Pembaca yang terhormat, dalam bingkai kesehatan hutan, maka hutan yang sehat dan lestari dipahami sebagai sistem kehidupan yang dinamis (selalu berubah), kompleks (berinteraksi banyak komponen), adaptif (merespons perubahan), dan berkelanjutan (dapat bertahan lintas generasi) (6).
Dengan cara pandang ini, kebijakan, pengelolaan,serta penelitian tidak hanya berfokus pada produktivitas hutan semata namun sudah waktunya mengarahkan fokus dan penentu arah kebijakan Pembangunan di Maluku baik yang digaungkan oleh dunia perguruan tinggi maupun pemerintah kabupaten/kota se-Maluku yakni pada paradigma kesehatan hutan dan vitalitas ekosistem hutan jangka Panjang.
Konsep “Hutan Lestari dalam Bingkai Kesehatan Hutan” menegaskan bahwa hutan yang sehat adalah syarat mutlak bagi keberlanjutan dimana keberlanjutan tidak akan mungkin dicapai tanpa memahami, memantau, dan mendiagnosa kesehatan hutan. Hutan adalah sistem hidup yang memerlukan pendekatan kesehatan ekosistem, bukan sekadar evaluasi tutupan lahan. Diagnosa kesehatan harus menjadi standar dalam pengelolaan hutan modern. Dengan kerangka ini, konservasi, pemanfaatan, dan pemulihan hutan akan menjadi lebih terarah, ilmiah, dan efektif.
Dalam pandangan saya, selama ini pengelolaan hutan lebih banyak bertumpu pada monitoring secara konvensional dengan menghitung luas tutupan lahan, mencatat jumlah pohon, atau memetakan area hutan yang rusak, tentu ini penting. Namun kita membutuhkan pendekatan yang lebih dalam, lebih presisi, dan lebih bersifat early warning system sehingga disinilah upaya diagnosa kesehatan ekosistem hutan menjadi kunci. Diagnosa kesehatan ekosistem tidak hanya menilai kondisi fisik, tetapi juga menilai fungsi ekologis hutan, memahami tingkat stres ekosistem, mengukur resiliensi terhadap perubahan iklim,mendeteksi kerusakan sejak dini, memetakan ancaman nyata maupun potensial, serta merumuskan tindakan pemulihan yang tepat sasaran (11).
Pembaca yang terhormat, dengan pendekatan diagnosa, kita tidak hanya mengetahui hutan itu rusak, namun juga mengetahui mengapa hutan menjadi rusak, seberapa besar tingkat kerusakannya, dan bagaimana tindakan yang paling efektif untuk memulihkannya. Bagi pulau-pulau kecil, kesalahan dalam pengelolaan hutan memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar dibandingkan daratan besar. Pulau kecil memiliki daya dukung terbatas, rentan terhadap perubahan iklim, memiliki keterbatasan air tanah, terpapar langsung oleh abrasi dan kenaikan muka laut,dan sangat tergantung pada keseimbangan ekosistem pesisir. (11) Pembaca yang terhormat, dengan demikian maka, ketidak-sehatan hutan tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga ekonomi, budaya, dan keberlanjutan hidup masyarakat.
Oleh karena itu, transformasi dari monitoring menuju diagnosa yang komprehensif merupakan kebutuhan mendesak dalam menilai Kesehatan ekosistem hutan pada pulau – pulau kecil di Maluku. Kesehatan ekosistem adalah prasyarat bagi keberlanjutan jangka Panjang, tanpa kesehatan ekologis, fungsi-fungsi hutan seperti penyimpanan karbon, perlindungan keanekaragaman hayati, penyangga pesisir, dan penyediaan jasa ekosistem tidak dapat dipertahankan.
