AMBON, Siwalima.id - SMA Kristen Amahai resmi menggandeng Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Solo, Jawa Tengah membangun Sitanala Learning Center (SLC) di Kota Masohi.
Kolaborasi lintas fakultas ini menjadi langkah strategis sekolah dalam mempercepat transformasi digital, penguatan sains, kewirausahaan, hingga pembaruan kurikulum teologi.
Kepala SMA Kristen Amahai, Pendeta Fredrik Hallatu melalui rilis yang diterima Siwalima, Sabtu (28/2) mengaku kerja sama ini, bukan sekadar seremoni melainkan gerakan perubahan menyeluruh.
“Kami tidak sedang membangun proyek jangka pendek. Ini adalah lompatan besar untuk masa depan pendidikan Maluku Tengah,” tegas Hallatu.
Kerja sama tersebut merupakan jawaban atas mandat Gereja Protestan Maluku (GPM) untuk menghadirkan SLC Masohi sebagai pusat mutu pendidikan yang kontekstual, unggul dan berakar pada nilai-nilai gereja.
Sekolah ini diproyeksikan menjadi kontribusi nyata menyongsong 1 Abad GPM di tahun 2035 dan Indonesia Emas 2045.
Kedua pihak telah melakukan penandatangan perjanjian kerja sama pada 9 September 2025 yang melibatkan 4 fakultas unggulan di UKSW.
Dari sisi teknologi, Fakultas Teknologi Informasi UKSW mendampingi digitalisasi manajemen sekolah. Sistem administrasi, pengelolaan data, hingga tata kelola akademik diarahkan berbasis digital. Bahkan, pengajaran coding dan AI mulai diperkenalkan kepada siswa.
Pendampingan awal dilakukan pada 27 Februari 2026 oleh tim dosen FTI dalam penjajakan kesiapan sistem digital sekolah.
“Kami ingin siswa Amahai tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi pencipta dan pengembang solusi digital,” ujar Hallatu.
Sementara itu, Fakultas Sains dan Matematika (FSM) UKSW fokus memperkuat literasi, numerasi, serta budaya riset. Guru dan siswa akan mendapatkan bimbingan khusus dalam penyusunan penelitian ilmiah.
Menurutnya penguatan sains ini merupakan upaya menghidupkan kembali “Roh Sitanala” Etos intelektual dan semangat riset yang diwariskan Dr. J. B. Sitanala.
“Kami ingin melahirkan ilmuwan-ilmuwan muda dari Timur yang mampu menjawab persoalan nyata dengan metodologi ilmiah yang kokoh,” katanya.
Di bidang ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UKSW membina pengembangan kewirausahaan siswa. Sekolah diarahkan menjadi laboratorium entrepreneurial, tempat peserta didik ditempa menjadi pelaku ekonomi kreatif.
“Anak-anak Maluku Tengah tidak boleh hanya menjadi penonton di era ekonomi digital. Mereka harus menjadi pemain,” tegasnya.
Langkah mendasar lainnya dilakukan melalui kerja sama dengan Fakultas Teologi UKSW. Kurikulum Pendidikan Agama Kristen (PAK) akan dikembangkan agar lebih kontekstual dan transformatif.
GPM menghendaki agar pendidikan agama tidak berhenti pada aspek doktrinal, tetapi mampu menjawab tantangan sosial, budaya dan perkembangan zaman.
Pendampingan transformasi pembelajaran diperkuat oleh Ilona Kakerissa dari tim pendiri Teach First Indonesia. Sejak 10 Januari, pendampingan dilakukan secara daring dan diperkuat melalui In-House Training (IHT) pada 16–18 Februari.
Melalui pendekatan “Bacarita Orang Sudara”, pembelajaran diarahkan menjadi lebih berpusat pada murid dan berbasis kompetensi. Guru dilatih menyusun Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) yang mengkontekstualisasikan kurikulum nasional dengan potensi lokal dan nilai sosiokultural GPM.
“Kami ingin ruang kelas menjadi ruang dialog, bukan sekadar ruang ceramah,” jelas Hallatu.
Pendidikan Berbasis Konteks
Hallatu juga menjelaskan SMAS Kristen Amahai kini mengusung paradigma pendidikan berbasis konteks.
“Kami tidak sekedar mengejar tren nasional yang sering terasa jauh dari realitas Maluku, khususnya masyarakat Seram. Konteks lokal adalah jantung pendidikan kami,” ujarnya.
Ia menegaskan, sekolah tidak sedang mendidik siswa untuk menjadi “tamu di negeri sendiri”. “Kami membentuk pemimpin yang kakinya tertanam kuat di tanah Maluku, namun suaranya bergema di panggung dunia,” tandasnya.(S-26)