SIWALIMA.id > Berita
Ratusan Siswa SBB Keracunan Makan Bergizi Gratis, Polisi Mulai Investigasi
Daerah , Headline | Kamis, 23 Oktober 2025 pukul 17:02 WIT

PIRU, Siwalimanews –  Polisi mulai melakukan investigasi kasus keracunan massal Makan Bergizi Gratis, di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat.

Tercatat dalam sehari ber­tambah korban kera­cunan 100 persen. Pada Senin (20/10) jumlah kor­ban tingkat TK dan SD se­banyak 100 siswa, sedang­kan pada Selasa (21/10) bertambah menjadi 129 siswa pada tingkat SMA dan pada Rabu (22/10) 2 siswa, total 231 siswa

Kasat Reskrim Polres SBB AKP Indrus Mukadar mengungkapkan, inves­tigasi sudah dilakukan dan akan segera melakukan pe­meriksaan terhadap pihak-pihak terkait.

“Investasi yang kami la­kukan ini untuk mengetahui pasti atas peristiwa keracunan yang mengakibatkan ratusan aiswa di Kecamatan Kairatu yang mengalami keracunan usai mengkonsumi M­BG,” ungkap Kasat Reskrim kepada Siwalima di ruang kerjanya, Rabu (22/10).

Dijelaskan, atas keracunan ter­sebut pihaknya langsung turun ke dapur MBG Kairatu untuk meng­ambil keterangan beberapa pekerja termasuk SPPG. Namun itu tidak berakhir sampai disitu saja, tetapi akan melakukan serangkaian penye­lidikan atas peristiwa tersebut.

“Atas investigasi tersebut, kami akan memanggil pihak-pihak terkait terutama Kepala SPPG, dan beberapa pekerja. Semua ini kita lakukan berkaitan dengan kejadian yang luar biasa terjadi, ratusan siswa di SBB keracunan MBG,” ucapnya.

Kasat tegaskan, dalam investigasi berupa penyelidikan ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan SBB, terakhir dengan sampel makanan yang telah diambil untuk diperiksa Lab.

Kasat mengungkapkan, pihaknya belum bisa mengungkapkan penye­bab keracunan karena masih menu­nggu hasil uji lab. “Besok (Kamis-red) kami jad­walkan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait, mulai dari SPPG,” ujarnya.

Jumlah Bertambah

Sementara itu kepala Dinas Ke­sehatan, Gariman Kurniawan men­jelaskan, kasus keracunan siswa di SBB dari hari pertama dan kedua sebanyak 229 orang kemudian ada penambahan dua orang sehingga total keseluruhan 231 orang terdiri dari siswa TK, SD, dan SMA.

Ditegaskan, ratusan siswa yang keracunan hingga dilarikan ke Puskesmas Kairatu dan Wamital untuk mendapatkan perawatan media, karena ratusan siswa ini me­ngalami muntah-muntah, hingga mengeluarkan busa dari mulut.

Menurutnua, hingga saat ini dari ratusan siswa yang mendapatkan perawatan hingga tersisa tiga pa­sien saja yang dirawat, yang lainnya telah kembali  ke rumahnya masing-masing usai pemulihan.

“Dari data riel sebanyak 231 orang siswa yang keracunan, tinggal 3 yang masih dirawat di Pukesmas Kairatu, sedangkan Puskesmas Wai­mital semuanya sudah dipulang­kan,” terangnya.

Kadis menambahkan, atas peris­tiwa keracunan tersebut Dinas Kese­hatan sudah menginstruksikan peng­hentian sementara pengopera­sian dapur MBG sampai dengan hasil pengujian Lab keluar. “Namun, kita harus tunggu instruksi dari pimpinan tertinggi dalam hal ini Bupati, kita sementara berkoordi­nasi,” tegasnya.

Uji Sampel 7 Hari

Sementara itu, Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Ambon tengah melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan dari Maka­nan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Seram Bagian Barat, yang sebelumnya diduga menjadi penyebab keracunan massal ratusan siswa.

