AMBON, Siwalima.id - Plh Sekda Maluku, Kasrul Selang mengaku, dunia kesehatan di Maluku saat ini, masih membutuhkan adanya percepatan pemenuhan dokter spesialis.
Data menunjukkan, Maluku masih mengalami kekurangan dokter spesialis dasar seperti spesialis penyakit dalam, spesialis bedah dan spesialis obgyn atau kandungan/kebidanan di RSUD kabupaten/kota, terutama di daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan.
“Kondisi ini mengharuskan adanya pemenuhan kebutuhan tenaga dokter spesialis yang cepat, sehingga dapat menjawab kebutuhan di tengah-tengah masyarakat,” ungkap Kasrul saat membuka Asesemen Lapangan untuk Pembukaan Prodi, Pendidikan Dokter Spesialis pada Fakultas Kedokteran Unpatti, Selasa (13/1).
Kasrul mengaku, kehadiran tim asesor dan tim evaluasi lapangan, merupakan sebuah kehormatan dalam upaya mewujudkan sumber daya manusia di bidang kesehatan di Maluku.
“Kegiatan ini bukan sekadar proses asesmen akademik, tetapi merupakan tonggak penting ikhtiar bersama untuk menjawab kebutuhan mendasar masyarakat Maluku akan layanan kesehatan yang adil, merata dan bermutu, khususnya di wilayah kepulauan,” ucap Kasrul.
Pembukaan program pendidikan dokter spesialis kata Kasrul, merupakan implementasi Sapta Cipta Lawamena Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, terutama dalam membangun Maluku yang sehat, cerdas, berkeadilan, serta memperkuat pelayanan dasar yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat.
“Maluku adalah provinsi kepulauan yang memiliki tantangan geografis luar biasa dalam penyediaan layanan kesehatan rujukan. akses yang sulit, biaya transportasi yang tinggi, serta keterbatasan sumber daya, menyebabkan masyarakat di pulau-pulau kecil kerap berada dalam kondisi rentan, terutama ibu hamil, pasien kegawatdaruratan bedah, serta penderita penyakit dalam,” beber Kasrul.
Kasrul mengaku, Pemerintah Provinsi Maluku mendukung penyelenggaraan program pendidikan dokter spesialis, melalui penguatan sistem kesehatan akademik (SKA), sebagaimana kebijakan akselerasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
Inisiatif Fakultas Kedokteran yang merumuskan 20 persen kurikulum penciri lokal, merupakan langkah visioner yang mencerminkan keberpihakan nyata dunia akademik terhadap kebutuhan dan karakteristik khas daerah kepulauan Maluku.
“Kami tentu berharap ketiga program studi ini dapat segera memperoleh izin operasional, sehingga distribusi dokter spesialis di Maluku dapat dipercepat mulai tahun 2026 ini,” pinta Kasrul.
Kasrul memastikan, pemprov akan mengkaji terkait dengan penganggaran, guna mendukung upaya percepatan dokter spesialis, baik selama pendidikan berupa beasiswa, maupun penugasan pada rumah sakit di daerah-daerah seperti fasilitas dan insentif lainnya.
“Setelah ini saya akan laporkan pak gubernur dan konsepkan surat gubernur ke bupati/walikota untuk menganggarkan calon dan dokter spesialis selama pendidikan maupun dalam prakteknya di RS daerah tapi yang pasti target 2026 sudah ada penerimaan mahasiswa baru prodi dokter spesialis,” tandas Kasrul.(S-20)