PIRU, Siwalimanews –Â Polisi mulai melakukan investigasi kasus keracunan massal Makan Bergizi Gratis, di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat.
Tercatat dalam sehari berÂtambah korban keraÂcunan 100 persen. Pada Senin (20/10) jumlah korÂban tingkat TK dan SD seÂbanyak 100 siswa, sedangÂkan pada Selasa (21/10) bertambah menjadi 129 siswa pada tingkat SMA dan pada Rabu (22/10) 2 siswa, total 231 siswa
Kasat Reskrim Polres SBB AKP Indrus Mukadar mengungkapkan, invesÂtigasi sudah dilakukan dan akan segera melakukan peÂmeriksaan terhadap pihak-pihak terkait.
âInvestasi yang kami laÂkukan ini untuk mengetahui pasti atas peristiwa keracunan yang mengakibatkan ratusan aiswa di Kecamatan Kairatu yang mengalami keracunan usai mengkonsumi MÂBG,â ungkap Kasat Reskrim kepada Siwalima di ruang kerjanya, Rabu (22/10).
Dijelaskan, atas keracunan terÂsebut pihaknya langsung turun ke dapur MBG Kairatu untuk mengÂambil keterangan beberapa pekerja termasuk SPPG. Namun itu tidak berakhir sampai disitu saja, tetapi akan melakukan serangkaian penyeÂlidikan atas peristiwa tersebut.
âAtas investigasi tersebut, kami akan memanggil pihak-pihak terkait terutama Kepala SPPG, dan beberapa pekerja. Semua ini kita lakukan berkaitan dengan kejadian yang luar biasa terjadi, ratusan siswa di SBB keracunan MBG,â ucapnya.
Kasat tegaskan, dalam investigasi berupa penyelidikan ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan SBB, terakhir dengan sampel makanan yang telah diambil untuk diperiksa Lab.
Kasat mengungkapkan, pihaknya belum bisa mengungkapkan penyeÂbab keracunan karena masih menuÂnggu hasil uji lab. âBesok (Kamis-red) kami jadÂwalkan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait, mulai dari SPPG,â ujarnya.
Jumlah Bertambah
Sementara itu kepala Dinas KeÂsehatan, Gariman Kurniawan menÂjelaskan, kasus keracunan siswa di SBB dari hari pertama dan kedua sebanyak 229 orang kemudian ada penambahan dua orang sehingga total keseluruhan 231 orang terdiri dari siswa TK, SD, dan SMA.
Ditegaskan, ratusan siswa yang keracunan hingga dilarikan ke Puskesmas Kairatu dan Wamital untuk mendapatkan perawatan media, karena ratusan siswa ini meÂngalami muntah-muntah, hingga mengeluarkan busa dari mulut.
Menurutnua, hingga saat ini dari ratusan siswa yang mendapatkan perawatan hingga tersisa tiga paÂsien saja yang dirawat, yang lainnya telah kembali ke rumahnya masing-masing usai pemulihan.
âDari data riel sebanyak 231 orang siswa yang keracunan, tinggal 3 yang masih dirawat di Pukesmas Kairatu, sedangkan Puskesmas WaiÂmital semuanya sudah dipulangÂkan,â terangnya.
Kadis menambahkan, atas perisÂtiwa keracunan tersebut Dinas KeseÂhatan sudah menginstruksikan pengÂhentian sementara pengoperaÂsian dapur MBG sampai dengan hasil pengujian Lab keluar. âNamun, kita harus tunggu instruksi dari pimpinan tertinggi dalam hal ini Bupati, kita sementara berkoordiÂnasi,â tegasnya.
Uji Sampel 7 Hari
Sementara itu, Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Ambon tengah melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan dari MakaÂnan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Seram Bagian Barat, yang sebelumnya diduga menjadi penyebab keracunan massal ratusan siswa.
