AMBON, Siwalima.id - Konflik internal antara SD Inpres 24 dengan SD Inpres 39 Skip, Kota Ambon sampai saat ini belum usai.
Kedua sekolah dalam satu atap ini saling klem memiliki hak penuh atas bangunan yang dikuasai dan sudah berlangsung sejak lama.
Hal ini kemudian membuat DPRD mendesak agar pemerintah kota segera menyelesaikan konflik internal di semua sekolah satu atap termasuk SD Inpres 24 dan SD Inpres 39 Skip.
Walikota Ambon, Bodewin Wattimena yang dikonfirmasi Siwalima kemarin, terkait konflik internal dua sekolah tersebut mengaku belum mendapat laporan resmi dari Dinas Pendidikan.
“Soal teknis nanti tanya langsung kepada Kepala Dinas Pendidikan saja. Saya belum dilaporkan soal masalah yang terjadi di SD Inpres 24 dan 39. Tunggu mereka lapor dulu baru saya tahu masalahnya,” jelas walikota.
Menurutnya, setiap persoalan teknis di lingkup satuan pendidikan harus terlebih dahulu dilaporkan oleh dinas sebelum sampai ke kepala daerah.
“Walikota ini bukan robot yang semua hal dia tahu. Nanti dari dinas lapor dulu baru saya tahu itu kenapa. Tanya langsung ke kadis saja,” pintanya.
Juga Tidak Tahu
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon Ferdinand Tasso yang dikonfirmasi Siwalima mengaku tidak tahu masalah internal di dua sekolah tersebut.
Ia menyebut kedua sekolah tersebut berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan dan penyelesaiannya dilakukan secara internal.
Pihaknya juga tidak ingin menggunakan pendekatan otoriter dalam menyikapi persoalan tersebut.
“Ini kan sekolah di bawah dinas, kita yang diselesaikan internal. Bukan pendekatan otoriter, tetapi bagaimana kita mengecek dulu persoalan yang sebenarnya,” ujarnya.
Ia mengaku hingga kini pihaknya belum memperoleh informasi lengkap terkait akar permasalahan yang terjadi. “Kita belum dapat informasi apa latar belakang masalah sebenarnya. Jadi kalau sekarang belum ada solusi untuk ambil keputusan,” jelasnya.
Menurutnya, langkah yang akan dilakukan adalah memanggil kepala sekolah serta pengawas dari kedua sekolah untuk mengetahui pokok persoalan secara menyeluruh.
“Saya baru dapat informasi dan tahu hari ini. Saya langsung cek kepala sekolah dan tanya ada masalah apa. Saya juga panggil pengawas dua sekolah ini untuk mengetahui masalah utamanya apa. Kuncinya disitu,” katanya.
Ia menambahkan, setelah pertemuan internal dilakukan dan pokok persoalan teridentifikasi, barulah dinas dapat mengambil langkah perbaikan yang tepat.
“Saya juga menyampaikan terima kasih kepada DPRD Kota Ambon, khususnya komisi II, yang telah melakukan mediasi dan turun langsung meninjau persoalan tersebut.
“Kami berterima kasih kepada DPRD, dalam hal ini Komisi II, yang sudah memediasi dan mengecek langsung di lapangan. Jika ada hal-hal lain yang perlu ditindaklanjuti, dinas akan cek lebih detail bersama pengawas,” tutupnya.
Minta Dinas Turun Tangan
Sebelumnya diberitakan, polemik pemanfaatan sarana dan prasarana berupa ruang kelas antara SD Inpres 24 dan SD 39 di kawasan Skip belum juga usai.
Hal ini kemudian membuat DPRD Kota Ambon berharap agar Dinas Pendidikan segera mengambil langkah menyelesaikan masalah tersebut.
“Komisi II minta Dinas Pendidikan turun tangan mengatasi,” pinta anggota Komisi II DPRD Kota Ambon Christianto Laturiuw kepada wartawan di Baileo Rakyat Belakang Soya, Senin (23/2).
Menurutnya, pasca mendapat laporan, komisi II langsung melakukan On the Spot ke bangunan yang ditempati dua sekolah tersebut.
Dalam On the Spot, komisi menemukan ada perseteruan dua sekolah tersebut terkait penggunaan ruang kelas.
“Kita sudah bertemu dengan pihak SD 24, sementara untuk SD 39 belum, sehingga kita perlu kehadiran Dinas Pendidikan untuk bagaimana menyelesaikan persoalan ini lewat pengaturan pengaturan dan pemanfaatan bersama,” jelas Laturiuw.
Dikatakan, persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebelah mata lantaran berpengaruh pada ruang gerak aktivitas belajar mengajar.
Sebenarnya bisa dibicarakan secara baik-baik, namun masih ada yang saling klaim, sehingga harus ada kebijakan sebagai jalan keluar.
“Perseteruan-perseteruan model seperti itu punya dampak yang yang kurang bagus untuk anak-anak pun juga dengan orang tua siswanya,” katanya.(Mg-1)