SIWALIMA.id > Berita
Benteng Nieuw Victoria Simbol Budaya Maluku
Visi | Selasa, 21 Oktober 2025 pukul 22:34 WIT

BENTENG Nieuw Victoria adalah salah satu situs bersejarah di Kota Ambon, Maluku, yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1575 dengan nama “Nossa Senhora de Anunciada”. Kemudian, benteng ini direbut oleh Belanda pada tahun 1605 dan berganti nama menjadi Fort Victoria. Nama ini diambil untuk memperingati kemenangan Belanda atas Portugis.

Benteng Victoria memiliki nilai sejarah tinggi dan menjadi simbol peradaban Kota Ambon. Di dalamnya terdapat meriam raksasa, patung berukir kayu, peta perkembangan kota Ambon, dan koleksi lukisan administrator Belanda. Selain itu, benteng ini juga digunakan sebagai tempat pertahanan dan pusat pemerintahan kolonial Belanda.

Pada tahun 2017, Benteng Victoria ditetapkan sebagai salah satu situs warisan budaya nasional Indonesia. Saat ini, benteng ini menjadi objek wisata sejarah dan pusat kegiatan kebudayaan di Kota Ambon.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di Benteng Victoria antara lain:

Mengunjungi Museum,  Menjelajahi ruangan-ruangan bersejarah dan melihat koleksi artefak dan peninggalan sejarah, Menikmati pemandangan indah Teluk Ambon dari atas benteng, Menghadiri Acara Budaya  yang diselenggarakan di benteng ini, seperti Festival Benteng Victoria.

Festival Benteng Victoria sendiri telah diselenggarakan pada tanggal 17-18 Oktober 2025, dengan tema “Maju Berbudaya, Mendayung Harmoni Nusantara”.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menyebut Maluku dan Kota Ambon memiliki modal besar berupa sejarah panjang dan kekayaan budaya yang menjadi identitas dan karakter masyarakatnya. Kebudayaan merupakan fondasi utama bagi kemajuan suatu bangsa dan daerah.

Tidak ada bangsa yang besar di muka bumi ini tanpa peradaban dan kebudayaan yang kuat. Tidak ada kota yang maju tanpa budaya yang mempersatukan warganya.

Bima mengaku terkesan dengan keindahan alam Maluku dan keragaman budayanya yang mempesona.

Ada kota yang indah alamnya, ada yang kaya sumber daya, dan ada yang punya sejarah luar biasa. Maluku dan Ambon adalah daerah yang modal utamanya justru sejarah dan kebudayaan.

Ambon tidak hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga karakter kuat yang terbentuk dari nilai-nilai budaya dan tradisi turun-temurun.

Langkah Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kota Ambon, dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX dalam menggelar festival ini serta rencana revitalisasi Benteng Nieuw Victoria sebagai pusat sejarah dan kebudayaan.

Pelaksanaan Festival Benteng Victoria 2025 menjadi semakin bermakna karena bertepatan dengan dua peringatan penting yakni Hari Kebudayaan Nasional yang pertama kali dirayakan, dan hari ulang tahun Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Wakil Menteri juga berharap festival ini dapat menjadi agenda tahunan yang lebih meriah dan mampu menarik wisatawan dalam negeri maupun mancanegara, sehingga berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat Maluku.

Semoga tahun depan lebih ramai dan lebih banyak wisatawan datang. Ujung-ujungnya, semua ini demi kesejahteraan warga Maluku dan Ambon.

Festival Benteng Victoria 2025 menyebut, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya melestarikan nilai-nilai budaya lokal sekaligus memperingati Hari Kebudayaan Nasional yang untuk pertama kalinya ditetapkan pemerintah pada 17 Oktober.

Festival ini bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga momentum memperkuat jati diri bangsa dan mempertegas posisi Ambon sebagai rumah bagi semua orang,” ujarnya.

Kegiatan ini selaras dengan gagasan “Ambon for Samua”, yakni konsep menjadikan Ambon sebagai kota inklusif dan ramah bagi semua kalangan.

Pelaksanaan festival juga mendukung program pemerintah dalam memanfaatkan dan merevitalisasi Benteng Nieuw Victoria sebagai pusat kebudayaan dan sejarah di Kota Ambon.

Festival ini menampilkan beragam kegiatan, antara lain: Parade Budaya yang diikuti 13 paguyuban Maluku dan Nusantara serta 12 sanggar dan komunitas budaya, yang berlangsung pada Jumat siang; Talkshow Kebudayaan bertema Melestarikan Budaya Maluku dalam Dunia Kebinekaan, menghadirkan para tokoh dan pemerhati budaya,  Pameran Kebudayaan yang diikuti 15 lembaga kebudayaan perwakilan dari berbagai daerah di Indonesia; Permainan Tradisional yang menghadirkan kembali permainan rakyat Maluku yang hampir punah; Bazaar UMKM, diikuti 34 pelaku usaha lokal yang menampilkan produk kerajinan, kuliner, dan cenderamata khas Maluku; dan Pagelaran Seni dan Musik Tradisional, menampilkan 10 kelompok sanggar binaan BPK Wilayah XX.

Benteng Victoria ingin kembali menjadi pusat pelajar budaya dan ruang kolaborasi kreatif masyarakat Ambon.

Festival ini juga menjadi ajang apresiasi terhadap Kota Ambon yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Kota Kreatif Berbasis Musik dan dikenal sebagai Waterfront City yang kaya nilai sejarah dan budaya.

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa juga menyebut, kegiatan ini sebagai momentum penting untuk memperkuat identitas budaya dan semangat pembangunan berkelanjutan di Maluku.

Benteng Nieuw Victoria memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi masyarakat Maluku. Benteng yang menjadi saksi perjalanan panjang Kota Ambon ini diharapkan dapat kembali difungsikan sebagai pusat kegiatan kebudayaan, pendidikan, dan pariwisata.

Benteng Victoria bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi juga warisan budaya yang menjadi bagian dari identitas kita sebagai orang Maluku. Kegiatan festival ini sangat penting karena mendukung perayaan Hari Kebudayaan Nasional yang baru pertama kali dilaksanakan sejak Kementerian Kebudayaan berdiri sendiri.

Tema kegiatan ini,  menggambarkan semangat masyarakat kepulauan dalam menghadapi tantangan zaman dengan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya.

Kebudayaan yang kita miliki saat ini adalah pedoman dan identitas orang Maluku yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Karakter dan semangat thoma harus menjadi roh dalam membangun daerah.

Kekayaan budaya yang lahir dari karakter kepulauan adalah anugerah yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat daya saing daerah. Pemerintah Provinsi Maluku, katanya, berkomitmen menjadikan kebudayaan sebagai landasan utama pembangunan manusia Maluku yang berkarakter, kreatif, dan berdaya saing global.

Kita harus menjadikan budaya bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan dalam membangun Maluku yang maju dan berkeadaban. (*)

BERITA TERKAIT