Oleh karena nya saya mengusulkan beberapa pendekatan diagnostik yang dapat memberikan beberapa manfaat strategis antara lain a) Informasi Ilmiah yang lebih presisi untuk kebijakan dimana data kesehatan ekosistem mendukung pengambilan keputusan berbasis sains, b) Efektivitas Pengelolaan Berbasis Risiko dimana kerusakan dapat diatasi sebelum berkembang menjadi degradasiyang sulit dipulihkan, c) Penguatan adaptasi terhadap perubahan Iklim Pulau-pulau kecil, kawasan pesisir, dan hutan mangrove yang sangat rentan terhadap kenaikan muka laut, badai, perubahan pola curah hujan sehingga dengan diagnosa kesehatan ekosistem memungkinkan penguatan kapasitas adaptif sejak dini, d) Mendukung Kolaborasi Multidisiplin untuk menghubungkan ekologi,kehutanan, klimatologi, data spasial, teknologi drone, serta ilmu sosial dalam sebuah sistem terpadu (7)(10)
Pembaca yang terhormat, , jika kita ingin mencapai hutan yang lestari pada pulau-pulau kecil di Maluku, maka beberapa hal yang saya usulkan untuk segera mengalami transformasi diantaranya :
1. Mengubah cara pandang dari sekadar memonitor tutupan lahan menjadi pemahaman
kesehatan ekosistem hutan secara komprehensif
2. Membangun kolaborasi antara akademisi, pemerintah, gereja, pemuda, LSM,
OKP,perempuan, dan masyarakat lokal/adat setempat
3. Mengembangkan kebijakan berbasis sains dan kearifan lokal.
4. Mengintegrasikan konsep konservasi hutan dengan ekonomi hijau.
5. Menjadikan diagnosa kesehatan ekosistem sebagai standar pengelolaan hutan.(11)
Dengan ke 5 langkah ini, kita bukan hanya menjaga hutan, tetapi menjaga masa depan generasi
pada pulau-pulau kecil di Maluku.
6. Komitmen Moral Terhadap Upaya Pelestarian Hutan di Maluku
Pembaca yang terhormat, Arah pengembangan konsep kesehatan ekosistem hutan di pulau kecil Maluku bukan hanya agenda teknis, tetapi agenda moral. Kita bertanggung jawab menjaga tanah, laut, dan hutan sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Hutan yang sehat akan melahirkan pulau kecil yang tangguh, Lestari dan akan melahirkan Maluku yang kuat secara ekologis, ekonomi, dan budaya. Keberlanjutan hutan bukan sekadar konsep ekologis, tetapi juga komitmen moral, sosial, dan akademik.
Dengan berpindah dari monitoring konvensional menuju diagnosa kesehatan ekosistem, kita menegaskan bahwa pengelolaan hutan pada pulau – pulau kecil haruslah secara ilmiah,akurat,proaktif, berbasis resiliensi, dan berorientasi jangka panjang. Marilah kita menjadikan pendekatan diagnostik ini sebagai standar baru dalam kajian kehutanan Indonesia secara luas, terutama di Maluku sehingga kawasan hutan di Maluku tetap sehat, produktif, dan lestari untuk generasi sekarang maupun yang akan datang.
Penulis mengingatkan semua orang Maluku untuk bersama menjaga kesehatan ekosistem hutan pada pulau-pulau kecil karena hal ini bukan sekadar tugas pemerintah atau lembaga konservasi, melainkan tanggung jawab kolektif semua orang Maluku dengan mengedepankan sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan sektor swasta, kita dapat memastikan bahwa kekayaan alam yang tak ternilai ini dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang, sembari tetap menjaga keseimbangan ekologis.
Mari kita bekerja bersama untuk memastikan hutan pada pulau-pulau kecil di Maluku tetap hidup, tetap sehat, dan tetap menjadi sumber kehidupan bagi manusia Maluku.
