MASOHI, Siwalima.id - Tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Kementerian Transmigrasi tengah melakukan survei pembangunan kawasan transmigrasi yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan di wilayah timur Indonesia.
Salah satu lokus utama yang kini menjadi perhatian adalah kawasan transmigrasi Sapalewa di Pulau Seram, Kabupaten Maluku Tengah sejak akhir Agustus 2025.
Tim 1 ekspedisi Patriot ITB, Kementrans yang dipimpin oleh Acep Purqon, dosen Fisika FMIPA ITB, melakukan kegiatan pemetaan dan penyusunan rekomendasi potensi kawasan transmigrasi di Sapalewa.
Tim yang beranggotakan Annisaa Auliyaa, Astronia Lauda, Azizah Nur Fitriani, dan Ine Riswanti ini akan berada di lapangan hingga awal Desember.
Kawasan Sapalewa merupakan salah satu pusat permukiman transmigran tertua di Kecamatan Seram Utara.
Meski telah lama berkembang, kawasan ini masih menghadapi berbagai persoalan mendasar yang membutuhkan penanganan lintas sektor.
Melalui Ekspedisi Patriot, ITB berupaya menghadirkan riset berbasis data yang dapat menjadi dasar kebijakan pembangunan transmigrasi di wilayah ini.
“Kami menelusuri dinamika sosial, ekonomi dan lingkungan masyarakat transmigran di Sapalewa untuk menyusun rekomendasi perbaikan tata kelola kawasan,” ujar Acep Purqon dalam rilisnya yang diterima redaksi Siwalima, Senin (10/11).
Ia menjelaskan selama lebih dari dua bulan, tim melakukan observasi ke 14 desa administratif, termasuk SP 1 Huaulu sebagai satuan pemukiman utama.
Dari hasil pengamatan, lanjutnya tim menemukan sebagian besar layanan dasar seperti akses pendidikan, kesehatan, sarana keagamaan, jalan, jembatan, penerangan, internet, irigasi, dan air bersih masih terbatas.
“Banyak rumah warga belum memiliki sertifikat, sementara lahan usaha pertanian belum seluruhnya tercetak sesuai rencana awal,” jelasnya.
Lanjutnya, kekurangan tenaga pendidik dan minimnya fasilitas pendidikan juga menjadi perhatian serius. Disamping belum adanya peta batas administratif yang jelas antar desa dalam kawasan Sapalewa.
Meski demikian, ia menyebut masyarakat menunjukkan daya juang yang luar biasa dengan mengembangkan aktivitas ekonomi melalui pembentukan kelompok tani dan gabungan kelompok tani.
“Di tengah keterbatasan, mereka tetap berjuang, membangun jaringan sosial baru, dan mengoptimalkan lahan yang tersedia,” tambah Acep.
Selain penelitian utama, tim ITB juga melaksanakan program pemberdayaan masyarakat, seperti pengajaran komputer dasar bagi perangkat desa dan siswa sekolah.
Ada juga pendampingan kelompok tani dan gapoktan dalam penyusunan administrasi pendaftaran Nomor Induk Kelompok Tani (NIKT) dan Nomor Induk Gapoktan (NIG) agar dapat terdaftar resmi dalam aplikasi Simultan milik Kementan.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan ketertiban administrasi dan transparansi pengelolaan hasil pertanian di kawasan transmigrasi.
Hasil riset dan aktivitas sosial tersebut menjadi bahan penting dalam FGD yang digelar di kantor Bupati Maluku Tengah di Kota Masohi, Senin (10/11).
FGD menghadirkan perwakilan dari berbagai dinas dan lembaga teknis, seperti Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Maluku, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Kantor Pertanahan, Balai Pemantapan Kawasan Hutan, serta Bappelitbangda.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Bupati Malteng, Zulkarnain Awat Amir, yang diwakili Staf Ahli bidang Ekonomi dan Pembangunan, Zahlul Ikhsan.
Dalam sambutannya, bupati menyampaikan apresiasi atas inisiatif ITB dan Kementrans yang dinilai mampu menghadirkan sinergi akademisi dan pemerintah dalam membangun kawasan transmigrasi di bumi Pamahanu-Nusa itu.
Ada tujuh isu utama yang menjadi fokus pembahasan FGD, yakni sejarah pengembangan kawasan transmigrasi, mekanisme pelepasan kawasan hutan, batas administratif, percetakan sawah, kelembagaan masyarakat, serta arah kebijakan pembangunan daerah.
Seluruh data eksisting tersebut akan dirumuskan menjadi rekomendasi lintas sektor sebagai dasar kebijakan pembangunan berkelanjutan kawasan Sapalewa.
Menurut, Tim 1 ekspedisi Patriot ITB, Acep Purqon menyebut tim menemukan potensi besar yang dapat dikembangkan di wilayah ini. Selain tanah yang subur dan kaya biodiversitas karena berdekatan dengan Taman Nasional Manusela, kawasan Sapalewa juga menyimpan berbagai komoditas unggulan seperti rempah-rempah dan tanaman pangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Kawasan ini bisa menjadi contoh pengembangan berbasis kawasan, bukan sekadar komoditas. Dengan pendekatan tepat dan teknologi pasca panen yang baik, Sapalewa dapat tumbuh sebagai pusat ekonomi baru,” jelasnya.
Acep juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas SDM lokal, terutama generasi kedua transmigran, melalui program pendidikan dan pelatihan di daerah 3T.
“Sekolah, buku dan bahasa adalah alat pemersatu bangsa. Kita perlu menanamkan enabler untuk daerah-daerah terpencil seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam pesannya kepada tim ekspedisi menyebutkan Sapalewa merupakan salah satu dari 154 lokus nasional ekspedisi patriot transmigrasi yang menjadi perhatian kementerian.
Ia berharap hasil rekomendasi tim dapat segera diimplementasikan melalui kerja sama lintas sektor dan semangat gotong-royong seluruh pemangku kepentingan. (S-17)