Kepala Balai POM Ambon, Tam­ran Ismail menjelaskan, proses pe­ngujian sampel tersebut membutuh­kan waktu antara 7 hingga 10 hari kerja, sebelum hasilnya dapat di­umumkan secara resmi.

“Waktu pengujian sekitar tujuh sampai sepuluh hari,” ujar Ismail kepada Siwalima saat dikonfirmasi via pesan whatsapp, Rabu (22/10).

Setelah hasilnya keluar, sambung­nya, pihaknya akan menyerahkan kepada dinas terkait.

“Setelah hasilnya keluar, kami akan menyerahkan secara resmi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten SBB,”ujarnya.

Diketahui, uji laboratorium dilaku­kan untuk memastikan kandungan zat yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi para siswa, sekali­gus mengidentifikasi penyebab utama kejadian luar biasa (KLB) keracunan tersebut.

Sampel makanan yang diuji men­cakup beberapa jenis menu yang dikonsumsi secara bersamaan oleh siswa pada saat kejadian.

Sebelumnya, ratusan siswa di Kabupaten SBB dilaporkan menga­lami gejala mual, muntah, dan pusing usai menyantap hidangan dari program MBG. Sejumlah korban bahkan harus mendapat perawatan medis.

Jumlah Bertambah

Kalau sehari sebelumnya hanya 100 orang siswa yang terdampak, kini jumlah siswa keracunan naik menjadi 229 orang.

Bikin geger. Dalam sehari, jumlah siswa keracunan Makan Bergizi Gratis, di Kabupaten Seram Bagian Barat naik lebih dari seratus persen.

Bertambahnya jumlah siswa ke­racunan tersebut sesuai data yang dihimpun Siwalima di Puskesmas Waimital 73 siswa, sedangkan pus­kesmas Kairatu 156 siswa. Sehingga total siswa yang alami keracunan sebanyak 229 siswa mulai dari tingkat TK, SD dan SMA.

Pantauan Siwalima, bertambah­nya korban saat para siswa dilarikan ke Puskesmas Kairatu dan Pus­kes­mas Waimital untuk menjalani perawatan karena merasakan pusing dan mual-mual.

Kadis Pendidikan dan Kebuda­yaan SBB, Sunnah Umaya Patty saat dikonfirmasi Siwalima melalui tele­pon selulernya, Selasa (2/10) mem­benarkan jumlah siswa yang me­ngalami keracunan bertambah.

“Sebelumnya hanya mencapai 100, tetapi di hari kedua bertambah sebanyak 229 orang. Keracunan ini bukan saja siswa TK, SD, tetapi juga siswa SMA. Semua siswa saat ini sudah ditangani dan menjalani perawatan di Puskesmas Kairatu dan Puskesmas Waimital,” ujarnya.

Kadis menambahkan, data 229 siswa ini masih bersifat sementara, jika sudah valid maka akan disampai­kan. “Saat ini saya hanya sampaikan data sementara, apabila data sudah va­lid, saya akan sampaikan,” ucap­nya.

Bupati SBB, Asri Arman yang dikon­firmasi Siwalima sementara melakukan kunjungan kerja di Desa Manipa, dihubungi melalui telepon selulernya namun tidaklah aktif.

BPOM Uji Sampel

Sementara itu, Juru Bicara Pem­prov Maluku, Kasrul Selang meng­ungkapkan, saat ini Balai Pemerik­saan Obat dan Makanan sudah mengambil sampel menu MBG untuk diuji.

Disisi yang lain, lanjut mantan Sekda Maluku ini, pihak kepolisian SBB melakukan investigasi

“Saat ini polisi sementara inves­tigasi kemudian Badan Gizi Nasional (BGN) sementara periksa, tetapi BGN melalui satuan satuan yang diba­wahnya ada SPPG punya SOP yang cukup ketat. Jadi kalau ada masalah dan dicurigai berarti itu yang terjadi masalah, dan sementara diinvesti­gasi oleh polisi disana dan sampel­nya telah dikirim ke Balai POM,” ujar Kasrul saat dikonfirmasi Siwalima melalui telepon selulernya, Senin (21/10) malam.

