SIWALIMA.id > Berita
Maluku Integrated Port
Opini | Selasa, 7 April 2026 pukul 13:05 WIT

Maluku secara konsisten menempati pering­kat bawah dalam berbagai indeks terkait perekono­mian dan kesejahteraan. Karena itu, kita harus ber­ubah dan berbenah secara besar-besaran. Per­lu percepatan pembangunan, bukan percepatan yang biasa-biasa, melainkan percepatan yang luar biasa. • Maluku harus bisa “naik kelas”. Masalahnya, kita sudah lama terpaku pada cara-cara yang biasa. De­ngan kondisi dan strategi yang terus-menerus seperti ini: business as usual, berulang-ulang, dan tan­pa perubahan pendekatan, capaian kita ke­mungkinan juga tidak akan banyak berubah. Malu­ku sudah ‘mentok’ dan akan begini-begini ini saja. 

Untuk bisa “naik kelas”, Maluku harus mulai mela­kukan transformasi ekonomi. Kuncinya ada­lah industrialisasi, dan syukur-syukur jika indus­triali­sasi tersebut bisa diikuti dengan hilirisasi. 

Persoalannya, industrialisasi hampir tidak mung­kin dilakukan di (Pulau) Ambon. Ambon sudah pa­dat, penuh, dan jenuh sehingga tidak mampu lagi menampung beban industri skala besar. Pem­bangunan terkonsentrasi di sini selama puluhan tahun (bahkan ratusan tahun-jika dihitung sejak zaman kolonial). Daya dukung dan daya tampung­nya kian terbatas. Hasilnya pun cenderung stagnan bagi pertumbuhan dan kesejahteraan Maluku. Jika terus dipaksakan, pembangunan skala besar di Am­bon hanya akan menambah beban sekaligus memberikan tekanan berlebih bagi Ambon yang justru berpotensi merugikan alam dan kita semua. 

Karena itu, Maluku perlu sebuah lompatan. Lom­patan itu dimulai dengan perubahan paradigma pem­ba­ngunan, tidak boleh lagi Ambon-sentris, tetapi harus Maluku-sentris.

 Ambon, mau tidak mau, suka tidak suka, akan tetap menjadi mesin pertumbuhan bagi Maluku. Ambon adalah pusat pemerintahan dan juga pusat pelayanan (jasa). Namun untuk maju, kita memerlukan mesin yang lain: mesin baru, mesin tambahan untuk transformasi Maluku. 

Industrialisasi menjadi kunci untuk mewujudkan pusat pertumbuhan baru di luar Ambon. Maluku se­tidaknya memiliki dua lokasi potensial untuk industrialisasi: (1) Blok Masela. Sesuai masterplan, pengembangan Blok Masela tidak hanya berhenti pada investasi tetapi juga industrialiasi dan hilirisasi, serta terintegrasi dengan rencana pe­ngem­bangan wilayah di Maluku bagian Selatan. Per­soalannya, maju-tidaknya Blok Masela sangat bergantung pada kebijakan dan pergerakan pemerintah pusat; (2) Alternatifnya adalah mengembangkan Pulau Seram. Seram memiliki skala wilayah, basis produksi, dan komoditas yang kuat untuk memulai industrialisasi di Maluku.

Lokasi dan kondisi geografis juga mendukung ka­rena memiliki ruang pengembangan yang lebih longgar dan terhubung dalam simpul infrastruktur-transportasi-logistik yang sama dengan Ambon sebagai pusat pemerintahan-pelayanan-pertum­buhan existing.

Kebutuhan pengembangan Pulau Seram sebagai pusat pertumbuhan baru ini kemudian berkelindan dengan wacana pembangunan Maluku Integrated Port (MIP) di Waisarisa, Kabupaten Seram Bagian Barat. Wacana ini menjadi diskursus hangat, terutama soal pemilihan lokasi (Ambon atau Seram), dan diskursus tersebut sebenarnya hal yang wajar juga baik. Yang tidak wajar dan tidak baik adalah saling tuding seperti yang terjadi belakangan ini, termasuk juga sikap merasa paling tau dan merasa benar sendiri sebagaimana ditunjukkan segelintir orang. 