Kepala Balai POM Ambon, TamÂran Ismail menjelaskan, proses peÂngujian sampel tersebut membutuhÂkan waktu antara 7 hingga 10 hari kerja, sebelum hasilnya dapat diÂumumkan secara resmi.
âWaktu pengujian sekitar tujuh sampai sepuluh hari,â ujar Ismail kepada Siwalima saat dikonfirmasi via pesan whatsapp, Rabu (22/10).
Setelah hasilnya keluar, sambungÂnya, pihaknya akan menyerahkan kepada dinas terkait.
âSetelah hasilnya keluar, kami akan menyerahkan secara resmi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten SBB,âujarnya.
Diketahui, uji laboratorium dilakuÂkan untuk memastikan kandungan zat yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi para siswa, sekaliÂgus mengidentifikasi penyebab utama kejadian luar biasa (KLB) keracunan tersebut.
Sampel makanan yang diuji menÂcakup beberapa jenis menu yang dikonsumsi secara bersamaan oleh siswa pada saat kejadian.
Sebelumnya, ratusan siswa di Kabupaten SBB dilaporkan mengaÂlami gejala mual, muntah, dan pusing usai menyantap hidangan dari program MBG. Sejumlah korban bahkan harus mendapat perawatan medis.
Jumlah Bertambah
Kalau sehari sebelumnya hanya 100 orang siswa yang terdampak, kini jumlah siswa keracunan naik menjadi 229 orang.
Bikin geger. Dalam sehari, jumlah siswa keracunan Makan Bergizi Gratis, di Kabupaten Seram Bagian Barat naik lebih dari seratus persen.
Bertambahnya jumlah siswa keÂracunan tersebut sesuai data yang dihimpun Siwalima di Puskesmas Waimital 73 siswa, sedangkan pusÂkesmas Kairatu 156 siswa. Sehingga total siswa yang alami keracunan sebanyak 229 siswa mulai dari tingkat TK, SD dan SMA.
Pantauan Siwalima, bertambahÂnya korban saat para siswa dilarikan ke Puskesmas Kairatu dan PusÂkesÂmas Waimital untuk menjalani perawatan karena merasakan pusing dan mual-mual.
Kadis Pendidikan dan KebudaÂyaan SBB, Sunnah Umaya Patty saat dikonfirmasi Siwalima melalui teleÂpon selulernya, Selasa (2/10) memÂbenarkan jumlah siswa yang meÂngalami keracunan bertambah.
âSebelumnya hanya mencapai 100, tetapi di hari kedua bertambah sebanyak 229 orang. Keracunan ini bukan saja siswa TK, SD, tetapi juga siswa SMA. Semua siswa saat ini sudah ditangani dan menjalani perawatan di Puskesmas Kairatu dan Puskesmas Waimital,â ujarnya.
Kadis menambahkan, data 229 siswa ini masih bersifat sementara, jika sudah valid maka akan disampaiÂkan. âSaat ini saya hanya sampaikan data sementara, apabila data sudah vaÂlid, saya akan sampaikan,â ucapÂnya.
Bupati SBB, Asri Arman yang dikonÂfirmasi Siwalima sementara melakukan kunjungan kerja di Desa Manipa, dihubungi melalui telepon selulernya namun tidaklah aktif.
BPOM Uji Sampel
Sementara itu, Juru Bicara PemÂprov Maluku, Kasrul Selang mengÂungkapkan, saat ini Balai PemerikÂsaan Obat dan Makanan sudah mengambil sampel menu MBG untuk diuji.
Disisi yang lain, lanjut mantan Sekda Maluku ini, pihak kepolisian SBB melakukan investigasi
âSaat ini polisi sementara invesÂtigasi kemudian Badan Gizi Nasional (BGN) sementara periksa, tetapi BGN melalui satuan satuan yang dibaÂwahnya ada SPPG punya SOP yang cukup ketat. Jadi kalau ada masalah dan dicurigai berarti itu yang terjadi masalah, dan sementara diinvestiÂgasi oleh polisi disana dan sampelÂnya telah dikirim ke Balai POM,â ujar Kasrul saat dikonfirmasi Siwalima melalui telepon selulernya, Senin (21/10) malam.