Kasrul mengatakan, pihaknya membangun koordinasi Pemda SBB dan pihak-pihak terkait lainnya.

“Dari sisi Pemda terhadap SOP itu kita hanya boleh berkoordinasi, kita tidak bisa intervensi, biasanya kalau ada masalah seperti ini dapurnya ditutup 2 minggu sambil menunggu hasil investigasi maupun pengujian labnya, dan tentunya kita akan panggil mereka,” ujar Kasrul

Kasrul meminta masyarakat untuk tetap tenang sambil menunggu hasil investigasi kepolisian maupun hasil uji lab dari Balai POM.

“Masyarakat diminta tenang dan jangan panik, kita belum tahu masa­lahnya dari mana,  sampai menunggu hasil investigasi polisi dan Balai POM, kita akan sampaikan ke publik juga. Yang jelas kita akan tangani keadaan luar biasanya, kita juga akan koordinasi dengan kabupaten dan pihak pihak terkait,” harapnya.

Sesuai SOP

Sedangkan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Regional Maluku dan Maluku Utara beralibi penyiapan Makanan Bergizi Gratis telah sesuai dengan Standar Opera-sional Prosedur (SOP).

Alibi ini diungkapkan Kepala KPPG Regional Maluku dan Maluku Utara, Rosita pasca ratusan siswa di Seram Bagian Barat mengalami keracunan usai mengkonsumsi MBG, Senin (20/10).

Rosita membenarkan adanya ke­jadian ratusan siswa yang dibawah lari ke puskesmas usai mengkon­sumsi MBG, namun bukan disebab­kan oleh belatung. “Tidak ada bela­tung yang ditemukan dalam maka­nan. Makanya untuk kepastian penyebabnya kita harus tunggu hasil pengujian di laboratorium,” ucap Rosita kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Selasa (21/10).

Tak hanya itu, Rosita juga beralibi jika dari sisi higienitas dapur MBG telah sesuai dengan SOP, sehingga KPPG tidak dapat menarik kesim­pulan lebih awal sebelum hasil laboratorium keluar.

Diakuinya pasca kejadian ini, KPPG Regional Maluku dan Maluku Utara telah mengambil tindakan tegas terhadap SPPG Waimital yang sebelumnya memproduksi MBG.

“Untuk sementara SPPG Waimital itu kita tutup sambil menunggu hasil laboratorium baru kita tahu penye­babnya apa,” bebernya.

Ditanya terkait Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang wajib dikantongi semua SPPG, Rosita mengaku jika memang SPPG Wai­mital dan beberapa SPPG lain di Maluku belum memiliki sertifikat tersebut.

Sertifikat SLHS merupakan doku­men wajib bagi dapur program MBG untuk menjamin makanan yang dihasilkan aman, sehat dan higienis artinya sertifikat ini bukti jika dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG telah memenuhi standar kebersihan dan sanitasi.

Menurutnya, belum adanya serti­fikat SLHS pada dapur SPPG lantaran aturan terkait wajib SLHS baru diterbitkan pada 8 Oktober lalu sehingga semua SPPG sementara mengurus sertifikat tersebut.

“Aturan soal sertifikat SLHS itu baru dikeluarkan jadi banyak SPPG masih mengurus, tapi saya pastikan dapur SPPG sudah sesuai dengan SOP,” cetus Rosita.

Rosita pun memastikan pihaknya belum dapat memberikan keterangan lebih jauh terkait persoalan tersebut sebelum mengantongi hasil ujian laboratorium terhadap sampel maka­nan yang dikonsumsi siswa. (S-18)

BERITA TERKAIT