Setiap tahun sejumlah perguruan tinggi di Maluku mencetak ribuan wisudawan. Tercatat di Universitas Patimura periode Oktober 2025 mencetak 1.632 wisudawan. Sementara pada bulan Juli 2025 mewisudakan 2.360 sarjana
Meskipun tidak ada data spesifik yang menyatakan bahwa pengangguran intelektual di Maluku selalu bertambah setiap tahun, namun ada beberapa indikasi yang menunjukkan adanya tantangan serius terkait isu tersebut
Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku memang mencatat kenaikan jumlah pengangguran pada periode tertentu, terutama setelah kelulusan universitas.
Berikut adalah poin-poin yang menjelaskan situasi pengangguran terdidik atau intelektual di Maluku, berdasarkan penelitian, angka pengangguran di Maluku dalam beberapa tahun terakhir cenderung berfluktuatif.
Kenaikan signifikan terjadi pada tahun 2020 akibat pandemi Covid-19, namun setelah itu, angkanya kembali menurun meskipun tetap berada di level yang lebih tinggi dibanding sebelum pandemi.
Sedangkan laporan BPS Maluku pada September 2023 menyebutkan, angka pengangguran bertambah setelah Universitas Pattimura meluluskan ribuan sarjana. Hal ini menunjukkan ketidakseimbangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dengan ketersediaan lapangan kerja.
Meski ada kenaikan pada periode tertentu, BPS Maluku juga mencatat penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada periode lainnya. Sebagai contoh, TPT Maluku turun dari 6,31% pada Agustus 2023 menjadi 6,11% pada Agustus 2024.
Salah satu penyebab utama adalah ketidakseimbangan antara lulusan yang dihasilkan dengan kebutuhan pasar kerja. Beberapa jurusan tertentu menghasilkan lulusan dalam jumlah besar, sementara ketersediaan pekerjaan untuk bidang tersebut sangat terbatas.
Meskipun pertumbuhan penduduk terus terjadi setiap tahun, tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai. Situasi ini diperparah dengan lambatnya ekspansi perusahaan yang dapat menyerap tenaga kerja terdidik.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kualitas pendidikan dan kesenjangan keterampilan menjadi masalah. Pendidikan yang ada tidak sepenuhnya membekali lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri, sehingga banyak lulusan yang tidak memenuhi kriteria yang dicari perusahaan.
Belum lagi terbatasnya sarana dan prasarana serta modal untuk menciptakan wirausaha baru juga menjadi kendala bagi para lulusan yang ingin membuka usaha sendiri.
Karenanya untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah harus berupaya keras untuk mendatangkan investor guna membuka lapangan kerja baru, memberikan pelatihan agar bisa mengembangkan potensi diri untuk membuka usaha sendiri, dan tidak tergantung pada pemerintah.
meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan keterampilan, mendukung pertumbuhan UMKM dan investasi, menciptakan lapangan kerja baru melalui inovasi dan pembangunan infrastruktur, serta mendorong kewirausahaan.
Solusi tersebut diharapkan bisa mengatasi dan menekan masalah pengangguran intelektual yang dari tahun ke tahun tumbuh dengan pesat seiring dengan bertambahnya jumlah kelulusan pada sejumlah perguruan tinggi di Maluku. (*)