AMBON, Siwalima.id - Walikota Ambon, Bodewin Wattimena kesal dengan perilaku masyarakat yang masih membuang sampah di sungai dan saluran air.
Sampah-sampah itu kemudian menumpuk di jaring yang dipasang Dinas Kebersihan kemudian viral di media sosial membuat orang nomor satu di Kota Ambon geram.
Menurutnya, jika tidak tertahan di jaring, sampah itu akan langsung mengalir ke Teluk Ambon dan berpotensi merusak ekosistem laut serta mengancam keindahan kawasan pesisir.
“Bayangkan kalau masuk ke Teluk Ambon, betapa sangat mengancam katong pung teluk yang indah,” kata walikota melalui unggahan di akun media sosial Facebook, Senin (23/2).
Untuk itu ia mengajak seluruh warga menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan, khususnya ke sungai dan saluran air.
Ia juga menyoroti kondisi tumpukan sampah yang tertahan di jaring penahan sampah Sungai Waitomu yang terpasang di dekat Kantor Dinas PUPR Maluku.
“Basudara warga Kota Ambon yang beta banggakan. Inilah kondisi sampah di jaring penahan sampah Sungai Waitomu. Setiap dua hari sekali diangkat dan lihat betapa banyaknya sampah yang terjaring setelah hujan,” tulis walikota.
Menurutnya, sampah-sampah tersebut berasal dari saluran got dan pemukiman warga yang bermuara ke sungai. Saat debit air meningkat akibat hujan, sampah terbawa arus menuju hilir.
Untuk itu ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong menjaga kebersihan kota.
“Mari katong sama-sama pastikan membuang sampah pada tempatnya. Jang buang di sungai, kali, got dan sembarang tempat,” ingatnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon, Apries Benel Gaspersz saat dikonfirmasi Siwalima di ruang kerjanya, Senin (23/2), menjelaskan kondisi debit air sungai yang kecil memperparah persoalan sampah.
Menurutnya, saat masyarakat membuang sampah ke sungai ketika air sedang surut, sampah akan menumpuk di dasar maupun bantaran sungai. “Dengan kondisi debit air sungai yang kecil, saat masyarakat buang sampah, sampah menumpuk. Ketika hujan, sampah itu terbawa ikut aliran sungai ke bawah,” jelasnya.
Ia menegaskan persoalan sampah bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan kesadaran kolektif masyarakat.
Upaya penyediaan fasilitas, pengangkutan rutin, hingga pemasangan jaring penahan sampah tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku warga. Dalam kesempatan itu, juga muncul dorongan agar lembaga keagamaan turut mengambil peran moral dalam mengedukasi umat terkait pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.(Mg-1)