AMBON, Siwalimanews – Sudah lebih dari lima buÂlan sistem layanan tranÂsaksi antarbank cepat, atau BI-Fast di Bank MaÂluku-Malut, tidak dapat digunakan.
Pasalnya, sistem yang seÂmestinya memungkinÂkan transaksi real time dan murah, dengan biaya administrasi yang rendah, justru tidak dikelola deÂngan baik oleh manajeÂmen bank milik daerah itu. Akibatnya, nasabah harus menalangi biaya makÂsimal atau lebih besar.
Pak Johan, salah satu nasabah Bank Maluku Malut, mengeluhÂkan layaÂnan Bank Maluku-Malut yang memberatkan nasaÂbah.
Menurutnya, sudah lebih dari lima bulan sistem BI-Fast di Bank Maluku-Malut tidak berfungsi. Akibatnya nasabah harus mengeluarkan biaya admiÂnistrasi yang lebih.
âBeta sudah catat kurang lebih lima bulan layanan BI-Fast tidak bisa pake biaya murah Rp2.500, akibatnya harus bayar Rp6.500,â keluhnya, kala mendatangi redaksi Siwalima.
Dia mengaku heran dengan peÂngelolaan manajemen di bank miÂlik daerah yang terkesan asal-asaÂlan dan tidak profesional. âBank itu harus berikan pelayanan maksiÂmal, bukan hanya cari untung dari nasabah saja,â keluhnya.
Johan berharap sistem tranÂsaksi antar bank cepat tersebut bisa kembali berfungsi dan tidak menjadi tanda tanya besar di kaÂlangan nasabah dan masyarakat.
âMestinya gangguan ini dapat diselesaikan dalam hitungan jam, atau maksimal beberapa hari saja,â ujarnya.
Tidak aktifnya layanan ini selama berbulan-bulan, adalah indikator lemahnya penanganan masalah di tingkat teknis dan manajerial Bank Maluku-Malut.
âIni sudah terlalu lama. Tatkala seÂmua bank berlomba-lomba meÂningÂkatkan layanan mereka, Bank MaluÂku-Malut justru terlena dengan kiÂnerja yang sangat buruk ini,â kritiknya.
Karenanya, dia meminta manaÂjemen Bank Maluku-Malut untuk berbenah dan memperhatikan keluhan nasabah.
Divisi IT, dinilai sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap persoalan ini.
Hingga berita ini naik cetak, Sukarno Paja, Kepala Divisi IT Bank Maluku-Malut, tidak merespons panggilan telepon, begitupun peÂsan singkat yang dikirim padanya.
Sumber Siwalima menyebutkan, Bank Maluku-Malut menggelontorÂkan biaya tidak sedikit untuk peÂngembangan dan implementasi BI-Fast.
âHampir satu miliar rupiah dipakai untuk pengembangan oleh Divisi IT,â kata sumber tersebut, Sabtu (4/10).
Dengan investasi sebesar itu, ujarnya, gangguan berlarut-larut ini bisa diatasi. âIni sangat merugikan, baik dari sisi layanan nasabah maupun citra kelembagaan,” imbuh sumber yang meminta namanya tidak ditulis itu.
Direktur Utama Bank Maluku-Malut Syahrisal Imbar membenarÂkan perihal layanan BI-Fast yang tidak aktif selama beberapa bulan belakangan.
Syahrisal mengungkapkan perÂsoalan tidak aktifnya layanan BI-Fast bermula pada kejadian beberapa bank di Indonesia yang dibobol pada saat Idul Fitri beberapa bulan lalu.
âWalaupun kita tidak terdampak dari kasus pembobolan bank tersebut, tapi karena vendor kita sama dengan vendornya bank yang terkena pembobolan, maka BI menghentikan sementara layanan BI di Bank Maluku-Malut,â ujar SyahÂrisal kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Minggu (5/10).
Syahrisal mengaku pihaknya ingin sekali mengaktifkan kembali layanan BI-Fast dengan tarif layanan Rp.2.500 namun sampai saat ini belum mendapatkan izin dari Bank Indonesia kendati BI telah meminta Bank Maluku-Malut untuk mengganti vendor.
Ia mengaku belum mengetahui alasan pasti BI belum memberikan izin namun diyakini hal ini karena BI ingin memastikan seluruh keÂamanan perbankan melalui tranÂsaksi BI-Fast.
Kita disuruh ganti vendor baru untuk mengelola BI-Fast tapi izin dari BI kan belum kita terima padahal kita berharap Oktober ini izinnya sudah kita terima dan aktifkan kembali layanan BI-Fast itu,â tegasnya.
Syahrisal berharap dalam waktu dekat BI telah mengeluarkan izin sehingga layanan BI-Fast dapat kembali diaktifkan dan memperÂmudah nasabah dalam melakuÂkan transfer secara murah.
Keterlambatan penyelesaian masalah ini tidak hanya mengÂganggu aktivitas nasabah, tetapi juga menurunkan kepercayaan terhadap kemampuan digitalisasi Bank Maluku-Malut sebagai bank daerah di era modern. (S-20)