• Kita perlu mengingatkan agar kelak pem­bangunan MIP ini tidak malah menambah be­ban Pulau Ambon, dan tidak pula sekadar mem­b­angun pe­labuhan sebagai satu entitas tunggal yang ter­lepas dari kebutuhan Maluku untuk bertrans­for­masi. Kita harus berpikir strategis dan kom­pre­hensif, tidak cukup berpikir seperti kon­traktor atau tukang bangun pelabuhan. Kita tidak sekadar mem­bangun pelabuhan, tetapi pelabuhan yang mam­pu menggerakkan industrialisasi di Maluku. Pe­la­buhan itu harus menjadi jantung dari ekosis­tem yang terintegrasi sebagai mesin per­tum­buhan di Maluku. Misalnya, terhubung dengan kawa­san in­dus­tri, selaras dengan rencana pe­ngem­bangan Ma­­luku Lumbung Ikan Nasional (M-LIN), dan sebagainya. 

Karena itu, rencana pembangunan MIP semes­tinya menjadi momentum untuk mematangkan rencana industrialisasi dan pengembangan wilayah di Maluku. Yang jelas, industrialisasi memerlukan kesiapan, termasuk lokasi dan infrastruktur yang andal seperti pelabuhan skala besar dan hinterland yang benar-benar kuat. Dan perlu dicatat bahwa fungsi “integrated” dalam pengembangan pelabuhan (apalagi dalam pengembangan wilayah) tidak tepat dimaknai hanya “dekat dengan bandara”. Integrasi tersebut mencakup hal yang jauh lebih besar dari sekadar ada-tidaknya atau jauh-dekatnya bandara dengan pelabuhan, misal­nya soal kedekatan dengan hinterland, kemungki­nan ekspansi kawasan, dan lain-lain. Fungsi “integrated” tersebut sepatutnya dinilai dari manfaat suatu sistem secara keseluruhan. 

Soal lokasi Ambon atau Seram, misalnya, sa­ngat setuju bahwa kita harus berpegang pada Studi Kelayakan atau Feasibility Study (FS). Masalah­nya, dokumen yang ada dan seringkali diacu (lebih tepatnya: dicatut) dalam diskusi, yakni studi Bank Dunia 2022 belum memasukkan usulan lokasi Waisarisa maupun Pulau Seram dalam kajiannya. Studi tersebut masih berkutat pada rencana pengembangan Ambon New Port (bukan/belum MIP) di daerah Waai, Pulau Ambon, dengan fokus pada tiga calon lokasi potensial. Juga belum pernah ada FS, yang pernah ada hanyalah Pra-FS dan itu pun masih perlu di-review agar sesuai dengan si­tuasi dan kondisi terkini. Kesempatan ini mes­tinya bisa menjadi momentum untuk turut mengkaji kemungkinan Waisarisa (atau lokasi potensial lain) sebagai calon lokasi MIP. Biarlah nantinya FS yang menjadi dasar keputusan dan kebijakan pemerin­tah. Janganlah kita berkhayal dengan angka-angka simulasi tanpa metodologi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan pula kita memak­sakan seolah-olah sudah ada kesimpulan yang bersifat final padahal tidak/belum ada justifikasinya. 

Kita juga perlu menuntut agar pemerintah nanti­nya membuka hasil FS apabila telah selesai disu­sun. FS harus menjadi dokumen terbuka yang bisa diakses publik, karena proyek ini terkait dengan kepentingan dan masa depan masyarakat Maluku. 

Terakhir, ada segelintir pihak yang mengungkit-ungkit soal Bandara Kertajati. Betul bahwa Bandara Kertajati memberikan kita pelajaran yang berharga soal efektivitas pembangunan, dan justru itulah kita mendorong agar pemerintah pusat dan daerah segera menyusun kajian-kajian yang kre­dibel (FS dan lain-lain) sebagai dasar pengambilan keputusan. Di sana FS diabaikan, di sini FS bahkan belum ada. Artinya struktur kasusnya amat ber­beda, meski sekali lagi: ya, kita perlu belajar dari Bandara Kertajati, dan hal seperti itu tidak boleh terjadi di Maluku. Oleh: Febry Calvin Tetelepta Deputi I Kantor Staf Presiden RI epublik Indonesia periode 2020-2024.(*)

BERITA TERKAIT