AMBON, Siwalima.id - Sejumlah pasar yang dibangun menggunakan anggaran miliaran rupiah di era kepemimpinan Walikota, Richard Louhenapessy dibiarkan terbengkalai.
Pasar Air Kuning (Wara), Pasar Nusaniwe (Air Low) dan Pasar Rakyat Wayame, Pasar Wainitu sampai Pasar Rakyat
Nania hingga kini tidak ditempati pedagang.
Pasar Rakyat Air Kuning yang terletak di kawasan Stain, bangunannya ini dalam kondisi memprihatinkan, tidak aktif dan membuat warga resah karena diduga menjadi tempat judi dan maksiat.
Pasar Nusaniwe (Air Low) menjadi salah satu dari tiga pasar yang mangkrak meskipun telah memakan anggaran belasan miliar rupiah.
Pasar Kampung Terpadu (Taman Wayame) yang dibangun sejak 2018 dengan anggaran di atas Rp 5 miliar kondisinya rusak dengan atap dan rolling door lepas. Sempat direncanakan sebagai pasar buah namun gagal difungsikan.
Begitu juga dengan kondisi Pasar Rakyat Nania dan Pasar Rakyat Hutumuri yang terbengkalai.
Kepala Dinas Perindag Kota Ambon, Herman Tetelepta kepada wartawan membenarkan kondisi sejumlah yang dibangun pemerintah namun tidak ada yang digunakan.
“Kendala utama adalah faktor lokasi yang dinilai kurang strategis, sehingga masyarakat maupun pedagang enggan beraktivitas di pasar-pasar tersebut,” kata Tetelepta di Balai Kota, Kamis (16/4).
Ia menjelaskan, sejak menjabat pada akhir tahun 2025, dirinya langsung melakukan peninjauan ke berbagai pasar di wilayah Kota Ambon.
“Ketika saya masuk di Dinas Indag Kota Ambon akhir tahun 2025, saya langsung turun mengecek dan memonitor pasar-pasar yang ada. Dari hasil itu, ada beberapa pasar yang sampai sekarang belum difungsikan,” ujarnya.
Ia mencontohkan Pasar Air Louw yang hingga kini belum berjalan. Masyarakat lebih memilih berjualan atau berbelanja di pasar lain karena mempertimbangkan biaya transportasi yang lebih murah dan akses yang lebih mudah.
“Kalau ke pasar lain, biaya transportasi bisa hanya 5.000 sampai 7.000. Sementara kalau ke Airlouw harus naik ojek sekitar 15.000, karena belum ada akses angkutan umum langsung ke pasar,” kata Tetelepta ketika dikonfirmasi Siwalima, di Balai Kota, Kamis (16/4).
Selain Airlouw, kondisi serupa juga terjadi di Pasar Wainitu, yang meski telah dibangun, belum dapat difungsikan karena keterbatasan akses jalan menuju lokasi pasar.
Untuk mencapai pasar tersebut, masyarakat harus melewati kawasan permukiman terlebih dahulu, sehingga dinilai kurang efektif.
Beberapa pasar lain seperti di kawasan Air Kuning dan Nania juga menghadapi persoalan serupa, baik dari sisi aksesibilitas maupun minimnya minat pedagang untuk berjualan.
Tetelepta menambahkan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya, termasuk koordinasi lintas OPD, serta melibatkan camat, lurah, hingga kepala desa untuk mendorong pemanfaatan pasar-pasar tersebut.
“Kami sudah berkoordinasi dengan camat, raja dan lurah agar dapat menginformasikan kepada masyarakat, baik untuk berjualan maupun melakukan aktivitas perdagangan di pasar-pasar itu,” katanya.
Ia optimistis, jika aktivitas perdagangan mulai tumbuh, maka akses transportasi juga akan mengikuti. Pemerintah nantinya dapat mendorong penyediaan trayek angkutan umum menuju pasar-pasar tersebut.
“Kalau pasar sudah aktif dan ramai, tentu kita bisa dorong adanya angkutan yang melewati lokasi itu. Saat ini memang belum karena aktivitasnya juga belum berjalan,” jelasnya.
Meski demikian, minat pedagang untuk mengisi pasar-pasar tersebut masih tergolong rendah. Hingga kini, hanya segelintir pedagang yang bersedia membuka usaha di lokasi-lokasi tersebut.
“Sudah kita buka kesempatan melalui pemerintah desa dan kelurahan, tapi memang masih sangat minim yang berminat. Itu yang jadi kendala utama,” tandasnya.(Mg-1)