guistik, psikolinguistik dan etno­linguistik. Pendekatan ini memung­kinkan pembelajaran bahasa Jerman tidak hanya berfokus pada struktur bahasa, tetapi juga pada konteks sosial, budaya, dan kognitif peng­gunaan bahasa.

Prof Wilma juga menyoroti pen­tingnya pendidikan multikultural dalam pembelajaran bahasa Jer­man. Bahasa, menurutnya, meru­pakan penanda identitas kolektif yang berakar kuat pada budaya. Integrasi pendidikan multikultural di kelas bahasa terbukti mampu menumbuhkan rasa percaya diri, sikap saling menghormati, serta kebersamaan di tengah kebera­gaman.

Selain itu, Prof Wilma juga me­nekankan urgensi inovasi peda­gogik berbasis literasi teknologi dalam menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0. Pemanfaatan media digital, aplikasi pembe­lajaran, dan model pembelajaran interaktif dinilai mampu mening­katkan kualitas proses belajar serta membuat pembelajaran bahasa Jerman lebih menarik dan bermakna.

Guru Besar Fakultas Teknik bidang Ilmu Pengelolaan Wilayah Pesisir, Prof Dr Ir Pieter Th Berhitu, ST, MT dalam pidato pengukuhan yang berjudul Penataan Ruang Wilayah Pesisir Berbasis Zonasi sebagai Fondasi Pembangunan Berkelanjutan.

Dimana zonasi wilayah pesisir dinilai jadi kunci pembangunan berkelanjutan. Perencanaan wila­yah dan kota memiliki peran stra­tegis dalam mengelola ruang se­ba­gai sumber daya pembangunan, khususnya di Indonesia yang berciri negara kepulauan.

Wilayah pesisir, tidak hanya berfungsi sebagai kawasan transisi antara darat dan laut, tetapi juga menjadi pusat aktivitas sosial, ekonomi, dan ekologis yang saling terkait serta menentukan keber­lanjutan sistem wilayah secara keseluruhan.

Tantangan pesisir kata Prof Pieter, pada dasarnya merupakan persoalan penataan ruang yang belum sepenuhnya berlandaskan pada daya dukung lingkungan dan karakteristik wilayah.

Zonasi wilayah pesisir tidak sekadar pembagian ruang secara administratif, melainkan pende­katan perencanaan yang mengin­te­grasikan aspek ekologis, sosial, ekonomi, dan kelembagaan dalam satu kerangka spasial yang utuh. 

Dalam perspektif PWK, wilayah pesisir merupakan ruang fung­sional yang sangat kompleks ka­rena menampung beragam akti­vitas, mulai dari permukiman, peri­kanan, pariwisata, pelabuhan, industri, hingga kawasan lindung. Kompleksitas ini menuntut peren­canaan yang terintegrasi lintas sektor dan lintas kepentingan, agar pemanfaatan ruang pesisir berlangsung secara tertib, efisien, dan berkelanjutan.

Prof Pieter juga menyoroti pen­tingnya pergeseran paradigma pengelolaan pesisir dari pende­katan sektoral menuju penge­lolaan terpadu dan berbasis ekosistem.(S-25)

BERITA TERKAIT