Kasrul mengatakan, pihaknya membangun koordinasi Pemda SBB dan pihak-pihak terkait lainnya.
âDari sisi Pemda terhadap SOP itu kita hanya boleh berkoordinasi, kita tidak bisa intervensi, biasanya kalau ada masalah seperti ini dapurnya ditutup 2 minggu sambil menunggu hasil investigasi maupun pengujian labnya, dan tentunya kita akan panggil mereka,â ujar Kasrul
Kasrul meminta masyarakat untuk tetap tenang sambil menunggu hasil investigasi kepolisian maupun hasil uji lab dari Balai POM.
âMasyarakat diminta tenang dan jangan panik, kita belum tahu masaÂlahnya dari mana, sampai menunggu hasil investigasi polisi dan Balai POM, kita akan sampaikan ke publik juga. Yang jelas kita akan tangani keadaan luar biasanya, kita juga akan koordinasi dengan kabupaten dan pihak pihak terkait,â harapnya.
Sesuai SOP
Sedangkan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Regional Maluku dan Maluku Utara beralibi penyiapan Makanan Bergizi Gratis telah sesuai dengan Standar Opera-sional Prosedur (SOP).
Alibi ini diungkapkan Kepala KPPG Regional Maluku dan Maluku Utara, Rosita pasca ratusan siswa di Seram Bagian Barat mengalami keracunan usai mengkonsumsi MBG, Senin (20/10).
Rosita membenarkan adanya keÂjadian ratusan siswa yang dibawah lari ke puskesmas usai mengkonÂsumsi MBG, namun bukan disebabÂkan oleh belatung. âTidak ada belaÂtung yang ditemukan dalam makaÂnan. Makanya untuk kepastian penyebabnya kita harus tunggu hasil pengujian di laboratorium,â ucap Rosita kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Selasa (21/10).
Tak hanya itu, Rosita juga beralibi jika dari sisi higienitas dapur MBG telah sesuai dengan SOP, sehingga KPPG tidak dapat menarik kesimÂpulan lebih awal sebelum hasil laboratorium keluar.
Diakuinya pasca kejadian ini, KPPG Regional Maluku dan Maluku Utara telah mengambil tindakan tegas terhadap SPPG Waimital yang sebelumnya memproduksi MBG.
âUntuk sementara SPPG Waimital itu kita tutup sambil menunggu hasil laboratorium baru kita tahu penyeÂbabnya apa,â bebernya.
Ditanya terkait Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang wajib dikantongi semua SPPG, Rosita mengaku jika memang SPPG WaiÂmital dan beberapa SPPG lain di Maluku belum memiliki sertifikat tersebut.
Sertifikat SLHS merupakan dokuÂmen wajib bagi dapur program MBG untuk menjamin makanan yang dihasilkan aman, sehat dan higienis artinya sertifikat ini bukti jika dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG telah memenuhi standar kebersihan dan sanitasi.
Menurutnya, belum adanya sertiÂfikat SLHS pada dapur SPPG lantaran aturan terkait wajib SLHS baru diterbitkan pada 8 Oktober lalu sehingga semua SPPG sementara mengurus sertifikat tersebut.
âAturan soal sertifikat SLHS itu baru dikeluarkan jadi banyak SPPG masih mengurus, tapi saya pastikan dapur SPPG sudah sesuai dengan SOP,â cetus Rosita.
Rosita pun memastikan pihaknya belum dapat memberikan keterangan lebih jauh terkait persoalan tersebut sebelum mengantongi hasil ujian laboratorium terhadap sampel makaÂnan yang dikonsumsi siswa. (S-18)