Hadirin Yang Saya Hormati, upaya Bersama ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan Maluku yang berkelanjutan. Transformasi pengelolaan hutan dari monitoring menuju diagnosa kesehatan ekosistem bukan lagi pilihan, tetapi sebuah nilai yang harus dilaksanakan di Maluku, untuk pulau-pulau kecil, dan untuk keberlanjutan kehidupan semua mahkluk hidup.
Mari kita bergerak bersama, menjaga hutan, merawat pulau, dan mewariskan bumi yang lebih sehat bagi generasi mendatang.
Daftar Pustaka
1. Senoaji, G. dan Hidayat, M.F. 2016. Peranan Ekosistem Mangrove Di Pesisir Kota Bengkulu Dalam Mitigasi Pemanasan Global Melalui Penyimpanan Karbon.," J. Manusia dan Lingkungan, , vol. 23, no. 3, pp. 327-333..
2. R. S. R. d. I. D. Sari, 2019. Biodiversitas Fauna Sebagai Salah Satu Indikator Kesehatan Hutan Mangrove.," Parenial, vol. 15(2): , no. 2, pp. 62-69.
3. E. P. ODUM,1993. "Fundamentals of ecology," Dasar-dasar ekologi / Eugene P. Odum ; penerjemah, Tjahjono Samingan ; penyunting, B. Srigandono, Vols. 979-420-284-3, no. 631- 676, pp. xv, 697 hlm. : ilus. ; 21 cm.,
4. Walter Seidling,2019. Forest monitoring: Substantiating cause-effect relationships. Science of The Total Environment Volume 687, 15 October 2019, Pages 610-617
5. N. Brown et al. 2018.Predisposition of forests to biotic disturbances: predicting the distribution of acute oak decline using environmental factors, For. Ecol. Management
6. Forest health assessment using advanced geospatial technology in Buxa reserve forest, sub- Himalayan West Bengal, India. 2021, Forest Resources Resilience and Conflicts. Pages 49- 61. Remote Sens. Environ.
7. Safe’i, R. & Tsani, M.K. (2016). Kesehatan Hutan. Yogyakarta: Plantaxia.
8. Safe’i, R., Erly, H., Wulandari, C. & Kaskoyo, H. (2018). Analisis keanekaragaman jenis pohon sebagai salah satu indikator kesehatan hutan konservasi. Jurnal Perennial, 14(2), 32-36.
9. F Latumahina, M Musyafa, S Sumardi, NS Putra. Respon semut terhadap kerusakan antropogenik dalam hutan lindung sirimau ambon (Ants Response to Damage Anthropogenic in Sirimau Forest Ambon). Jurnal Manusia dan Lingkungan 22 (2), 169-178
10. Fransina Latumahina, dkk.2024. Pengelolaan Hutan Di Pulau-Pulau Kecil. CV WIDINA MEDIA UTAMA
11. Fransina Latumahina,dkk. 2025. Perlindungan Hutan Mangrove Dalam Menghadapi Dampak Perubahan Iklim. Penerbit Widina
12. Fransina Latumahina, etc. 2024. International Journal on Advanced Science, Engineering and Information TechnologyISSN: 20885334 Volume: 4 Issue: Pages: 2031 – 2038
13. Susilawati, etc. 2025. Vegetation Health in Coffee Agroforestry: An Ecological Approach in Tiwingan Baru Village International Journal on Advanced Science, Engineering and Information TechnologyISSN: 20885334Volume: 15Issue: 5Pages: 1528 – 1536.
14. Abimanyu, B., Safe’i, R., and Wahyu, H., 2018. Analisis kerusakan pohon di hutan kota stadion Kota Metro Provinsi Lampung. Jurnal Hutan Pulau-Pulau Kecil, 3(1), pp. 112. Oleh : Prof.Dr. Ir. Fransina.S. Latumahina,S. Hut.M.P.IPU. ASEAN Eng (Guru Besar Bidang Perlindungan dan Kesehatan Hutan Unpati Ambon/ Sekretaris DPD GAMKI Maluku/Ketua Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Region Maluku (APIKI).(*)